Amr Bin Al-Ash: Arthabon Arab yang Taklukkan Arthabon Romawi
Rabu, 13 Juli 2022 - 17:30 WIB
loading...
A
A
A
Dalam hal ini kita tidak memasukkan perbuatan sehubungan dengan Abu Musa Al-Asy'ari pada peristiwa tahkim, yakni ketika kedua mereka menyetujui bahwa masing-masing akan menanggalkan Ali dan Mu'awiyah dari jabatan mereka, agar urusan itu dikembalikan kepada kaum muslimin untuk mereka musyawarahkan bersama. Ternyata Abu Musa melaksanakan hasil persetujuan tersebut, sementara Amr tidak melaksanakannya.
Bila kita ingin menyaksikan bagaimana kelicinan serta kesigapannya, pada peristiwa yang dialaminya bersama komandan benteng Babilon di saat peperangannya dengan orang-orang Romawi di Mesir.
Menurut riwayat-riwayat lain bersama Arthabon Romawi di pertempuran Yarmuk di Syria. Yakni ketika ia diundang oleh komandan benteng atau oleh Arthabon untuk berunding.
Sementara itu komandan Romawi telah menyuruh beberapa orang anak buahnya untuk menggulingkan batu besar ke atas kepalanya ketika ia hendak pulang meninggalkan benteng itu, sementara segala sesuatu dipersiapkan, agar rencana tersebut dapat berjalan lancar dan menghasilkan apa yang dimaksud mereka.
Baca juga: Amr bin Al-Ash: Salah Seorang yang Pernah Didoakan Rasulullah SAW Agar Terkena Azab
Amr pun berangkat menemui komandan musuh itu, tanpa sedikit pun menaruh curiga, dan setelah berunding, mereka pun berpisah. Tiba-tiba dalam perjalanannya ke luar benteng, ia sekilas menaruh curiga terhadap gerakan dari atas benteng hingga membangkitkan gerakan refleksnya dan dengan tangkas berhasil menghindarkan diri dengan cara yang mengagumkan.
Ia berbalik untuk membuat perhitungan dengan komandan benteng dengan langkah-langkah yang tepat dan kewaspadaan tinggi serta tidak pernah lalai seolah-olah ia tidak dapat dikejutkan oleh sesuatu pun dan tidak dapat dipengaruhi oleh rasa curiga.
Kemudian ia masuk ke dalam, lalu berkata kepada komandan, “Hatiku terbesit suatu pikiran yang ingin kusampaikan kepadamu sekarang ini. Di pos komandoku sekarang ini sedang menunggu segolongan sahabat Rasul angkatan pertama masuk Islam, di mana pendapat mereka sering didengar oleh Amirul Mukminin untuk mengambil sesuatu keputusan penting. Bahkan, setiap mengirim tentara, mereka selalu diikutsertakan untuk mengawasi tindakan tentara dan langkah-langkah yang mereka ambil. Aku bermaksud membawa mereka ke sini agar dapat mendengar dari mulutmu apa yang telah kudengar, hingga mereka memperoleh penjelasan yang sebaik-baiknya mengenai urusan kita ini.”
Komandan Romawi itu mengerti bahwa Amr bernasib mujur dan lolos dari maut. Dengan sikap gembira ia menyetujui usul Amr, hingga bila Amr nanti kembali dengan sejumlah besar pimpinan dan panglima Islam pilihan, ia akan dapat menjebak mereka semua, daripada hanya Amr seorang diri.
Tanpa sepengetahuan Amr, komandan itu menahan diri untuk tidak mengganggu Amr sambil menyiapkan kembali perangkap yang disediakan untuk panglima Islam tadi agar mereka binasa. Ia melepas Amr dengan besar hati dan menjabat tangannya dengan hangat. Ahli siasat dan tipu muslihat Arab itu menyambutnya dengan tertawa dalam hati.
Waktu subuh keesokan harinya, dengan memacu kudanya yang meringkik keras sebagai nada bangga dan mengejek, Amr kembali memimpin tentaranya menuju benteng. Kuda memang merupakan makhluk lain yang banyak mengetahui kelihaian dan kecerdikan tuannya.
Bila kita ingin menyaksikan bagaimana kelicinan serta kesigapannya, pada peristiwa yang dialaminya bersama komandan benteng Babilon di saat peperangannya dengan orang-orang Romawi di Mesir.
Menurut riwayat-riwayat lain bersama Arthabon Romawi di pertempuran Yarmuk di Syria. Yakni ketika ia diundang oleh komandan benteng atau oleh Arthabon untuk berunding.
Sementara itu komandan Romawi telah menyuruh beberapa orang anak buahnya untuk menggulingkan batu besar ke atas kepalanya ketika ia hendak pulang meninggalkan benteng itu, sementara segala sesuatu dipersiapkan, agar rencana tersebut dapat berjalan lancar dan menghasilkan apa yang dimaksud mereka.
Baca juga: Amr bin Al-Ash: Salah Seorang yang Pernah Didoakan Rasulullah SAW Agar Terkena Azab
Amr pun berangkat menemui komandan musuh itu, tanpa sedikit pun menaruh curiga, dan setelah berunding, mereka pun berpisah. Tiba-tiba dalam perjalanannya ke luar benteng, ia sekilas menaruh curiga terhadap gerakan dari atas benteng hingga membangkitkan gerakan refleksnya dan dengan tangkas berhasil menghindarkan diri dengan cara yang mengagumkan.
Ia berbalik untuk membuat perhitungan dengan komandan benteng dengan langkah-langkah yang tepat dan kewaspadaan tinggi serta tidak pernah lalai seolah-olah ia tidak dapat dikejutkan oleh sesuatu pun dan tidak dapat dipengaruhi oleh rasa curiga.
Kemudian ia masuk ke dalam, lalu berkata kepada komandan, “Hatiku terbesit suatu pikiran yang ingin kusampaikan kepadamu sekarang ini. Di pos komandoku sekarang ini sedang menunggu segolongan sahabat Rasul angkatan pertama masuk Islam, di mana pendapat mereka sering didengar oleh Amirul Mukminin untuk mengambil sesuatu keputusan penting. Bahkan, setiap mengirim tentara, mereka selalu diikutsertakan untuk mengawasi tindakan tentara dan langkah-langkah yang mereka ambil. Aku bermaksud membawa mereka ke sini agar dapat mendengar dari mulutmu apa yang telah kudengar, hingga mereka memperoleh penjelasan yang sebaik-baiknya mengenai urusan kita ini.”
Komandan Romawi itu mengerti bahwa Amr bernasib mujur dan lolos dari maut. Dengan sikap gembira ia menyetujui usul Amr, hingga bila Amr nanti kembali dengan sejumlah besar pimpinan dan panglima Islam pilihan, ia akan dapat menjebak mereka semua, daripada hanya Amr seorang diri.
Tanpa sepengetahuan Amr, komandan itu menahan diri untuk tidak mengganggu Amr sambil menyiapkan kembali perangkap yang disediakan untuk panglima Islam tadi agar mereka binasa. Ia melepas Amr dengan besar hati dan menjabat tangannya dengan hangat. Ahli siasat dan tipu muslihat Arab itu menyambutnya dengan tertawa dalam hati.
Waktu subuh keesokan harinya, dengan memacu kudanya yang meringkik keras sebagai nada bangga dan mengejek, Amr kembali memimpin tentaranya menuju benteng. Kuda memang merupakan makhluk lain yang banyak mengetahui kelihaian dan kecerdikan tuannya.
Lihat Juga :