Diam Ketika Melihat Kezaliman dan Kemungkaran, Begini Hukumnya
Kamis, 08 September 2022 - 16:45 WIB
loading...
A
A
A
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ
Artinya: "Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman." (HR Muslim 49)
Para ulama mengatakan, diam terhadap kemungkaran dan kezaliman adalah setan bisu. Abu Ali Ad-Daqaq rahimahullah mengatakan:
ُ مَنْ سَكَتَعَن ِالْحَقِّفَهُوَ شَيْطَانٌ أَخْرَسُ
Artinya: "Siapa yang diam saja, tidak menyatakan Al-Haq (kebenaran), maka dia adalah setan bisu." (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/20)
Kisah Hikmah
Dai yang juga Presiden Nusantara Foundation Imam Shamsi Ali dalam satu tausiyahnya menceritakan sebuah kisah tentang orang yang membiarkan kemungkaran. Diceritakan bahwa suatu ketika Allah memerintahkan Malaikat untuk menghacurkan sebuah kota atau kampung (qaryah).
Setiba di kampung itu sang malaikat ternyata menemukan ada seorang yang saleh, yang kerjanya hanya beribadah dan berdzikir. Malaikat pun menjadi ragu melakukan perintah Allah itu.
Maka dia kembali menyampaikan kepada Allah bahwa ada seorang yang ahli ibadah dan dzikir di kampung itu. Kalau kampung itu dihancurkan maka dia akan ikut jadi korban.
Betapa mengejutkan, Allah ternyata berkata kepada sang Malaikat itu: "Hancurkanlah dulu orang itu. Karena dia sadar akan agama dan Tuhan, tapi tidak peduli dengan berbagai kejahatan dan dosa di kampung itu".
Di tengah dunia yang penuh fitnah saat ini, kewajiban umat muslim perlu diambil secara serius. Kita sering melihat kemungkaran dipertontonkan seperti perzinahan, judi, korupsi, ketidakadilan hukum dan kebenaran yang diputarbalikkan. Dan masih banyak lagi kemungkaran lainnya.
Imam Shamsi Ali mentatakan, diam di hadapan kemungkaran sejatinya adalah kemungkaran itu sendiri. Diam di hadapan pelaku kemungkaran adalah melakukan kemungkaran tersendiri.
Artinya: "Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman." (HR Muslim 49)
Para ulama mengatakan, diam terhadap kemungkaran dan kezaliman adalah setan bisu. Abu Ali Ad-Daqaq rahimahullah mengatakan:
ُ مَنْ سَكَتَعَن ِالْحَقِّفَهُوَ شَيْطَانٌ أَخْرَسُ
Artinya: "Siapa yang diam saja, tidak menyatakan Al-Haq (kebenaran), maka dia adalah setan bisu." (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/20)
Kisah Hikmah
Dai yang juga Presiden Nusantara Foundation Imam Shamsi Ali dalam satu tausiyahnya menceritakan sebuah kisah tentang orang yang membiarkan kemungkaran. Diceritakan bahwa suatu ketika Allah memerintahkan Malaikat untuk menghacurkan sebuah kota atau kampung (qaryah).
Setiba di kampung itu sang malaikat ternyata menemukan ada seorang yang saleh, yang kerjanya hanya beribadah dan berdzikir. Malaikat pun menjadi ragu melakukan perintah Allah itu.
Maka dia kembali menyampaikan kepada Allah bahwa ada seorang yang ahli ibadah dan dzikir di kampung itu. Kalau kampung itu dihancurkan maka dia akan ikut jadi korban.
Betapa mengejutkan, Allah ternyata berkata kepada sang Malaikat itu: "Hancurkanlah dulu orang itu. Karena dia sadar akan agama dan Tuhan, tapi tidak peduli dengan berbagai kejahatan dan dosa di kampung itu".
Di tengah dunia yang penuh fitnah saat ini, kewajiban umat muslim perlu diambil secara serius. Kita sering melihat kemungkaran dipertontonkan seperti perzinahan, judi, korupsi, ketidakadilan hukum dan kebenaran yang diputarbalikkan. Dan masih banyak lagi kemungkaran lainnya.
Imam Shamsi Ali mentatakan, diam di hadapan kemungkaran sejatinya adalah kemungkaran itu sendiri. Diam di hadapan pelaku kemungkaran adalah melakukan kemungkaran tersendiri.
Lihat Juga :