Kisah Anjing Marah Ketika Rasulullah Dihina, 40 Ribu Orang Mongol Masuk Islam
Senin, 13 Juni 2022 - 17:46 WIB
loading...
A
A
A
Hikmah
Kisah ini layak kita jadikan hikmah dan pelajaran berharga. Para ulama menyikapi peristiwa ini dengan dua pandangan sebagaimana dikutip dari portal kedaulatan santri (Kesan).
Pertama, hewan saja marah bila Nabi Muhammad SAW dihina, lalu bagaimana kita sebagai umatnya? Mereka berpendapat umat Islam harus lebih marah lagi dan bereaksi dengan keras.
Kedua, kita adalah manusia, bukan hewan seperti anjing. Maka, tidak sepantasnya kita bereaksi seperti anjing. Kita boleh marah, tetapi tidak boleh main hakim sendiri.
Dalam Al-Qur'an kita diajarkan untuk menyikapi keburukan dengan kebaikan:
وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۗاِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ
Artinya: "Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan perilaku yang lebih baik sehingga orang yang ada permusuhan denganmu serta-merta menjadi seperti teman yang sangat setia." (QS. Al-Fussilat Ayat: 34)
Ketika berdakwah di Mekkah, Nabi Muhammad sering dicaci, dihina, dipukuli, dilempari batu dan kotoran, hingga hendak dibunuh. Namun, beliau bersabar dan tidak membalasnya dengan keburukan.
Alhasil, satu per satu orang yang memusuhi beliau seperti Umar bin Khattab berbalik menjadi sahabat setia persis seperti yang diungkapkan ayat di atas.
Pada masa sekarang, hal ini pun terjadi. Arnoud Van Doorn, seorang politikus Belanda yang anti-Islam dulunya gemar menghina Nabi Muhammad lewat filmnya berjudul "Fitna". Setelah berdiskusi dengan umat Islam dan mempelajari kisah Nabi Muhammad, ia pun memeluk Islam dan langsung pergi ke Madinah mengunjungi makam Nabi Muhammad SAW. Dia meminta maaf di depan makam Rasulullah SAW sebagai bentuk penyesalannya.
Baca Juga: Menghina Nabi Muhammad? Simak Pesan Ustaz Budi Ashari Berikut
Kisah ini layak kita jadikan hikmah dan pelajaran berharga. Para ulama menyikapi peristiwa ini dengan dua pandangan sebagaimana dikutip dari portal kedaulatan santri (Kesan).
Pertama, hewan saja marah bila Nabi Muhammad SAW dihina, lalu bagaimana kita sebagai umatnya? Mereka berpendapat umat Islam harus lebih marah lagi dan bereaksi dengan keras.
Kedua, kita adalah manusia, bukan hewan seperti anjing. Maka, tidak sepantasnya kita bereaksi seperti anjing. Kita boleh marah, tetapi tidak boleh main hakim sendiri.
Dalam Al-Qur'an kita diajarkan untuk menyikapi keburukan dengan kebaikan:
وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۗاِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ
Artinya: "Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan perilaku yang lebih baik sehingga orang yang ada permusuhan denganmu serta-merta menjadi seperti teman yang sangat setia." (QS. Al-Fussilat Ayat: 34)
Ketika berdakwah di Mekkah, Nabi Muhammad sering dicaci, dihina, dipukuli, dilempari batu dan kotoran, hingga hendak dibunuh. Namun, beliau bersabar dan tidak membalasnya dengan keburukan.
Alhasil, satu per satu orang yang memusuhi beliau seperti Umar bin Khattab berbalik menjadi sahabat setia persis seperti yang diungkapkan ayat di atas.
Pada masa sekarang, hal ini pun terjadi. Arnoud Van Doorn, seorang politikus Belanda yang anti-Islam dulunya gemar menghina Nabi Muhammad lewat filmnya berjudul "Fitna". Setelah berdiskusi dengan umat Islam dan mempelajari kisah Nabi Muhammad, ia pun memeluk Islam dan langsung pergi ke Madinah mengunjungi makam Nabi Muhammad SAW. Dia meminta maaf di depan makam Rasulullah SAW sebagai bentuk penyesalannya.
Baca Juga: Menghina Nabi Muhammad? Simak Pesan Ustaz Budi Ashari Berikut
(rhs)
Lihat Juga :