Sejarah Sholawat Thala Al Badru 'Alaina Lengkap Lirik dan Artinya

loading...
Sejarah Sholawat Thala Al Badru Alaina Lengkap Lirik dan Artinya
Sholawat Thala Al Badru Alaina bergema saat menyambut kedatangan Rasulullah SAW di Madinah. Foto ilustrasi/tangkapan layar Channel Uloom Pao Aniego
Sejarah Sholawat Thala Al Badru 'Alaina (طلع البدر علينا‎) sering dikaitkan dengan peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Kala itu, kaum Anshor (penduduk Madinah) menyanyikan sholawat ini untuk menyambut kedatangan Rasulullah pada Tahun 622 M.

Hingga kini sholawat "Thala 'Al Badru 'Alaina" sering disenandungkan dengan berbagai irama sebagai bentuk pujian kepada Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam.

Para ulama berbeda pendapat tentang keshahihan Sholawat Thala 'Al Badru 'Alaina. Ada yang mengatakan hadisnya dhaif (lemah) karena ada sanad yang terputus.

Di antara yang meriwayatkannya adalah Imam Al-Baihaqi dalam Kitab Dalail An-Nubuwwah (5/266) dari (Ubaidullah) Ibnu Aisyah ia berkata: Ketika Nabi shollallohu 'alaihi wasallam datang ke Madinah, para wanita, anak-anak mengucapkan: "Thala 'al-badru 'alayna. Min tsaniyatil-Wadaa'. Wajab al-syukru 'alayna, Maa da'aa lillaahi daa'(Wahai bulan purnama yang terbit kepada kita. Dari lembah Wada'. Dan wajiblah kita mengucap syukur. Di mana seruan adalah kepada Allah)."

Imam Al-Baihaqi berkata: "Hal ini disebutkan oleh para ulama kita saat kedatangan beliau ﷺ ke Madinah dari Mekkah. Dan telah kami sebutkan saat itu, bukan saat beliau datang ke Madinah dari Tsaniyyatil Wada' dari Tabuk, wallahu a'lam, maka kami sebutkan juga di sini.

Mengutip keterangan ilmusyariah, Syihabuddin Al-Qasthillani menyebutkan dalam Al-Mawahib Al-Ladunniyyah (1/184-185) bahwa selain Al-Baihaqi dalam Dalail An-Nubuwwah, sholawat Thala 'Al Badru juga diriwayatkan oleh Abu Al-Hasan Al-Muqri dalam Kitab Asy-Syamail dari Ibnu 'Aisyah.

Imam Ath-Thabari (Abul 'Abbas Muhibbuddin Ahmad bin 'Abdillah, seorang ulama Hadits) dalam Kitab Ar-Riyadh juga meriwayatkannya dan beliau berkata: "Al-Hulwani telah mengeluarkannya sesuai persyaratan Asy-Syaikhain (yaitu Al-Bukhari dan Muslim)."

Ibnu Hajar Al-Asqlani menyebutkan dalam Fath Al-Bari (7/261-262, 8/129) dan menyatakan sanadnya munqathi' (terputus). Dan menurut beliau mungkin saja itu terjadi saat kedatangan beliau dari Tabuk. Begitu pula guru beliau, Zainuddin Al-'Iraqi menyatakan sanadnya mu'dhal dalam Takhrij Al-Ihya.

Meski para ulama berbeda pendapat dalam menilai keshahihan riwayatnya, namun mayoritas mereka tidak mempermasalahkannya. Karena temanya adalah kisah dan tidak terkait dengan aqidah dan penetapan hukum halal dan haram.

Imam An-Nawawi menyebutkan dalam Kitabnya At-Taqrib (hlm 48): "Dan menurut Ahli Hadits dan ulama selain mereka boleh memudahkan (periwayatan) sanad dan riwayat yang dha'if asal bukan yang palsu. Dan juga mengamalkannya tanpa menjelaskan status dhaifnya dalam masalah yang bukan sifat-sifat Allah, juga bukan hukum seperti halal dan haram. Dan hal itu (diperbolehkan) terkait kisah, keutamaan amal, nasihat dan lain-lain yang tidak ada hubungannya dengan aqidah dan hukum. Wallahu A'lam

Maksud Tsaniyyatul Wada'
Tsaniyyat (ثنيات) adalah bentuk jamak dari tsaniyyah (ثنيّة), arinya jalan di gunung atau bukit. Al-Wada’ (الوداع) artinya perpisahan.

Disebut Tsaniyatul Wada karena penduduk Madinah sudah sejak lama menjadikan tempat itu untuk melepas orang yang akan bepergian jauh diantara mereka. Tsaniyyatul Wada ini terletak di arah menuju Syam (sebelah utara Madinah), hal ini menjadi salah satu alasan sebagian pihak yang menolak thala’al badru sebagai ungkapan menyambut kedatangan Rasulullah SAW dari Mekkah, karena Mekkah berada di arah Selatan Madinah.

Alasan ini bisa dijawab dengan dua hal:
1. Bahwa Rasulullah SAW memang masuk ke dalam Madinah melalui arah Syam karena beliau melepas kendali untanya sambil mengatakan "دعوها فإنها مأمورة" (Biarkan dia, karena ia diperintahkan). Rasulullah SAW memasuki Madinah dari perkampungan Bani Sa'idah dan perkampungan ini di utara Madinah dekat Tsaniyyatul Wada.

Bahkan sebagian ulama menyebutkan bahwa saat itu Madinah hanya dimasuki melalui arah Syam. Diantara buktinya adalah saat perang Khandaq kaum muslimin menggali parit di utara Madinah untuk menghalangi pasukan sekutu yang datang dari Mekkah.

2. Andai kita menganggap bahwa Rasulullah SAW memasuki Madinah dari arah Mekkah (Selatan), maka yang dimaksud Tsaniyyatul Wada' adalah semua arah menuju Madinah yang biasa digunakan untuk melepas musafir keluar Madinah, termasuk dari arah Mekkah. Seperti yang disebutkan Al-Qasthillani dalam Al-Mawahib mengutip Ibnu Al-‘Iraqi. Sebagai buktinya, dalam thala 'Al badru, kata Tsaniyatul Wada diungkapkan dalam bentuk jamak (plural) ثنيّات tidak hanya satu tsaniyyah.

Lirik Sholawat Thala Al Badru 'Alaina

طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا، مِنْ ثَنِيَّةِ الْوَدَاعِ

Thola'al badru 'alainaa, min Tsaniyyatil Wadaa
Artinya: "Wahai bulan purnama yang terbit kepada kita. Dari lembah Wada."

وَجَبَ الشُّکْرُ عَلَيْنَا، مَا دَعَا لِلهِ دَاعِ

Wajabas syakru ‘alainaa, maa da’aa lillahi daa’i
Artinya: "Wajiblah kita bersyukur atasnya, ketika seorang penyeru mengajak kepada Allah."

َيُّهَا الْمَبْعُوْثُ فِيْنَا، جِئْتَ بِالْأَمْرِ الْمُطَاعِ

Ayyuhal mab'utsuu fiinaa, ji'ta bilamril mutho'
Artinya: "Wahai yang diutus kepada kami, engkau datang dengan perintah yang ditaati."

أَنْتَ غَوْثُنَا جَمِيْعًا، يَا مُجَمَّلَ الطِّبّاعِ

Anta ghoutsuna jamii’an, ya mujammalath thibaa’i
Artinya: "Engkaulah pelindung kami, wahai yang indah budi."
halaman ke-1
preload video