Ketika KH Ahmad Dahlan Undang Tokoh Komunis Semaoen dan Darsono
Rabu, 31 Agustus 2022 - 13:37 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Masjid Selawe dan Silsilah Lahirnya Pendiri NU KH Hasyim Asyari
Ketum PKI Pertama
Sekadar mengingatkan, Semaun adalah Ketua Umum Pertama Partai Komunis Indonesia (PKI) pertama. Lelaki kelahiran Jombang, Jawa Timur, pada 1899 sebelumnya sebagai propaganaris Indische Sociaal-Democratische Vereeniging, organisasi sosial demokrat Hindia Belanda (ISDV).
Bersama-sama dengan Alimin dan Darsono, Semaoen mewujudkan cita-cita Sneevliet untuk memperbesar dan memperkuat gerakan komunis di Hindia Belanda. Pada 23 Mei 1920, Semaoen mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia. Tujuh bulan kemudian, namanya diubah menjadi Partai Komunis Indonesia dan Semaoen sebagai ketuanya.
Hakikat politik adalah lobi dan komunikasi. Oleh karena itu dalam implementasinya harus cair, tidak perlu dibatasi oleh sekat partai atau golongan apa pun. KH Ahmad Dahlan telah memberikan contoh nyata tentang hal tersebut.
Tatkala awal pendirian Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan juga bergabung dengan Boedi Oetomo untuk belajar keorganisasian. Belakangan dr Soetomo selaku pendiri Boedi Oetomo pun bersedia bergabung dengan Muhammadiyah.
Soetomo bahkan memimpin amal usaha kesehatan (klinik) Muhammadiyah di Surabaya, yang kini berkembang menjadi RS Muhammaidyah Mas Mansyur Surabaya.
Dikisahkan juga, seusai membentuk Aisyiyah, KH Dahlan mengundang tokoh komunis dari Kepanjen, Malang, Woro Sastroatmojo.
Dengan bersemangat, Woro dan satu rekannya secara fasih menguraikan tentang gerakan Sarekat Islam “Merah” dengan tegas dan lancar. “Bukan intisari pidatonya si pembicara, melainkan tegak-tegap sigap cakap-cukupnya wanita pembicara dan semangatnya,” tulis Kiai Syuja’, yang murid langsung Kiai Dahlan, tentang maksud mengundang tokoh komunis itu.
Tak lama berselang, Kiai Dahlan juga menerima permintaan dua tokoh ISDV, Semaoen dan Darsono, untuk berpidato di rapat terbuka Muhammadiyah.
Berbeda dengan rapat Muhammadiyah yang biasanya diawali doa, kali ini langsung dengan ketukan palu sebagai tanda acara telah dibuka. “Semaoen dalam pidatonya menerangkan di sekitar sama rata sama rasa, yang di atas diturunkan, yang di bawah dijunjung,” cerita Syuja’.
Ketum PKI Pertama
Sekadar mengingatkan, Semaun adalah Ketua Umum Pertama Partai Komunis Indonesia (PKI) pertama. Lelaki kelahiran Jombang, Jawa Timur, pada 1899 sebelumnya sebagai propaganaris Indische Sociaal-Democratische Vereeniging, organisasi sosial demokrat Hindia Belanda (ISDV).
Bersama-sama dengan Alimin dan Darsono, Semaoen mewujudkan cita-cita Sneevliet untuk memperbesar dan memperkuat gerakan komunis di Hindia Belanda. Pada 23 Mei 1920, Semaoen mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia. Tujuh bulan kemudian, namanya diubah menjadi Partai Komunis Indonesia dan Semaoen sebagai ketuanya.
Hakikat politik adalah lobi dan komunikasi. Oleh karena itu dalam implementasinya harus cair, tidak perlu dibatasi oleh sekat partai atau golongan apa pun. KH Ahmad Dahlan telah memberikan contoh nyata tentang hal tersebut.
Tatkala awal pendirian Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan juga bergabung dengan Boedi Oetomo untuk belajar keorganisasian. Belakangan dr Soetomo selaku pendiri Boedi Oetomo pun bersedia bergabung dengan Muhammadiyah.
Soetomo bahkan memimpin amal usaha kesehatan (klinik) Muhammadiyah di Surabaya, yang kini berkembang menjadi RS Muhammaidyah Mas Mansyur Surabaya.
Dikisahkan juga, seusai membentuk Aisyiyah, KH Dahlan mengundang tokoh komunis dari Kepanjen, Malang, Woro Sastroatmojo.
Dengan bersemangat, Woro dan satu rekannya secara fasih menguraikan tentang gerakan Sarekat Islam “Merah” dengan tegas dan lancar. “Bukan intisari pidatonya si pembicara, melainkan tegak-tegap sigap cakap-cukupnya wanita pembicara dan semangatnya,” tulis Kiai Syuja’, yang murid langsung Kiai Dahlan, tentang maksud mengundang tokoh komunis itu.
Tak lama berselang, Kiai Dahlan juga menerima permintaan dua tokoh ISDV, Semaoen dan Darsono, untuk berpidato di rapat terbuka Muhammadiyah.
Berbeda dengan rapat Muhammadiyah yang biasanya diawali doa, kali ini langsung dengan ketukan palu sebagai tanda acara telah dibuka. “Semaoen dalam pidatonya menerangkan di sekitar sama rata sama rasa, yang di atas diturunkan, yang di bawah dijunjung,” cerita Syuja’.
Lihat Juga :