Ketimbang Nabi Musa, Cinta Allah SWT Lebih Besar kepada Nabi Muhammad SAW
Sabtu, 23 Juli 2022 - 16:32 WIB
loading...
A
A
A
Bukan Berarti Dimanja
Dari sini jelas, kata Quraish Shihab, bahwa apa yang diperoleh oleh Nabi Muhammad SAW melebihi apa yang diperoleh oleh Nabi Musa as, karena beliau tanpa bermohon pun memperoleh kemudahan berganda, sedangkan Nabi Musa baru memperoleh anugerah "kemudahan urusan" setelah mengajukan permohonannya.
"Itu bukan berarti bahwa Nabi Muhammad SAW dimanjakan oleh Allah, sehingga beliau tidak akan ditegur apabila melakukan sesuatu yang kurang wajar sebagai manusia pilihan," jelas Quraish Shihab.
Menurutnya, dari Al-Qur'an ditemukan sekian banyak teguran-teguran Allah kepada beliau, dari yang sangat tegas hingga yang lemah lembut.
Perhatikan teguran firman Allah ketika beliau memberi izin kepada beberapa orang munafik untuk tidak ikut berperang.
"Allah telah memaafkan kamu. Mengapa engkau mengizinkan mereka? (Seharusnya izin itu engkau berikan) setelah terbukti bagimu siapa yang berbohong dalam alasannya, dan siapa pula yang berkata benar ( QS Al-Tawbah [9] : 43)
Dalam ayat tersebut Allah mendahulukan penegasan bahwa beliau telah dimaafkan, baru kemudian disebutkan "kekeliruannya."
Quraish Shihab mengatakan teguran keras baru akan diberikan kepada beliau terhadap ucapan yang mengesankan bahwa beliau mengetahui secara pasti orang yang diampuni Allah, dan yang akan disiksa-Nya, maupun ketika beliau merasa dapat menetapkan siapa yang berhak disiksa.
"Engkau tidak mempunyai sedikit urusan pun. (Apakah) Allah menerima tobat mereka atau menyiksa mereka ( QS Ali 'Imran [3] : 128).
Baca juga: 7 Akhlak Rasulullah Terhadap Anak-anak Layak Diteladani
Perhatikan teguran Allah dalam surat 'Abasa ayat 1-2 kepada Nabi Muhammad SAW, yang tidak mau melayani orang buta yang datang meminta untuk belajar pada saat Nabi SAW sedang melakukan pembicaraan dengan tokoh-tokoh kaum musyrik di Mekkah
Dari sini jelas, kata Quraish Shihab, bahwa apa yang diperoleh oleh Nabi Muhammad SAW melebihi apa yang diperoleh oleh Nabi Musa as, karena beliau tanpa bermohon pun memperoleh kemudahan berganda, sedangkan Nabi Musa baru memperoleh anugerah "kemudahan urusan" setelah mengajukan permohonannya.
"Itu bukan berarti bahwa Nabi Muhammad SAW dimanjakan oleh Allah, sehingga beliau tidak akan ditegur apabila melakukan sesuatu yang kurang wajar sebagai manusia pilihan," jelas Quraish Shihab.
Menurutnya, dari Al-Qur'an ditemukan sekian banyak teguran-teguran Allah kepada beliau, dari yang sangat tegas hingga yang lemah lembut.
Perhatikan teguran firman Allah ketika beliau memberi izin kepada beberapa orang munafik untuk tidak ikut berperang.
"Allah telah memaafkan kamu. Mengapa engkau mengizinkan mereka? (Seharusnya izin itu engkau berikan) setelah terbukti bagimu siapa yang berbohong dalam alasannya, dan siapa pula yang berkata benar ( QS Al-Tawbah [9] : 43)
Dalam ayat tersebut Allah mendahulukan penegasan bahwa beliau telah dimaafkan, baru kemudian disebutkan "kekeliruannya."
Quraish Shihab mengatakan teguran keras baru akan diberikan kepada beliau terhadap ucapan yang mengesankan bahwa beliau mengetahui secara pasti orang yang diampuni Allah, dan yang akan disiksa-Nya, maupun ketika beliau merasa dapat menetapkan siapa yang berhak disiksa.
"Engkau tidak mempunyai sedikit urusan pun. (Apakah) Allah menerima tobat mereka atau menyiksa mereka ( QS Ali 'Imran [3] : 128).
Baca juga: 7 Akhlak Rasulullah Terhadap Anak-anak Layak Diteladani
Perhatikan teguran Allah dalam surat 'Abasa ayat 1-2 kepada Nabi Muhammad SAW, yang tidak mau melayani orang buta yang datang meminta untuk belajar pada saat Nabi SAW sedang melakukan pembicaraan dengan tokoh-tokoh kaum musyrik di Mekkah
Lihat Juga :