Uniknya Islam: Mengajarkan Tauhid Namun Merangkul Keberagaman
Jum'at, 13 Mei 2022 - 16:47 WIB
loading...
A
A
A
Dengan demikian apapun keyakinan atau agama seseorang, terlepas dari pemahaman partikular keagamaannya, memiliki ikatan dengan spiritulitas yang bersifat universal tadi. Sehingga perbedaan agama-agama tidak seharusnya menjadikan manusia saling terpecah, apalagi saling memusuhi dan berperang.
Masalah kebenaran pada masing-masing agama yang bersifat partikular (unik/khas) itu menjadi hak masing-masing pemeluk agama. Dalam bahasa agama Islam: "Lakum diinukum wa liya diin" (bagimu agamamu dan bagiku agamaku).
Pada tataran ini masing-masing pemeluk agama meyakini agamanya sebagai kebenaran. Tapi keyakinan ini tidak menafikan adanya aspek universal (spiritualitas) tadi. Sehingga keyakinan kebenaran pada masing-masing agama tidak harus menjadi alasan untuk saling berpecah, apalagi bermusuhan dan berperang.
Di sinilah keunikan Islam. Di satu sisi mengajarkan kebenaran mutlak itu (Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam). Tapi pada saat yang sama merangkul keberagaman (tidak menafikan adanya yang lain). Bahwa secara partikular (khusus) Islam adalah kebenaran. Tapi merujuk kepada common ground tadi (insaniat atau spiritulitas) manusia bisa bersama-sama membangun dunia ini menjadi kediaman yang indah untuk semua manusia.
Itulah salah satu poin yang saya sampaikan pada pertemuan tahunan interfaith kemarin malam di Florida yang dihadiri oleh tokoh-tokoh agama, akademisi, dan beberapa pejabat pemerintahan setempat.
Tak lupa di awal presentasi saya menyampaikan candaan bahwa saya adalah "a proud New Yorker". Kebanggaan saya sebagai orang New York karena kenyataan bahwa New York adalah "a bridges city" (kota jembatan). Ketika ada yang berusaha membangun dinding (walls) warga New York justeru membangun jembatan. Dan mereka yang membangun dinding tidak akan betah tinggal di Kota New York.
Candaan ini sebenarnya sindiran saya kepada Donald Trump yang tidak saja memang membangun dinding di perbatasan US-Meksiko. Tapi sikapnya yang menjadikan warga Amerika terpolarisasikan. Perpecahan warga berdasarkan ras dan warna kulit, hingga ke pemeluk agama-agama sangat terasa.
Awalnya saya khawatir jika masyarakat Florida banyak pendukung Trump. Ternyata yang hadir nampak menikmati sindiran itu. Mereka pun tertawa, paham dengan maksud saya.
Baca Juga: Ramadhan dan Restorasi Kehidupan: Harus Melahirkan Akhlak yang Baik
Masalah kebenaran pada masing-masing agama yang bersifat partikular (unik/khas) itu menjadi hak masing-masing pemeluk agama. Dalam bahasa agama Islam: "Lakum diinukum wa liya diin" (bagimu agamamu dan bagiku agamaku).
Pada tataran ini masing-masing pemeluk agama meyakini agamanya sebagai kebenaran. Tapi keyakinan ini tidak menafikan adanya aspek universal (spiritualitas) tadi. Sehingga keyakinan kebenaran pada masing-masing agama tidak harus menjadi alasan untuk saling berpecah, apalagi bermusuhan dan berperang.
Di sinilah keunikan Islam. Di satu sisi mengajarkan kebenaran mutlak itu (Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam). Tapi pada saat yang sama merangkul keberagaman (tidak menafikan adanya yang lain). Bahwa secara partikular (khusus) Islam adalah kebenaran. Tapi merujuk kepada common ground tadi (insaniat atau spiritulitas) manusia bisa bersama-sama membangun dunia ini menjadi kediaman yang indah untuk semua manusia.
Itulah salah satu poin yang saya sampaikan pada pertemuan tahunan interfaith kemarin malam di Florida yang dihadiri oleh tokoh-tokoh agama, akademisi, dan beberapa pejabat pemerintahan setempat.
Tak lupa di awal presentasi saya menyampaikan candaan bahwa saya adalah "a proud New Yorker". Kebanggaan saya sebagai orang New York karena kenyataan bahwa New York adalah "a bridges city" (kota jembatan). Ketika ada yang berusaha membangun dinding (walls) warga New York justeru membangun jembatan. Dan mereka yang membangun dinding tidak akan betah tinggal di Kota New York.
Candaan ini sebenarnya sindiran saya kepada Donald Trump yang tidak saja memang membangun dinding di perbatasan US-Meksiko. Tapi sikapnya yang menjadikan warga Amerika terpolarisasikan. Perpecahan warga berdasarkan ras dan warna kulit, hingga ke pemeluk agama-agama sangat terasa.
Awalnya saya khawatir jika masyarakat Florida banyak pendukung Trump. Ternyata yang hadir nampak menikmati sindiran itu. Mereka pun tertawa, paham dengan maksud saya.
Baca Juga: Ramadhan dan Restorasi Kehidupan: Harus Melahirkan Akhlak yang Baik
(rhs)
Lihat Juga :