3 Sahabat Nabi Muhammad SAW Paling Cerdas
Senin, 17 Oktober 2022 - 23:53 WIB
loading...
A
A
A
Sahabat Nabi ini dijuluki cendekiawan muslim di masa Rasulullah SAW. Beliaulah orang yang paling mengetahui perkara halal dan haram. Nama julukannya adalah Abu Abdurahman.
Beliau lahir di Madinah dan memeluk Islam pada usia 18 tahun. Kelebihan Mu'adz yang paling menonjol ialah mengerti masalah fiqih atau ahli dalam soal hukum. Keahliannya dalam fiqih dan ilmu pengetahuan ini mendapat pujian dari Rasulullah SAW: "Ummatku yang paling tahu akan yang halal dan yang haram ialah Mu'adz bin Jabal."
Dalam kecerdasan otak dan keberanian mengemukakan pendapat, Mu'adz hampir sama dengan Khalifah Umar bin Khatthab. Ketika Rasulullah hendak mengirimnya ke Yaman, lebih dulu ditanyainya: "Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu, hai Mu'adz? "Kitabullah," kata Mu'adz. Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam Kitabullah? tanya Rasulullah pula.
"Saya putuskan dengan Sunnah Rasul," jawab Mu'adz. Jika tidak kamu temui dalam Sunnah Rasulullah? "Saya pergunakan fikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia". Maka berseri-serilah wajah Rasulullah sembari bersabda: "Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhai oleh Rasulullah."
Karena kecerdasannya, banyak sahabat yang meminta pendapat kepadanya termasuk Umar bin Khaththab. Mu'adz adalah orang yang murah tangan dan lapang hati. Saat Abu Ubaidah meninggal, Mu'adz diangkat oleh Umar sebagai Gubernur Suriah. Tapi hanya beberapa bulan, Mu'adz wafat Syahid pada usia sekitar 33 tahun.
Mu'adz pernah bertutur: "Ilmu itu ialah mengenal dan beramal. Pelajarilah segala ilmu yang kalian sukai, tetapi Allah tidak akan memberi kalian manfaat dengan ilmu itu sebelum mengamalkannya terlebih dahulu."
3. Zaid bin Tsabit
Zaid bin Tsabit an-Najjari al-Anshari (612- 637/15 Hijriyah) adalah sahabat Nabi Muhammad yang merupakan penulis wahyu dan surat-surat Nabi. Ketika berusia berusia 11 tahun, Zaid bin Tsabit dikabarkan telah menghafal 11 Surat Al-Qur'an.
Beliau dikenal sebagai penghimpun kitab suci Al-Qur'an. Kelebihan Zaid radhiyallahu 'anhu adalah memiliki kekuatan daya ingat sehingga diangkat sebagai penulis wahyu dan surat-surat Rasulullah SAW. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit bahwa Rasulullah berkata kepadanya: "Aku berkirim surat kepada orang, dan aku khawatir, mereka akan menambah atau mengurangi surat-suratku itu, maka pelajarilah bahasa Suryani", kemudian aku mempelajarinya selama 17 hari, dan bahasa Ibrani selama 15 hari.
Pada zaman kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, Zaid bin Tsabit diamanahkan mengumpulkan dan menuliskan kembali Al-Qur'an dalam satu mushaf. Dalam perang Al-Yamamah banyak penghafal Al-Quran yang gugur, sehingga membuat Umar bin Khattab cemas dan mengusulkan kepada Abu Bakar untuk menghimpun Al-Qur'an sebelum para penghafal lainnya gugur.
Mereka kemudian memanggil Zaid bin Tsabit dan Abu Bakar berkata kepadanya: "Anda adalah seorang pemuda yang cerdas dan kami tidak meragukanmu". Setelah itu Abu Bakar menyuruh Zaid bin Tsabit untuk menghimpun Al-Qur'an.
Beliau lahir di Madinah dan memeluk Islam pada usia 18 tahun. Kelebihan Mu'adz yang paling menonjol ialah mengerti masalah fiqih atau ahli dalam soal hukum. Keahliannya dalam fiqih dan ilmu pengetahuan ini mendapat pujian dari Rasulullah SAW: "Ummatku yang paling tahu akan yang halal dan yang haram ialah Mu'adz bin Jabal."
Dalam kecerdasan otak dan keberanian mengemukakan pendapat, Mu'adz hampir sama dengan Khalifah Umar bin Khatthab. Ketika Rasulullah hendak mengirimnya ke Yaman, lebih dulu ditanyainya: "Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu, hai Mu'adz? "Kitabullah," kata Mu'adz. Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam Kitabullah? tanya Rasulullah pula.
"Saya putuskan dengan Sunnah Rasul," jawab Mu'adz. Jika tidak kamu temui dalam Sunnah Rasulullah? "Saya pergunakan fikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia". Maka berseri-serilah wajah Rasulullah sembari bersabda: "Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhai oleh Rasulullah."
Karena kecerdasannya, banyak sahabat yang meminta pendapat kepadanya termasuk Umar bin Khaththab. Mu'adz adalah orang yang murah tangan dan lapang hati. Saat Abu Ubaidah meninggal, Mu'adz diangkat oleh Umar sebagai Gubernur Suriah. Tapi hanya beberapa bulan, Mu'adz wafat Syahid pada usia sekitar 33 tahun.
Mu'adz pernah bertutur: "Ilmu itu ialah mengenal dan beramal. Pelajarilah segala ilmu yang kalian sukai, tetapi Allah tidak akan memberi kalian manfaat dengan ilmu itu sebelum mengamalkannya terlebih dahulu."
3. Zaid bin Tsabit
Zaid bin Tsabit an-Najjari al-Anshari (612- 637/15 Hijriyah) adalah sahabat Nabi Muhammad yang merupakan penulis wahyu dan surat-surat Nabi. Ketika berusia berusia 11 tahun, Zaid bin Tsabit dikabarkan telah menghafal 11 Surat Al-Qur'an.
Beliau dikenal sebagai penghimpun kitab suci Al-Qur'an. Kelebihan Zaid radhiyallahu 'anhu adalah memiliki kekuatan daya ingat sehingga diangkat sebagai penulis wahyu dan surat-surat Rasulullah SAW. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit bahwa Rasulullah berkata kepadanya: "Aku berkirim surat kepada orang, dan aku khawatir, mereka akan menambah atau mengurangi surat-suratku itu, maka pelajarilah bahasa Suryani", kemudian aku mempelajarinya selama 17 hari, dan bahasa Ibrani selama 15 hari.
Pada zaman kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, Zaid bin Tsabit diamanahkan mengumpulkan dan menuliskan kembali Al-Qur'an dalam satu mushaf. Dalam perang Al-Yamamah banyak penghafal Al-Quran yang gugur, sehingga membuat Umar bin Khattab cemas dan mengusulkan kepada Abu Bakar untuk menghimpun Al-Qur'an sebelum para penghafal lainnya gugur.
Mereka kemudian memanggil Zaid bin Tsabit dan Abu Bakar berkata kepadanya: "Anda adalah seorang pemuda yang cerdas dan kami tidak meragukanmu". Setelah itu Abu Bakar menyuruh Zaid bin Tsabit untuk menghimpun Al-Qur'an.
Lihat Juga :