Siang di Selandia Baru 11 Jam di Islandia 16 Jam, Bagaimana Ketentuan Waktu Puasanya?
Rabu, 06 April 2022 - 16:18 WIB
loading...
A
A
A
Lalu bagaimana dengan penduduk belahan dunia di mana pembagian siang dan malam cenderung ekstrem. Artinya adakalanya siang terlalu lama atau malam terlalu lama. Patokan apa yang mesti digunakan? Hal ini juga berlaku untuk waktu sholat.
Tidak Lazim
Laman resmi Nahdlatul Ulama (NU) dalam kasus ini melansir, ilhaq sebagai suatu mekanisme pengambilan keputusan hukum di dalam bahtsul masail NU menemukan kontekstualisasinya. Ilhaqul masa'il bi nazha’iriha ialah upaya mengidentifikasi suatu kasus baru yang sudah dimaklum kepada furu’ yang sudah ditetapkan para ulama.
Baca juga: Membersihkan Telinga Saat Puasa Ramadhan, Batalkah?
Dengan metode ilhaq, bisa dibilang penduduk belahan dunia tertentu yang siang atau malamnya terlalu lama, tidak menggunakan peredaran terbit atau terbenamnya matahari sebagai penanda waktu puasa atau sembahyang.
Mereka bisa mengambil perhitungan waktu imsak dan berbuka puasa dari jadwal negara terdekat yang memiliki durasi siang dan malamnya cenderung berimbang atau kurang lebih berimbang.
Dengan kata lain, mereka tetap bisa berpuasa dan berbuka puasa meskipun matahari masih memancar, belum tenggelam. Dengan pilihan seperti ini, mereka tetap bisa beribadah dan beraktivitas tanpa terganggu dengan peredaran matahari.
Pilihan ini bisa menjadi alternatif di tengah perintah Al-Quran untuk puasa dan sembahyang tanpa menimbulkan kemudharatan terhadap mereka yang mengamalkannya. Allah sendiri tidak menghendaki kesulitan bagi umat-Nya sebagai mana difirmankan.
Allah menghendaki kemudahan untukmu. Allah tidak menghendaki kesulitan bagimu. (QS Al-Baqarah : 185)
Singkat kata, pilihan ini menujukkan kelenturan hukum Islam dengan tetap menjaga norma-norma umumnya. Sesuai dengan kaidah Fiqih, turun ke realitas yang lebih rendah dimungkinkan ketika udzur mewujudkan idealitas yang lebih tinggi. Wallahu a’lam.
Tidak Lazim
Laman resmi Nahdlatul Ulama (NU) dalam kasus ini melansir, ilhaq sebagai suatu mekanisme pengambilan keputusan hukum di dalam bahtsul masail NU menemukan kontekstualisasinya. Ilhaqul masa'il bi nazha’iriha ialah upaya mengidentifikasi suatu kasus baru yang sudah dimaklum kepada furu’ yang sudah ditetapkan para ulama.
Baca juga: Membersihkan Telinga Saat Puasa Ramadhan, Batalkah?
Dengan metode ilhaq, bisa dibilang penduduk belahan dunia tertentu yang siang atau malamnya terlalu lama, tidak menggunakan peredaran terbit atau terbenamnya matahari sebagai penanda waktu puasa atau sembahyang.
Mereka bisa mengambil perhitungan waktu imsak dan berbuka puasa dari jadwal negara terdekat yang memiliki durasi siang dan malamnya cenderung berimbang atau kurang lebih berimbang.
Dengan kata lain, mereka tetap bisa berpuasa dan berbuka puasa meskipun matahari masih memancar, belum tenggelam. Dengan pilihan seperti ini, mereka tetap bisa beribadah dan beraktivitas tanpa terganggu dengan peredaran matahari.
Pilihan ini bisa menjadi alternatif di tengah perintah Al-Quran untuk puasa dan sembahyang tanpa menimbulkan kemudharatan terhadap mereka yang mengamalkannya. Allah sendiri tidak menghendaki kesulitan bagi umat-Nya sebagai mana difirmankan.
يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر
Allah menghendaki kemudahan untukmu. Allah tidak menghendaki kesulitan bagimu. (QS Al-Baqarah : 185)
Singkat kata, pilihan ini menujukkan kelenturan hukum Islam dengan tetap menjaga norma-norma umumnya. Sesuai dengan kaidah Fiqih, turun ke realitas yang lebih rendah dimungkinkan ketika udzur mewujudkan idealitas yang lebih tinggi. Wallahu a’lam.
Lihat Juga :