Upaya Terakhir Setan Menggoda saat Orang Sakaratul Maut
Sabtu, 13 Agustus 2022 - 15:27 WIB
loading...
A
A
A
“Apabila salah seorang dari kalian membaca tasyahud, hendaklah dia berlindung kepada Allah dari keempat perkara ini, seraya membaca, ‘Allahumma inni a’uzu bika min azaabi Jahannam (Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari azab neraka jahanam), wa min azaabil qabri (dan dari azab kubur), wa min fitnatil mahya wal mamat (dan dari fitnah kehidupan dan kematian) wa min syarri fitnatil masihid-dajjal (dan dari fitnah al-masih Dajal).” [HR. Bukhari, no. 1377 dan Muslim, no. 588]
Baca juga: Merinding! Beginilah Sakaratul Maut yang Dialami Orang Kafir
Wujud Setan
Ibnu Hajar dalam Kitab "Fathul Bari" mengatakan Ibnu Daqiq Al-Id berkata, fitnah kehidupan adalah apa yang dihadapi manusia dalam kehidupannya, berupa fitnah dunia, syahwat, kebodohan dan yang paling besar, kita berlindung kepada Allah, adalah fitnah di penghujung kehidupan menjelang kematian.
Adapun fitnah kematian, boleh dipahami sebagai fitnah menjelang kematian, disandarkan dengan kematian karena sangat dekatnya. Sehingga yang dimaksud dengan fitnah kehidupan adalah apa yang terjadi sebelumnya. Dapat juga yang dimaksud adalah fitnah kubur.
Fitnah setan kepada seorang muslim saat sakaratul maut adalah dengan menimbulkan keraguan sebagaimana mereka lakukan saat seseorang hidup.
Setan kadang berwujud dalam rupa orang yang paling dicintai oleh orang yang sedang sekarat. Sebagian ulama menyebutkan dalam kitab-kitab mereka, “Al-Qurthubi berkata dalam ‘at-tazkirah fi ahwal al-mauta wa umuril akhirah’
Diriwayatkan dari Nabi SAW bahwa seorang hamba jika menghadapi sakratul maut, maka ada dua setan yang duduk di sisinya. Yang satu di sisi kanannya dan yang satunya lagi di sisi kirinya.
Yang berada di sisi kanannya memiliki ciri seperti bapaknya, dia berkata kepadanya, ‘Wahai anakku! Sungguh aku sangat sayang dan cinta kepadamu, akan tetapi matilah dalam agama Nasrani, dia adalah sebaik-baik agama.'
Sedangkan yang di sebelah kiri berwujud seperti ibunya, dia berkata kepadanya, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya dahulu perutku menjadi tempatmu, ASI menjadi minumanmu, pahaku menjadi bantalmu, akan tetapi matilah dalam agama Yahudi, dia adalah sebaik-baik agama.”
Riwayat ini disebutkan oleh Al-Hasan Al-Qabisi dalam ‘Syarah Ibnu Abi Zaid’ yang dia karang dan maknanya disebutkan pula oleh Abu Hamid, dalam kitab ‘Kasyfu Ulumil Akhirah’
Hanya saja, apa yang disebutkan oleh Al-Qurthubi diragukan kesahihannya. As-Suyuthh mengatakan tidak menemukan hadis ini (dalam riwayat shahih).
Baca juga: Dahsyatnya Sakaratul Maut Seperti Tusukan Pedang 300 Kali
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu Al-Fatawa pernah ditanya tentang gangguan setan serupa. Beliau menjawab, adapun ditampilkannya agama kepada seorang hamba menjelang kematiannya sebelum kematiannya bukanlah perkara yang umum berlaku kepada setiap orang, tapi juga tidak dapat dinafikkan tidak terjadi pada setiap orang.
Menurut Ibnu Taimiyah, ada orang yang mengalami godaan diperlihatkan agama-agama menjelang kematiannya, adapula yang tidak. Terjadi pada sebagian kaum. Itu semua masuk dalam katagori fitnah kehidupan dan kematian yang kita diperintahkan untuk mohon kepada Allah dalam sholat-sholat kami.
Akan tetapi saat menjelang kematian, ujar Ibnu Taimiyah, setan lebih bersungguh-sungguh untuk menyesatkan manusia. Saat menjelang kematian adalah saat setan sangat bersungguh-sungguh untuk menyesatkan anak Adam, karena itu adalah saat mereka sangat membutuhkan. Dan Nabi SAW bersabda dalam hadis sahih:
Baca juga: Merinding! Beginilah Sakaratul Maut yang Dialami Orang Kafir
Wujud Setan
Ibnu Hajar dalam Kitab "Fathul Bari" mengatakan Ibnu Daqiq Al-Id berkata, fitnah kehidupan adalah apa yang dihadapi manusia dalam kehidupannya, berupa fitnah dunia, syahwat, kebodohan dan yang paling besar, kita berlindung kepada Allah, adalah fitnah di penghujung kehidupan menjelang kematian.
Adapun fitnah kematian, boleh dipahami sebagai fitnah menjelang kematian, disandarkan dengan kematian karena sangat dekatnya. Sehingga yang dimaksud dengan fitnah kehidupan adalah apa yang terjadi sebelumnya. Dapat juga yang dimaksud adalah fitnah kubur.
Fitnah setan kepada seorang muslim saat sakaratul maut adalah dengan menimbulkan keraguan sebagaimana mereka lakukan saat seseorang hidup.
Setan kadang berwujud dalam rupa orang yang paling dicintai oleh orang yang sedang sekarat. Sebagian ulama menyebutkan dalam kitab-kitab mereka, “Al-Qurthubi berkata dalam ‘at-tazkirah fi ahwal al-mauta wa umuril akhirah’
Diriwayatkan dari Nabi SAW bahwa seorang hamba jika menghadapi sakratul maut, maka ada dua setan yang duduk di sisinya. Yang satu di sisi kanannya dan yang satunya lagi di sisi kirinya.
Yang berada di sisi kanannya memiliki ciri seperti bapaknya, dia berkata kepadanya, ‘Wahai anakku! Sungguh aku sangat sayang dan cinta kepadamu, akan tetapi matilah dalam agama Nasrani, dia adalah sebaik-baik agama.'
Sedangkan yang di sebelah kiri berwujud seperti ibunya, dia berkata kepadanya, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya dahulu perutku menjadi tempatmu, ASI menjadi minumanmu, pahaku menjadi bantalmu, akan tetapi matilah dalam agama Yahudi, dia adalah sebaik-baik agama.”
Riwayat ini disebutkan oleh Al-Hasan Al-Qabisi dalam ‘Syarah Ibnu Abi Zaid’ yang dia karang dan maknanya disebutkan pula oleh Abu Hamid, dalam kitab ‘Kasyfu Ulumil Akhirah’
Hanya saja, apa yang disebutkan oleh Al-Qurthubi diragukan kesahihannya. As-Suyuthh mengatakan tidak menemukan hadis ini (dalam riwayat shahih).
Baca juga: Dahsyatnya Sakaratul Maut Seperti Tusukan Pedang 300 Kali
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu Al-Fatawa pernah ditanya tentang gangguan setan serupa. Beliau menjawab, adapun ditampilkannya agama kepada seorang hamba menjelang kematiannya sebelum kematiannya bukanlah perkara yang umum berlaku kepada setiap orang, tapi juga tidak dapat dinafikkan tidak terjadi pada setiap orang.
Menurut Ibnu Taimiyah, ada orang yang mengalami godaan diperlihatkan agama-agama menjelang kematiannya, adapula yang tidak. Terjadi pada sebagian kaum. Itu semua masuk dalam katagori fitnah kehidupan dan kematian yang kita diperintahkan untuk mohon kepada Allah dalam sholat-sholat kami.
Akan tetapi saat menjelang kematian, ujar Ibnu Taimiyah, setan lebih bersungguh-sungguh untuk menyesatkan manusia. Saat menjelang kematian adalah saat setan sangat bersungguh-sungguh untuk menyesatkan anak Adam, karena itu adalah saat mereka sangat membutuhkan. Dan Nabi SAW bersabda dalam hadis sahih:
Lihat Juga :