Kisah Nabi Muhammad SAW Tidur di Depan Pintu Rumah karena Pulang Kemalaman
Senin, 18 Juli 2022 - 16:07 WIB
loading...
A
A
A
Rasulullah SAW pun mengetahui, istrinya itu sedang mencari-carinya. Sebab, nafas Aisyah terengah-engah. Ketika Aisyah sampai di hadapannya, dengan perlahan Rasulullah SAW menegur, “Engkau habis dari mana, wahai Aisyah?”
Yang ditanya pun tampak malu-malu. Aisyah berupaya menutupi kecurigaannya. Rasulullah SAW pun dapat menebak perasaan istrinya itu. Dengan tersipu, Aisyah pun berkata, “Bagaimana mungkin tidak curiga, wahai suamiku, engkau pergi dari kamar kita tanpa permisi.”
Rasulullah SAW menasihati istrinya itu. “Itu berarti engkau telah dihinggapi setan. Padahal, tujuanku (pergi tanpa suara) agar engkau bisa beristirahat dengan tenang. Sebab, aku mendapatkan giliran ronda berjaga malam ini,” kata Rasulullah SAW menjelaskan alasannya. Beliau juga menuturkan, dia ingin sholat malam kala itu.
Aisyah cukup tersentak, “Apakah mungkin seorang isteri utusan Allah juga dihinggapi setan?”
Rasulullah menjawab, “'Sesungguhnya setan itu mengalir dalam diri manusia mengikuti urat darahnya. Dijadikannya dada manusia itu sebagai tempatnya. Kecuali orang-orang yang dilindungi Allah.”
Aisyah bertanya lagi, siapa sajakah yang termasuk mendapatkan perlindungan Allah. Rasulullah SAW menerangkan, mereka adalah orang beriman yang memohon perlindungan-Nya dari jebakan setan.
Baca juga: 7 Akhlak Rasulullah Terhadap Anak-anak Layak Diteladani
Terlalu Asin
Hidup dalam suasana keluarga memberinya kenangan indah yang kaya dari sikap keseharian utusan Allah itu. Nabi diketahui tak pernah mengeluh meski keadaan kurang mendukung. Hatinya sangat lapang. Pernah Nabi tak medapati makanan apapun untuk sarapan di meja dapurnya. Seketika Nabi berniat puasa untuk hari itu.
Rasulullah SAW adalah suami dan pribadi yang sangat sabar dan tidak banyak protes terhadap istrinya. Beliau juga sangat sopan dan tidak pernah satu kali pun mencela istrinya.
Sebuah riwayat menceritakan dari 'Aisyah, suatu hari masakan Aisyah rasanya terlalu asin. Namun, Rasulullah SAW tetap menyanjung makanan itu tanpa berkomentar apa pun. Sajian tersebut juga habis dilahapnya.
Belakangan, Aisyah mencicipi masakannya sendiri dan sadar akan rasa yang terlampau asing.
Sebagai istri, wajar bila kecemburuan datang ketika suami menyebut-nyebut nama perempuan lain. Aisyah ra pernah suatu ketika terbakar api cemburu karena merasa dirinya dibanding-bandingkan dengan Khadijah ra, istri pertama Rasulullah SAW.
Yang ditanya pun tampak malu-malu. Aisyah berupaya menutupi kecurigaannya. Rasulullah SAW pun dapat menebak perasaan istrinya itu. Dengan tersipu, Aisyah pun berkata, “Bagaimana mungkin tidak curiga, wahai suamiku, engkau pergi dari kamar kita tanpa permisi.”
Rasulullah SAW menasihati istrinya itu. “Itu berarti engkau telah dihinggapi setan. Padahal, tujuanku (pergi tanpa suara) agar engkau bisa beristirahat dengan tenang. Sebab, aku mendapatkan giliran ronda berjaga malam ini,” kata Rasulullah SAW menjelaskan alasannya. Beliau juga menuturkan, dia ingin sholat malam kala itu.
Aisyah cukup tersentak, “Apakah mungkin seorang isteri utusan Allah juga dihinggapi setan?”
Rasulullah menjawab, “'Sesungguhnya setan itu mengalir dalam diri manusia mengikuti urat darahnya. Dijadikannya dada manusia itu sebagai tempatnya. Kecuali orang-orang yang dilindungi Allah.”
Aisyah bertanya lagi, siapa sajakah yang termasuk mendapatkan perlindungan Allah. Rasulullah SAW menerangkan, mereka adalah orang beriman yang memohon perlindungan-Nya dari jebakan setan.
Baca juga: 7 Akhlak Rasulullah Terhadap Anak-anak Layak Diteladani
Terlalu Asin
Hidup dalam suasana keluarga memberinya kenangan indah yang kaya dari sikap keseharian utusan Allah itu. Nabi diketahui tak pernah mengeluh meski keadaan kurang mendukung. Hatinya sangat lapang. Pernah Nabi tak medapati makanan apapun untuk sarapan di meja dapurnya. Seketika Nabi berniat puasa untuk hari itu.
Rasulullah SAW adalah suami dan pribadi yang sangat sabar dan tidak banyak protes terhadap istrinya. Beliau juga sangat sopan dan tidak pernah satu kali pun mencela istrinya.
Sebuah riwayat menceritakan dari 'Aisyah, suatu hari masakan Aisyah rasanya terlalu asin. Namun, Rasulullah SAW tetap menyanjung makanan itu tanpa berkomentar apa pun. Sajian tersebut juga habis dilahapnya.
Belakangan, Aisyah mencicipi masakannya sendiri dan sadar akan rasa yang terlampau asing.
Sebagai istri, wajar bila kecemburuan datang ketika suami menyebut-nyebut nama perempuan lain. Aisyah ra pernah suatu ketika terbakar api cemburu karena merasa dirinya dibanding-bandingkan dengan Khadijah ra, istri pertama Rasulullah SAW.
Lihat Juga :