Tafsir Ayat-Ayat Haji Para Sufi, Tempat Tawaf adalah Hati
Selasa, 14 Juni 2022 - 17:56 WIB
loading...
Bisakah haji cukup di dalam hati? Foto/Ilustrasi: Dok SINDOnews
A
A
A
Pemaknaan tentang haji oleh para sufi, salah satunya terlihat ketika mereka menafsirkan ayat haji dalam Al-Qur'an. Bagi para sufi , selain makna lahiriah, Al-Qur’an juga memiliki makna batiniyah. Inilah yang membuat penafsirannya menjadi unik dan terlihat sedikit aneh bagi orang biasa.
Satu di antara ayat yang berkaitan dengan haji adalah ayat 96-97 dari surah Ali Imran .
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذي بِبَكَّةَ مُبارَكاً وَ هُدىً لِلْعالَمينَ
Artinya: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang berada di Bakkah (Mekkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”
Baca juga: Sejarah Kiswah, Kain Penutup Baitullah
Dalam kitab Laṭāiful Ishārāt, ‘Abd al-Karim bin Hawazin al-Qusyairi, seorang tokoh sufisme abad ke-5 Hijriyah di Naisabur, saat menafsirkan ayat ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan rumah yang dijadikan tempat tawaf adalah hati. Dan tujuan dari hati manusia adalah Allah SWT. Dengan demikian, Kakbah atau Baitullah tidak sekadar dimaknai secara lahir. Akan tetapi, juga dimaknai secara simbolik yaitu sebagai hati manusia.
Mansur Al-Hallaj dalam Kitab Al-Ṭawāsin juga menafsirkan senada. Ia adalah seorang sufi yang dieksekusi di kota Baghdad karena keyakinannya. Ia pernah berkata: “Aku berhaji di rumahku. Di sana kutemukan Kakbahku.” Kakbah yang dimaksud oleh Al-Hallaj adalah hatinya, sebagai makna simbolik dari rumah Allah.
Laman Tafsir Al-Quran melansir, untuk memahami hal ini, terdapat hadis qudsi yang juga memaknai frasa ‘rumah Allah’ dengan makna simbolik, yaitu hati manusia. Disebutkan: “Langit dan bumi tidak akan meliputi Tuhan, tetapi cukup untuk Tuhan, hati hamba yang beriman.” Atau dalam hadis yang lain: “Rumahku di dunia adalah hatimu, sudahkah kamu bersihkan rumahku dari setan-setan yang kini menguasainya?”
Dengan demikian, rumah Allah ( Baitullah ) dapat dimaknai secara lahiriah dan batiniah. Sehingga, Kakbah lahiriah memang berada di dalam Masjidil Haram Kota Mekkah, namun Kakbah-Kakbah batiniah bertebaran pada setiap hati manusia.
Baca juga: Kisah Haji Tukang Sol Sepatu, Seluruh Haji Diterima Allah Berkat Amalannya
Satu di antara ayat yang berkaitan dengan haji adalah ayat 96-97 dari surah Ali Imran .
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذي بِبَكَّةَ مُبارَكاً وَ هُدىً لِلْعالَمينَ
Artinya: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang berada di Bakkah (Mekkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”
Baca juga: Sejarah Kiswah, Kain Penutup Baitullah
Dalam kitab Laṭāiful Ishārāt, ‘Abd al-Karim bin Hawazin al-Qusyairi, seorang tokoh sufisme abad ke-5 Hijriyah di Naisabur, saat menafsirkan ayat ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan rumah yang dijadikan tempat tawaf adalah hati. Dan tujuan dari hati manusia adalah Allah SWT. Dengan demikian, Kakbah atau Baitullah tidak sekadar dimaknai secara lahir. Akan tetapi, juga dimaknai secara simbolik yaitu sebagai hati manusia.
Mansur Al-Hallaj dalam Kitab Al-Ṭawāsin juga menafsirkan senada. Ia adalah seorang sufi yang dieksekusi di kota Baghdad karena keyakinannya. Ia pernah berkata: “Aku berhaji di rumahku. Di sana kutemukan Kakbahku.” Kakbah yang dimaksud oleh Al-Hallaj adalah hatinya, sebagai makna simbolik dari rumah Allah.
Laman Tafsir Al-Quran melansir, untuk memahami hal ini, terdapat hadis qudsi yang juga memaknai frasa ‘rumah Allah’ dengan makna simbolik, yaitu hati manusia. Disebutkan: “Langit dan bumi tidak akan meliputi Tuhan, tetapi cukup untuk Tuhan, hati hamba yang beriman.” Atau dalam hadis yang lain: “Rumahku di dunia adalah hatimu, sudahkah kamu bersihkan rumahku dari setan-setan yang kini menguasainya?”
Dengan demikian, rumah Allah ( Baitullah ) dapat dimaknai secara lahiriah dan batiniah. Sehingga, Kakbah lahiriah memang berada di dalam Masjidil Haram Kota Mekkah, namun Kakbah-Kakbah batiniah bertebaran pada setiap hati manusia.
Baca juga: Kisah Haji Tukang Sol Sepatu, Seluruh Haji Diterima Allah Berkat Amalannya
Lihat Juga :