Kesaksian Shafiyah: Ini Mengapa sang Ayah yang Tokoh Yahudi Madinah Menolak Masuk Islam
Selasa, 26 Juli 2022 - 16:10 WIB
loading...
A
A
A
Di antara yang memperkuat riwayat Shafiyah mengenai permusuhan ayahnya terhadap Nabi Muhammad adalah laporan Urwah bin az-Zubair, bahwa orang Yahudi pertama yang mendatangi Rasulullah adalah Abu Yasir bin Akhthab.
Setelah pulang, Urwah mendengarnya berseru kepada kaumnya, “Percayalah padaku, inilah nabi yang kita tunggu-tunggu.”
Namun saudaranya, Huyay bin Akhthab, menentangnya, padahal, Huyay inilah yang disegani kaumnya. Dia dikuasai setan, sehingga alih-alih mengindahkan seruan Abu Yasir, mereka malah mengikuti perkataan Huyay.
Muhammad bin Fariz al-Jamil mengatakan bagaimanapun juga, terlepas dari perbedaan berbagai riwayat mengenai orang Yahudi pertama yang mendatangi Rasulullah, apakah Abu Yasir bin Akhthab atau saudaranya, Huyay, isi perjumpaan itu dan akibat yang ditimbulkannya tidak berbeda: pada akhirnya mereka tidak mengakui kenabian beliau, mendustakan dan memusuhinya.
Menurut Muhammad bin Fariz al-Jamil, kesaksian Ummul Mukminin Shafiyah di atas tidak menjelaskan kepada kita apa yang terjadi antara sang Rasul dan ayah serta pamannya sehingga keduanya pulang dalam keadaan susah dan lesu.
Namun, kata Muhammad bin Fariz al-Jamil, selama mereka menghabiskan sehari penuh bersama Rasulullah, tidaklah mustahil terjadi perdebatan dan dialog yang membuat kedua Yahudi ini yakin akan kenabian Muhammad, yang karena itu mereka memusuhinya.
Dalam riwayat lain yang dilaporkan Ibnu Ishaq, terdapat penjelasan yang mengungkap rahasia permusuhan ini serta menegaskan bahwa Huyay bin Akhthab dan saudaranya, Abu Yasir, adalah orang Yahudi yang paling iri kepada bangsa Arab. Karena, Allah mengistimewakan bangsa Arab dengan pengutusan Rasul-Nya. Mereka berdua pun berusaha sekuat tenaga untuk mencegah orang masuk Islam.
Firman Allah berikut berkaitan dengan dua tokoh Yahudi itu, “Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman, menjadi kafir kembali, karena rasa dengki dalam diri mereka, setelah kebenaran jelas bagi mereka. Maka maafkanlah dan berlapang dadalah, sampai Allah memberikan perintah-Nya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu” ( QS al-Baqarah (2) : 109).
Baca juga: Mengapa Ada Kecaman Terhadap Ahlul Kitab, Terutama Yahudi?
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas , bahwa ayat ini turun mengenai Huyay bin Akhthab dan saudaranya, Abu Yasir, karena kedengkian mereka terhadap orang-orang Arab yang diistimewakan Allah dengan kerasulan Muhammad.
Dari penjelasan di atas, kata Muhammad bin Fariz al-Jamil, jelaslah bahwa sikap Huyay dan Abu Yasir terhadap sang Nabi tidak benar dari segi motifnya. Maksudnya, mereka memperlihatkan pengingkaran atas Muhammad sebagai nabi utusan Allah, tetapi dalam lubuk hati mereka mengakui hal sebaliknya.
Kedengkian lantaran dia merupakan orang Arablah yang mendorong keduanya mengabaikan rasio dan logika. Akibatnya, kaum mereka terhalang dari membenarkan kenabian beliau dan mengikuti ajarannya.
Kemudian ketika Rasulullah berpindah dari Quba' ke Yatsrib, Yahudi pertama yang masuk Islam dari Bani Qainuga adalah rabi dan orang paling berilmu di antara mereka, al-Hushain bin Salam bin al-Harits.
Setelah masuk Islam, dia diberi nama baru oleh beliau: Abdullah. Bersama dia, masuk Islam juga seluruh keluarga dan bibinya, Khalidah binti al-Harits.
Setelah pulang, Urwah mendengarnya berseru kepada kaumnya, “Percayalah padaku, inilah nabi yang kita tunggu-tunggu.”
Namun saudaranya, Huyay bin Akhthab, menentangnya, padahal, Huyay inilah yang disegani kaumnya. Dia dikuasai setan, sehingga alih-alih mengindahkan seruan Abu Yasir, mereka malah mengikuti perkataan Huyay.
Muhammad bin Fariz al-Jamil mengatakan bagaimanapun juga, terlepas dari perbedaan berbagai riwayat mengenai orang Yahudi pertama yang mendatangi Rasulullah, apakah Abu Yasir bin Akhthab atau saudaranya, Huyay, isi perjumpaan itu dan akibat yang ditimbulkannya tidak berbeda: pada akhirnya mereka tidak mengakui kenabian beliau, mendustakan dan memusuhinya.
Menurut Muhammad bin Fariz al-Jamil, kesaksian Ummul Mukminin Shafiyah di atas tidak menjelaskan kepada kita apa yang terjadi antara sang Rasul dan ayah serta pamannya sehingga keduanya pulang dalam keadaan susah dan lesu.
Namun, kata Muhammad bin Fariz al-Jamil, selama mereka menghabiskan sehari penuh bersama Rasulullah, tidaklah mustahil terjadi perdebatan dan dialog yang membuat kedua Yahudi ini yakin akan kenabian Muhammad, yang karena itu mereka memusuhinya.
Dalam riwayat lain yang dilaporkan Ibnu Ishaq, terdapat penjelasan yang mengungkap rahasia permusuhan ini serta menegaskan bahwa Huyay bin Akhthab dan saudaranya, Abu Yasir, adalah orang Yahudi yang paling iri kepada bangsa Arab. Karena, Allah mengistimewakan bangsa Arab dengan pengutusan Rasul-Nya. Mereka berdua pun berusaha sekuat tenaga untuk mencegah orang masuk Islam.
Firman Allah berikut berkaitan dengan dua tokoh Yahudi itu, “Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman, menjadi kafir kembali, karena rasa dengki dalam diri mereka, setelah kebenaran jelas bagi mereka. Maka maafkanlah dan berlapang dadalah, sampai Allah memberikan perintah-Nya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu” ( QS al-Baqarah (2) : 109).
Baca juga: Mengapa Ada Kecaman Terhadap Ahlul Kitab, Terutama Yahudi?
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas , bahwa ayat ini turun mengenai Huyay bin Akhthab dan saudaranya, Abu Yasir, karena kedengkian mereka terhadap orang-orang Arab yang diistimewakan Allah dengan kerasulan Muhammad.
Dari penjelasan di atas, kata Muhammad bin Fariz al-Jamil, jelaslah bahwa sikap Huyay dan Abu Yasir terhadap sang Nabi tidak benar dari segi motifnya. Maksudnya, mereka memperlihatkan pengingkaran atas Muhammad sebagai nabi utusan Allah, tetapi dalam lubuk hati mereka mengakui hal sebaliknya.
Kedengkian lantaran dia merupakan orang Arablah yang mendorong keduanya mengabaikan rasio dan logika. Akibatnya, kaum mereka terhalang dari membenarkan kenabian beliau dan mengikuti ajarannya.
Kemudian ketika Rasulullah berpindah dari Quba' ke Yatsrib, Yahudi pertama yang masuk Islam dari Bani Qainuga adalah rabi dan orang paling berilmu di antara mereka, al-Hushain bin Salam bin al-Harits.
Setelah masuk Islam, dia diberi nama baru oleh beliau: Abdullah. Bersama dia, masuk Islam juga seluruh keluarga dan bibinya, Khalidah binti al-Harits.
Lihat Juga :