Kesaksian Shafiyah: Ini Mengapa sang Ayah yang Tokoh Yahudi Madinah Menolak Masuk Islam
Selasa, 26 Juli 2022 - 16:10 WIB
loading...
A
A
A
Abdullah bin Salam pun menelanjangi kaum Yahudi, dengan mengungkapkan berbagai penyimpangan mereka dalam perdebatan di hadapan Rasulullah.
Kepada mantan kaumnya ini, dia berkata, “Wahai orang-orang Yahudi, takutlah kalian kepada Allah dan terimalah apa yang diutus-Nya kepada kalian. Sesungguhnya, kalian mengetahui dia adalah utusan Allah. Kalian juga mendapati dia tertulis dalam Taurat dengan nama dan sifat-sifatnya.”
Sungguh aku bersaksi bahwa dia adalah utusan Allah, aku beriman kepadanya, serta aku membenarkan dan mengakuinya.”
Akan tetapi, kaumnya menjawab, “Engkau berdusta!” Riwayat ini tidak menyebutkan apakah kemudian Abdullah memberitahu Rasulullah dan para sahabatnya penjelasan tertulis dalam Taurat mengenai pertanda kenabian tersebut atau tidak.
Baca juga: Sifat dan Sikap Ahlul Kitab kepada Muslim Menurut Al-Qur'an
Dalam riwayat dari Sa'id bin Jubair (w. 94 H), terdapat kemiripan dari beberapa segi dengan riwayat Abdullah bin Salam. Sa'id menuturkan, Maimun bin Yamin, seorang pemimpin Yahudi, datang kepada Rasulullah dan menyarankan, 'Kirimlah utusan kepada kaum itu, dan jadikan aku mediator, niscaya mereka mendengarkanku.'
Beliau pun mengutus salah seorang Sahabat guna meminta orang-orang Yahudi datang. Setelah berkumpul, beliau berseru, “Pilihlah seseorang untuk menengahi antara aku dan kalian.”
Mereka menjawab, “Kami percaya pada Maimun bin Yamin.”
Kemudian, beliau menemui Maimun dan berkata, “Keluarlah, temui mereka.”
Maimun keluar dan berkata, “Aku bersaksi bahwa dia utusan Allah.” Alhasil, mereka tetap enggan membenarkan persaksian Maimun.
Maka itu, al-Quran turun menegur orang-orang Yahudi yang ingkar, menyebut mereka zalim, seraya memuji persaksian Abdullah bin Salam akan kebenaran Rasulullah dan kenabiannya dalam ayat berikut:
“Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku, bagaimana pendapatmu jika benar-benar (al-Quran) ini datang dari Allah, dan kamu mengingkarinya, padahal ada seorang saksi dari Bani Israil yang mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) al-Ouran lalu dia beriman, tetapi kamu menyombongkan diri. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” ( QS al-Ahqaf (46) : 10).
Meskipun demikian, pemuka kaum Yahudi seperti Huyay bin Akhthab dan Ka'ab bin Asad, pemimpin Bani Quraizhah, dan yang lainnya tetap membangkang dan bersikap sombong. Mereka menyanggah Abdullah, “Tidak ada kenabian dalam bangsa Arab, tetapi temanmu itu (Muhammad) adalah seorang raja.”
Baca juga: Bagaimana Seharusnya Sikap Terhadap Ahlul Kitab? Begini Pendapat Quraish Shihab
Kepada mantan kaumnya ini, dia berkata, “Wahai orang-orang Yahudi, takutlah kalian kepada Allah dan terimalah apa yang diutus-Nya kepada kalian. Sesungguhnya, kalian mengetahui dia adalah utusan Allah. Kalian juga mendapati dia tertulis dalam Taurat dengan nama dan sifat-sifatnya.”
Sungguh aku bersaksi bahwa dia adalah utusan Allah, aku beriman kepadanya, serta aku membenarkan dan mengakuinya.”
Akan tetapi, kaumnya menjawab, “Engkau berdusta!” Riwayat ini tidak menyebutkan apakah kemudian Abdullah memberitahu Rasulullah dan para sahabatnya penjelasan tertulis dalam Taurat mengenai pertanda kenabian tersebut atau tidak.
Baca juga: Sifat dan Sikap Ahlul Kitab kepada Muslim Menurut Al-Qur'an
Dalam riwayat dari Sa'id bin Jubair (w. 94 H), terdapat kemiripan dari beberapa segi dengan riwayat Abdullah bin Salam. Sa'id menuturkan, Maimun bin Yamin, seorang pemimpin Yahudi, datang kepada Rasulullah dan menyarankan, 'Kirimlah utusan kepada kaum itu, dan jadikan aku mediator, niscaya mereka mendengarkanku.'
Beliau pun mengutus salah seorang Sahabat guna meminta orang-orang Yahudi datang. Setelah berkumpul, beliau berseru, “Pilihlah seseorang untuk menengahi antara aku dan kalian.”
Mereka menjawab, “Kami percaya pada Maimun bin Yamin.”
Kemudian, beliau menemui Maimun dan berkata, “Keluarlah, temui mereka.”
Maimun keluar dan berkata, “Aku bersaksi bahwa dia utusan Allah.” Alhasil, mereka tetap enggan membenarkan persaksian Maimun.
Maka itu, al-Quran turun menegur orang-orang Yahudi yang ingkar, menyebut mereka zalim, seraya memuji persaksian Abdullah bin Salam akan kebenaran Rasulullah dan kenabiannya dalam ayat berikut:
“Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku, bagaimana pendapatmu jika benar-benar (al-Quran) ini datang dari Allah, dan kamu mengingkarinya, padahal ada seorang saksi dari Bani Israil yang mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) al-Ouran lalu dia beriman, tetapi kamu menyombongkan diri. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” ( QS al-Ahqaf (46) : 10).
Meskipun demikian, pemuka kaum Yahudi seperti Huyay bin Akhthab dan Ka'ab bin Asad, pemimpin Bani Quraizhah, dan yang lainnya tetap membangkang dan bersikap sombong. Mereka menyanggah Abdullah, “Tidak ada kenabian dalam bangsa Arab, tetapi temanmu itu (Muhammad) adalah seorang raja.”
Baca juga: Bagaimana Seharusnya Sikap Terhadap Ahlul Kitab? Begini Pendapat Quraish Shihab
(mhy)
Lihat Juga :