Keadilan Ilahi: Si A Diciptakan dengan segala Kenikmatan, Sedang si B dalam Bencana
Kamis, 18 Agustus 2022 - 15:53 WIB
loading...
A
A
A
Bukankah jika Anda hanya melihat kaki seseorang dipotong, Anda akan menilainya kejam, tetapi bila Anda mengetahui bahwa sang dokterlah yang mengamputasi pasiennya, Anda justru akan berterima kasih dan memujinya? Karena itu, jangan memandang kebijaksanaan Allah secara mikro. Kalaupun Anda tidak mampu memandangnya secara makro, yakinilah bahwa ada hikmah di balik semua itu.
"Boleh jadi nalar Anda belum puas. Sekali lagi, mengapa ada kejahatan, ada setan yang diciptakan-Nya untuk menggoda, atau ada nasib baik dan nasib buruk yang dialami manusia?" ujar Quraish Shihab.
Al-Quran menyatakan bahwa jenis manusia adalah satu kesatuan, "Manusia itu adalah untuk umat yang satu" ( QS Al-Baqarah [2] : 213)
Bahkan seluruh jagat raya merupakan satu kesatuan. "Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan adalah umat (satu kesatuan) seperti kamu juga. Tidak Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab (pengetahuan Tuhan). Kemudian kepada Tuhanmulah mereka dihimpunkan" ( QS Al-An'am [6] : 38).
Baca juga: Bukti-Bukti Keesaan Tuhan Menurut Quraish Shihab
Jika demikian, pribadi demi pribadi secara sadar atau tidak, bekerja sama dan saling menopang demi kebahagiaan bersama, dan untuk itu ada di antara mereka yang menjadi "korban" demi kebahagiaan makhluk secara keseluruhan. Pengurbanan itu merupakan syarat kesempurnaan jenis makhluk, termasuk manusia. Kurban (yang mengalami "keburukan") harus ada, demi mewujudnya kebaikan dan keindahan.
Quraish Shihab mengatakan bagaimana mungkin manusia mengetahui arti berani, jika tidak ada bahaya? Bagaimana mereka mengetahui nikmatnya sehat, bila tidak merasakan sakit? Apa artinya kesabaran jika tidak ada malapetaka? Nah, siapakah yang harus mengalami semua itu? Jika bukan makhluk juga?
Apabila penderitaan itu terjadi karena kesalahan, maka setimpallah akibat dengan ulahnya. Sedangkan apabila tidak bersalah, maka pengorbanan manusia akan beroleh ganjaran di sisi Allah, yakni pengampunan dosa dan ketinggian derajat di akhirat sana (QS Al-Baqarah [2]: 155-157).
Patut dicatat, kata Quraish Shihab, bahwa Allah memberikan potensi kepada manusia untuk mampu memikul kesedihan dan melupakannya, begitu kata pakar psikologi dan begitu juga isyarat Al-Quran.
"Tidak satu petaka pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia (Allah) akan memberi petunjuk kepada hatinya, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu"( QS Al-Taghabun [64] : 11).
Manusia harus bekerja sama memikul bencana untuk mencapai dan memahami tujuan keberadaannya.
Quraish Shihab mengatakan Anda boleh bertanya, "Mengapa kerja sama itu harus ada? Bukankah Allah Mahamutlak kesempurnaan dan kekuasaanNya, sehingga Dia kuasa menciptakan alam tanpa kekurangan atau pun tanpa kerja sama?"
Baca juga: Quraish Shihab: Ibadah Bukan Hanya Ritual di Masjid
"Boleh jadi nalar Anda belum puas. Sekali lagi, mengapa ada kejahatan, ada setan yang diciptakan-Nya untuk menggoda, atau ada nasib baik dan nasib buruk yang dialami manusia?" ujar Quraish Shihab.
Al-Quran menyatakan bahwa jenis manusia adalah satu kesatuan, "Manusia itu adalah untuk umat yang satu" ( QS Al-Baqarah [2] : 213)
Bahkan seluruh jagat raya merupakan satu kesatuan. "Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan adalah umat (satu kesatuan) seperti kamu juga. Tidak Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab (pengetahuan Tuhan). Kemudian kepada Tuhanmulah mereka dihimpunkan" ( QS Al-An'am [6] : 38).
Baca juga: Bukti-Bukti Keesaan Tuhan Menurut Quraish Shihab
Jika demikian, pribadi demi pribadi secara sadar atau tidak, bekerja sama dan saling menopang demi kebahagiaan bersama, dan untuk itu ada di antara mereka yang menjadi "korban" demi kebahagiaan makhluk secara keseluruhan. Pengurbanan itu merupakan syarat kesempurnaan jenis makhluk, termasuk manusia. Kurban (yang mengalami "keburukan") harus ada, demi mewujudnya kebaikan dan keindahan.
Quraish Shihab mengatakan bagaimana mungkin manusia mengetahui arti berani, jika tidak ada bahaya? Bagaimana mereka mengetahui nikmatnya sehat, bila tidak merasakan sakit? Apa artinya kesabaran jika tidak ada malapetaka? Nah, siapakah yang harus mengalami semua itu? Jika bukan makhluk juga?
Apabila penderitaan itu terjadi karena kesalahan, maka setimpallah akibat dengan ulahnya. Sedangkan apabila tidak bersalah, maka pengorbanan manusia akan beroleh ganjaran di sisi Allah, yakni pengampunan dosa dan ketinggian derajat di akhirat sana (QS Al-Baqarah [2]: 155-157).
Patut dicatat, kata Quraish Shihab, bahwa Allah memberikan potensi kepada manusia untuk mampu memikul kesedihan dan melupakannya, begitu kata pakar psikologi dan begitu juga isyarat Al-Quran.
"Tidak satu petaka pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia (Allah) akan memberi petunjuk kepada hatinya, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu"( QS Al-Taghabun [64] : 11).
Manusia harus bekerja sama memikul bencana untuk mencapai dan memahami tujuan keberadaannya.
Quraish Shihab mengatakan Anda boleh bertanya, "Mengapa kerja sama itu harus ada? Bukankah Allah Mahamutlak kesempurnaan dan kekuasaanNya, sehingga Dia kuasa menciptakan alam tanpa kekurangan atau pun tanpa kerja sama?"
Baca juga: Quraish Shihab: Ibadah Bukan Hanya Ritual di Masjid
Lihat Juga :