Kisah Pilu di Akhir Syawal, Rasulullah SAW Berduka Ketika Putranya Ibrahim Wafat
Sabtu, 21 Mei 2022 - 17:46 WIB
loading...
A
A
A
Bila beliau sudah sampai ke tempat itu di samping 'Alia - tempat Masyraba yang sekarang - dijumpainya Ibrahim dalam pangkuan ibunya, sedang menarik napas terakhir.
Diambilnya anak itu, lalu diletakkannya di pangkuannya dengan hati yang remuk-redam rasanya. Tangannya menggigil. Kalbu yang duka dan pilu rasa mencekam seluruh sanubari.
Baca juga: Puasa Syawal Baik untuk Kesehatan Pencernaan
Lukisan hati yang sedih mulai membayang dalam raut wajahnya. Sambil meletakkan anak itu di pangkuan ia berkata: "Ibrahim, kami tak dapat menolongmu dari kehendak Allah SWT."
Dalam keadaan hening yang menekan itu kemudian airmatanya berderai bercucuran, sementara anak itu sedang menarik napas terakhir. Sang ibu dan Sirin menangis menjerit-jerit; oleh Rasulullah dibiarkan mereka begitu.
Setelah tubuh Ibrahim tiada bergerak lagi, sudah tiada bernyawa, dan dengan kematiannya itu padam pula semua harapan yang selama ini membuka hati Nabi, makin deras pula airmata Rasulullah mengucur, sambil ia berkata:
"Oh Ibrahim, kalau bukan karena soal kenyataan, dan janji yang tak dapat dibantah lagi, dan bahwa kami yang kemudian akan menyusul orang yang sudah lebih dahulu daripada kami, tentu akan lebih lagi kesedihan kami dari ini." Dan setelah diam sejenak, katanya lagi: "Mata boleh bercucuran, hati dapat merasa duka, tapi kami hanya berkata apa yang menjadi perkenan Tuhan, dan bahwa kami, O Ibrahim, sungguh sedih terhadapmu."
Wafat di Usia Dini
Ibrahim merupakan salah satu dari tiga putra Rasulullah SAW yang semuanya wafat dalam usia dini. Mereka adalah Ibrahim, Qasim yang yang dijuluki Ath-Thayyib (yang baik), dan ‘Abdullah yang berjuluk Ath-Thahir (yang suci).
Total putra-putri Rasulullah SAW ada tujuh, yang putri ada empat yaitu Sayyidah Fathimah, Sayyidah Zainab, Sayyidah Ruqayyah, dan Sayyida Ummu Kultsum. Semuanya lahir dari rahim Sayyidah Khadijah, kecuali Ibrahim lahir dari Sayyidah Mariyatul Qibthiyah.
Bertepatan dengan wafatnya Ibrahim, terjadi gerhana matahari. Hal ini kemudian menghebohkan para sahabat, bahkan mereka sampai mengira peristiwa ini ada hubungannya dengan kewafatan putra Nabi. Namun akhirnya Rasulullah menjelaskan kepada mereka bahwa peristiwa tersebut murni fenomena alam yang menjadi tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.
Diambilnya anak itu, lalu diletakkannya di pangkuannya dengan hati yang remuk-redam rasanya. Tangannya menggigil. Kalbu yang duka dan pilu rasa mencekam seluruh sanubari.
Baca juga: Puasa Syawal Baik untuk Kesehatan Pencernaan
Lukisan hati yang sedih mulai membayang dalam raut wajahnya. Sambil meletakkan anak itu di pangkuan ia berkata: "Ibrahim, kami tak dapat menolongmu dari kehendak Allah SWT."
Dalam keadaan hening yang menekan itu kemudian airmatanya berderai bercucuran, sementara anak itu sedang menarik napas terakhir. Sang ibu dan Sirin menangis menjerit-jerit; oleh Rasulullah dibiarkan mereka begitu.
Setelah tubuh Ibrahim tiada bergerak lagi, sudah tiada bernyawa, dan dengan kematiannya itu padam pula semua harapan yang selama ini membuka hati Nabi, makin deras pula airmata Rasulullah mengucur, sambil ia berkata:
"Oh Ibrahim, kalau bukan karena soal kenyataan, dan janji yang tak dapat dibantah lagi, dan bahwa kami yang kemudian akan menyusul orang yang sudah lebih dahulu daripada kami, tentu akan lebih lagi kesedihan kami dari ini." Dan setelah diam sejenak, katanya lagi: "Mata boleh bercucuran, hati dapat merasa duka, tapi kami hanya berkata apa yang menjadi perkenan Tuhan, dan bahwa kami, O Ibrahim, sungguh sedih terhadapmu."
Wafat di Usia Dini
Ibrahim merupakan salah satu dari tiga putra Rasulullah SAW yang semuanya wafat dalam usia dini. Mereka adalah Ibrahim, Qasim yang yang dijuluki Ath-Thayyib (yang baik), dan ‘Abdullah yang berjuluk Ath-Thahir (yang suci).
Total putra-putri Rasulullah SAW ada tujuh, yang putri ada empat yaitu Sayyidah Fathimah, Sayyidah Zainab, Sayyidah Ruqayyah, dan Sayyida Ummu Kultsum. Semuanya lahir dari rahim Sayyidah Khadijah, kecuali Ibrahim lahir dari Sayyidah Mariyatul Qibthiyah.
Bertepatan dengan wafatnya Ibrahim, terjadi gerhana matahari. Hal ini kemudian menghebohkan para sahabat, bahkan mereka sampai mengira peristiwa ini ada hubungannya dengan kewafatan putra Nabi. Namun akhirnya Rasulullah menjelaskan kepada mereka bahwa peristiwa tersebut murni fenomena alam yang menjadi tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.
Lihat Juga :