Obat Hati adalah Berteman dengan Orang Shaleh, Begini Penjelasannya

loading...
Obat Hati adalah Berteman dengan Orang Shaleh, Begini Penjelasannya
Islam memperhatikan setiap orang tentang pentingnya pertemanan. Jika kita ingin menjadi orang shaleh, hendaklah berusaha berkawan dan berkumpul dengan orang-orang shaleh. Foto ilustrasi/ist
Berteman dengan orang shaleh bisa menjadi obat untuk hati di kala diri merasa banyak dosa. Imam Al Nawawi dalam kitabnya Al Adzkar bahkan menyebutkan bahwa berteman dengan orang shaleh adalah obatnya hati.

Penawar hati itu ada lima : membaca al-Qur’an dengan tadabbur (perenungan), kosongnya perut (dengan puasa-pen), qiyâmul lail (shalat malam), berdoa di waktu sahar (waktu akhir malam sebelum Shubuh), dan duduk bersama orang-orang shaleh”.

Baca juga: Keutamaan Bergaul dengan Waliyullah dan Orang Saleh

Artinya bahwa kebaikan akan mengajarkan sifat terpuji lainnya. Bahkan dalam al-Qur’an dikatakan, pada hari kiamat nanti orang-orang yang saling berteman dalam kemaksiatan akan menjadi musuh satu sama lain karena saling menyalahkan satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.

“Teman–teman akrab pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang–orang yang bertakwa.” (QS az-Zukhruf : 67).

Karena itulah Islam memperhatikan setiap orang tentang pentingnya pertemanan. Jika kita ingin menjadi orang shaleh, hendaklah berusaha berkawan dan berkumpul dengan orang-orang shaleh .

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ


Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allâh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At-Taubah : 119)

Ini berlaku bagi laki-laki dan wanita. Seorang Muslim hendaknya mencari, bergaul, dan menjadikan laki-laki yang shalih sebagai kawan-kawannya. Dan wanita Muslimah hendaknya mencari, bergaul, dan menjadikan wanita-wanita shalehah sebagai kawan-kawannya. Jangan merasa rendah bergaul dengan orang-orang yang taat, walaupun mereka orang-orang yang kekurangan secara duniawi, namun mereka memiliki derajat di sisi Allâh Yang Maha Tinggi.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَاۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا


Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan di senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” (QS. Al-Kahfi : 28).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’dirahimahullah dalam bukunya Taisir Karimir Rahman, saat menerangkan surat Al-Kahfi ayat 28, mengatakan bahwa Allâh Azza wa Jalla memerintahkan Nabi-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau bersabar bersama orang-orang Mukmin, orang-orang yang beribadah, orang-orang yang banyak kembali (bertaubat) kepada Allâh. Yaitu orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan di senja hari, yaitu di awal dan akhir siang, mereka mengharap keridhaan-Nya. Allâh Azza wa Jalla menyifati mereka dengan ibadah dan ikhlas dalam beribadah.

Di dalam ayat ini terdapat perintah untuk berkawan dengan orang-orang baik, menundukkan jiwa untuk berkawan dan bergaul dengan mereka, walaupun mereka adalah orang-orang miskin, karena sesungguhnya berkawan dengan mereka terdapat faedah-faedah yang tidak terbatas”.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Seseorang itu mengikuti din (agama; tabiat; akhlaq) kawan dekatnya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan kawan dekat." (HR. Abu Dawud).

Berkawan dengan orang shaleh membawa dampak yang baik, karena kawan itu akan mempengaruhi kawannya. Jika kawan itu shalih akan membawa kepada kebaikan, sebaliknya jika kawan itu buruk akan membawa kepada keburukan.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamtelah menjelaskan hal ini di dalam hadis shahih sebagaimana riwayat berikut ini:

Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”. (HR. Bukhari).
halaman ke-1
preload video