Tafsir Ayat-Ayat Haji Para Sufi, Tempat Tawaf adalah Hati
Selasa, 14 Juni 2022 - 17:56 WIB
loading...
A
A
A
Apakah kemudian pelaksanaan haji itu bisa sah dengan pemahaman makna batiniyah yang seperti itu? Pertanyaan ini akan dijawab oleh para ulama fiqih dalam kajian tata cara manasik haji.
Lanjutan dari ayat di atas, yaitu:
فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Artinya: “Di dalam rumah itu terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqâm Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu), maka ia akan menjadi aman; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”
Dalam kitab Al-Takwilāt Al-Najmiyyah fī Al-Tafsīr Al-Ishārī Al-Ṣūfī, Najmuddin Al-Kubro, mufasir sufi asal Persia, menjelaskan bahwa ayat ini memuat tujuan haji. Menurutnya, Allah menjadikan Kakbah dan haji hanya untuk-Nya. Adapun, rukun-rukun haji dan manasik seluruhnya adalah sebuah isyarat tersembunyi, yaitu isyarat bagi manusia untuk melakukan perjalanan fisik-spiritual (al-sair wa al-sulūk) menuju Allah SWT beserta adab-adabnya.
Selain itu, ia juga menjelaskan rahasia rukun-rukun haji. Baginya, Ihram bertujuan melepaskan diri dari jeratan dunia dan menyucikan manusia dari akhlak yang tercela. Wukuf di Arafah, sebagai pengakuan kelemahan hamba kepada Tuhannya dan berjanji menjadi hamba yang paling hamba. Adapun tawaf 7 putaran, merupakan upaya untuk mencapai tujuh tingkatan spiritual.
Dengan demikian, berhaji merupakan perjalanan fisik-spiritual menuju Allah SWT. Seorang yang ingin berhaji, harus mempersiapkan diri secara fisik dan batin. Para sufi lebih menekankan pada kesiapan secara batin. Karena dengan begitu, rahasia dan tujuan haji akan memberi pengaruh yang besar terhadap seseorang yang ingin berhaji.
Baca juga: Ijtihad Manajemen dan Fiqhiyyah Haji
Lanjutan dari ayat di atas, yaitu:
فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Artinya: “Di dalam rumah itu terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqâm Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu), maka ia akan menjadi aman; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”
Dalam kitab Al-Takwilāt Al-Najmiyyah fī Al-Tafsīr Al-Ishārī Al-Ṣūfī, Najmuddin Al-Kubro, mufasir sufi asal Persia, menjelaskan bahwa ayat ini memuat tujuan haji. Menurutnya, Allah menjadikan Kakbah dan haji hanya untuk-Nya. Adapun, rukun-rukun haji dan manasik seluruhnya adalah sebuah isyarat tersembunyi, yaitu isyarat bagi manusia untuk melakukan perjalanan fisik-spiritual (al-sair wa al-sulūk) menuju Allah SWT beserta adab-adabnya.
Selain itu, ia juga menjelaskan rahasia rukun-rukun haji. Baginya, Ihram bertujuan melepaskan diri dari jeratan dunia dan menyucikan manusia dari akhlak yang tercela. Wukuf di Arafah, sebagai pengakuan kelemahan hamba kepada Tuhannya dan berjanji menjadi hamba yang paling hamba. Adapun tawaf 7 putaran, merupakan upaya untuk mencapai tujuh tingkatan spiritual.
Dengan demikian, berhaji merupakan perjalanan fisik-spiritual menuju Allah SWT. Seorang yang ingin berhaji, harus mempersiapkan diri secara fisik dan batin. Para sufi lebih menekankan pada kesiapan secara batin. Karena dengan begitu, rahasia dan tujuan haji akan memberi pengaruh yang besar terhadap seseorang yang ingin berhaji.
Baca juga: Ijtihad Manajemen dan Fiqhiyyah Haji
(mhy)
Lihat Juga :