Kurban 1 Kambing Atau Patungan Sapi 7 Orang? Ini Pendapat Gus Baha

loading...
Kurban 1 Kambing Atau Patungan Sapi 7 Orang? Ini Pendapat Gus Baha
Gus Baha menjelaskan tentang mana yang lebih baik kurban 1 ekor kambing atau patungan 1 ekor sapi dibagi 7 orang. Foto/Ist
Gus Baha menjelaskan tentang mana yang lebih baik kurban 1 ekor kambing atau patungan 1 ekor sapi dibagi 7 orang. Selama ini kurban patungan sudah menjadi tradisi yang lazim dilakukan umat muslim di Indonesia.

Mari kita simak pendapat Pengasuh Ponpes Tahfidzul Qur'an LP3IA Kragan, Rembang ini terkait penyelenggaran kurban yang akan tiba sebentar lagi. Dalam satu kajian yang diunggah oleh Channel Santri Gayeng, Gus Baha menjelaskan risiko hukum kurban sapi melalui cara urunan (patungan) 7 orang.

Ulama bernama KH Ahmad Bahauddin Nursalim mengatakan, lebih baik kambing untuk satu orang daripada patungan 1 sapi untuk 7 orang. Beliau menukil pendapat Imam Malik, sebagian ulama mensyaratkan tujuh orang (untuk 1 sapi) itu yang berkurban harus satu keluarga.

Tujuannya supaya bisa serentak membawa satu keluarga masuk surga, jadi tidak membawa istri orang lain. Gus Baha berpendapat, daripada satu ekor sapi patungan banyak orang, lebih baik berkurban kambing satu ekor.

Untuk diketahui, dalam berkurban ada hikmah bahwa hewan yang dikurbankan akan menjadi kendaraan yang membawa ahli kurban ke surga. Maka dari itu, akan lebih baik jika para ahli kurban yang patungan berasal dari satu keluarga.

Berikut Ceramah Gus Baha:
"Pada hari raya kurban, saya pernah mendapatkan dua pertanyaan yang kriminal semua. Gara-gara kurban urunan (patungan). Sekarang marak iuran Rp2 juta dapat sapi. Kalau Rp2 juta kali 7 dapat berapa? Rp14 juta. Yang bertanya bukan dari kalangan NU.

"Pak Baha, katanya kalau sapi satu itu dinaiki 7 orang. Semisal kalau sapi limusin itu harganya kan Rp70 juta. Kalau iuran orang 7 kan berat. Misalnya iuran orang 20, anggap saja kuat (sapi limusin) dinaiki 20 orang." (hehehe)

Setelah bertanya kepada saya karena saya guyoni. Kalau orang nasionalis itu kan biasa. Misalnya istrinya Rukhin kerja ngajar di SD Wonokromo, Rukhin kerja ngajar di SD Kotagede. Orang nasional kan biasa seperti itu. Yang tanya saya itu orang nasional, ya tidak NU ya tidak Muhammadiyah. Hanya saja suka Islam.

Artinya, nanti istrinya Rukhin berkurban di SD Wonokromo sama guru-guru laki-laki di situ, Rukhin berkurban dengan guru-guru perempuan di SD Kotagede. Berarti kan istri Rukhin diambil orang? (hahaha)

Makanya timbul pertanyaan, kalau kurban bareng itu kan risikonya kadang membawa istri orang lain. Sebab, yang ikut patungan itu kan bukan mahramnya. "Ayo yang pada iuran siap-siap istrinya dibawa orang lain. (hahaha)."

Saya juga pernah ditanya begitu, di tempat saya ada kurban iuran sapi, tapi saya lebih suka kambing. Karena saya agak egois, ingin kurban sendiri. "Gus, kok tidak ikut urunan (patungan) kurban sapi?" "Emoh (tidak mau)."

"Kenapa tidak mau, Gus?" "Tunggu-tungguan rombongan." (hehehe) Lah, misalnya surgaku itu Januari, surgamu Desember. Sapinya nunggu kamu kelamaan. (hehe)

Semisal kalau kurban kambing, surgaku Januari kan langsung terbang. Kalau orang 7 dan surganya tanggalnya beda-beda bagaimana? Masak surgaku bareng Rukhin?

Kan secara teori tidak mungkin. Makanya aku tidak mau kurban bareng Rukhin. Nanti ada pengumuman dari Malaikat: "Baha masuk surganya ditunda, karena temannya masih di neraka. Haha repot..."

Beramal tidak perlu berpikir seperti itu, yang penting ikhlas saja. Allah nanti mengaturnya bagaimana terserah. Kalau dituruti nanti barena istri orang, meskipun sama-sama lelakinya ya akan saling menunggu. Karena kelas surganya masuknya beda-beda.

Masak surganya yang saleh dan setengah saleh bareng? Masak yang saleh nunggu 100 tahun karena teman kurbannya di neraka. Paham nggeh? "Tidak perlu berpikir seperti itu," saya bilang begitu. Tapi ini jangan sampai jadi penggalih (dimasukkan dalam hati) ya. Ini omongannya orang nganggur begitu saja. (hehehe)

Cuma menurut Syari'at, lebih baik kambing untuk satu orang daripada 1 sapi untuk 7 orang. Karena tadi bisa menimbulkan egois tadi. Kalau bisa dipanggil Januari ya langsung terbang saja. Kalau jatah masuk surga Desember, iya kalau Desembernya dalam satu tahun, kalau terpaut 100 tahun bagaimana?

Tidak usah terlalu dipikir, kalau mau beramal ya beramal saja! Orang beramal kok diperhitungkan! Saya tidak suka orang amal kok diperhitungkan. Tidak perlu begitu beramal, beramal saja. Entah bagaimana Allah nanti, terserah. Saya berkali-kali didatangi orang. Lama-lama dia mikir.

"Kalau beramal yang ikhlas, nanti Allah gampang. Misalnya surgamu dulu, yang satu masih di neraka, ya nanti oleh Allah dibuatkan kendaraan khusus, lewat duluan nanti diganti Allah. Allah kan kaya gampang kan?"

Kok repot? Misalnya nanti naik sapi terlalu lama, surganya orang alim hafal Qur'an yang ikhlas ya pakai kilat. "Sapinya ambil saja buat kamu Khin, saya berangkat duluan." Hehehe... Sukanya kok repot..!
halaman ke-1
preload video