7 Tahapan Penciptaan Manusia, Ini Penjelasan Al-Qur'an dan Sains

loading...
7 Tahapan Penciptaan Manusia, Ini Penjelasan Al-Quran dan Sains
Dahsyatnya proses penciptaan manusia melalui tujuh tahapan dijelaskan dalam Al-Quran dan Sains. Fatabaarakallahu ahsanul Khaliqiin, Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik. Foto/dok berdakwah.net
Salah satu tanda kebesaran Allah adalah menjadikan manusia dari setetes air mani (Nuthfah) kemudian berkembang menjadi makhluk sempurna. Berikut hikmahnya menurut Al-Qur'an dan penjelasan ilmu Sains.

Asal-usul manusia itu adalah sesuatu yang tidak ada artinya, tetapi kemudian menjadi manusia yang perkasa dan bekembang biak. Karena itu, manusia seharusnya tidak sombong dan ingkar, melainkan bersyukur dan patuh kepada-Nya.

Allah 'azza wa Jalla menjelaskan penciptaan manusia dalam beberapa tahapan agar manusia dapat menyadari hakikatnya. Allah berfirman:

وَقَدۡ خَلَقَكُمۡ اَطۡوَارًا

Artinya: "Dan sungguh, Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan (kejadian)." (QS Nuh Ayat 14)

Beberapa tingkatan yang dimaksud yaitu dari Nuthfah (air mani), segumpal daging, kemudian menjadi janin dan bentuk yang sempurna sebagai manusia. Dalam tafsir Kemenag dijelaskan bahwa Nabi Nuh 'alaihissalam mengingatkan kebesaran dan kekuasaan Allah yang terdapat di dalam diri mereka, yaitu bahwa mereka diciptakan-Nya secara bertahap.

Dari setetes air mani, kemudian menjadi zigot, darah, seberkas lempeng daging dan tulang, janin, dan kemudian dilahirkan. Dari bayi yang tidak tahu suatu apa pun, mereka menjadi manusia dewasa, berketurunan, dan akhirnya meninggal dunia.

Tahapan kejadian manusia ini menunjukkan kekuasaan Allah yang dinyatakan pula dalam ayat lain yang artinya: "Dialah yang menciptakanmu dari tanah, kemudian dari setetes mani, lalu dari segumpal darah, kemudian kamu dilahirkan sebagai seorang anak, kemudian dibiarkan kamu sampai dewasa, lalu menjadi tua. Tetapi di antara kamu ada yang dimatikan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) agar kamu sampai kepada kurun waktu yang ditentukan, agar kamu mengerti." (QS Al-Mu'min: Ayat 67)

Dalam ayat lain, Allah berfirman: "Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik." (QS Al-Mu'minun: 12-14)

Penjelasan Sains
Secara ilmiah, tahapan penciptaan manusia itu dijelaskan sebagai berikut:

1. Sari Pati Tanah
Manusia belum bisa disebut sebagai apa-apa. Penjelasan tentang "sari pati tanah" dijelaskan dalam Surat Al-Hijr Ayat 26, 28, dan 33. Menurut para saintis, kata hama' (lumpur hitam) pada Surat Al-Hijr Ayat 26 mengisyaratkan akan terlibatnya molekul air (H2O) dalam proses terbentuknya molekul-molekul pendukung proses kehidupan. Seperti diketahui air adalah media bagi terjadinya suatu proses reaksi kimiawi/biokimiawi untuk membentuk suatu molekul baru.

2. Nuthfah (Air Mani)
Ketika semua sari pati tanah masuk ke dalam tubuh kita, kemudian digunakan oleh tubuh sebagai starting materials dalam proses metabolisme pembentukan nuthfah di dalam sel-sel reproduksi. Nuthfah diterjemahkan sebagai air mani atau setetes mani. Pengertian harfiahnya adalah tetes atau bagian kecil dari fluida (cairan kental, konsentrat).

Dalam dunia sains, merupakan konsentrasi fluida yang mengandung sperma. Disebut pula sebagai nuthfatun amsyaj atau setetes mani yang bercampur. Ini mengandung arti percampuran dua nuthfah atau benih, yaitu dari pihak laki-laki (sperma) dan dari pihak wanita (sel telur, ovarium). Dalam Surah Al-Insan Ayat 2, tampak sekali bahwa hanya setetes mani (satu sperma) yang bercampur (membuahi) ovarium. Ini sangat bersesuaian dengan ilmu embryology. Nuthfah disebut pula sebagai air yang hina (ma'in mahin, Al-Mursalat: 20) atau air yang terpancar (ma'in dafiq, Ath-Thariq: 6).

3. 'Alaqah
'Alaqah merupakan bentuk perkembangan pra-embrionik, yang terjadi setelah percampuran sel mani (sperma) dan sel telur. Moore dan Azzindani (1982) menjelaskan, bahwa 'Alaqah dalam Bahasa Arab berarti lintah (leech) atau suatu suspensi (suspended thing) atau segumpal darah (a clot of blood).

Lintah merupakan binatang tingkat rendah, berbentuk seperti buah pir, dan hidup dengan cara menghisap darah. Jadi 'alaqah merupakan tingkatan (stadium) embrionik, yang berbentuk seperti buah pir, di mana sistem kardiovaskuler (sistem pembuluh-jantung) sudah mulai tampak, dan hidupnya tergantung dari darah ibunya, mirip dengan lintah. 'Alaqah terbentuk sekitar 24-25 hari sejak pembuahan. Jika jaringan pra-embrionik 'alaqah ini diambil keluar (digugurkan), memang tampak seperti segumpal darah (a blood clot like).

4. Tingkatan Mudhgah
'Alaqah yang terbentuk sekitar 24-25 hari setelah pembuahan, kemudian berkembang menjadi mudhgah pada hari ke 26-27, dan berakhir sebelum hari ke-42. Cepatnya perubahan dari 'Alaqah ke Mudhgah terlihat dalam penggunaan kata "fa" pada Surah 23:14. Dalam bahasa Arab, kata fa menunjukkan rangkaian perubahan yang cepat. Secara umum, mudhgah diterjemahkan sebagai 'segumpal daging'.

Mudhgah merupakan tingkatan embrionik yang berbentuk seperti 'kunyahan permen karet, yang menunjukkan permukaan yang tidak teratur. Mudhgah atau 'segumpal daging' terdiri dari sel-sel atau jaringan-jaringan yang telah mengalami diferensiasi maupun yang belum mengalami diferensiasi. Pada Ayat 5 Surah Al-Hajj dijelaskan: "...Kemudian dari segumpal daging (mudhgah) yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim..."

5. Pembentukan Tulang
Setelah tingkat Mudhgah inilah mulai dibentuk tulang. Ini sangat bersesuaian sekali dengan embryology modern dewasa ini.

6. Pembungkusan Tulang oleh Daging
Janin mulai terbentuk setelah tulang dibungkus oleh daging.

7. Bayi dalam Kandungan
Bayi dalam kandungan ini meruakan perkembangan lanjutan dari tahapan ke-6 di atas. Kemudian dilanjutkan dengan penyempurnaan pembentukan manusia.

Demikianlah proses kejadian manusia melalui proses yang rumit dan rentan. Karena itu, keberadaan kita di alam ini hendaknya disyukuri dengan beriman kepada Allah.

فَتَبٰـرَكَ اللّٰهُ اَحۡسَنُ الۡخٰلِقِيۡ

Artinya: "... maka Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik." (QS. Al-Mu'minun Ayat 14)

Wallahu A'lam

Baca Juga: Pandangan Al-Qur'an dan Sains Tentang Penciptaan Manusia
(rhs)
preload video