Menunggu Hidayah untuk Berhijab? Benarkah Demikian?
Kamis, 20 Oktober 2022 - 10:08 WIB
loading...
Jilbab bagi muslimah adalah kewajiban, sedangkan hidayah harus dijemput dengan usaha dan kerja keras, jika hanya diam tanpa usaha maka hanya akan membuat diri semakin menjauh dari Allah. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Bagi seorang muslimah, berhijab atau berjilbab selain sebagai kewajiban, hal tersebut merupakan salah satu bentuk ketaatannya kepada syariat Allah. Sadar ataupun tidak, setiap kali melakukan sholat lima waktu pun, muslimah senantiasa bersumpah kepada Allah Ta'ala,
"La syarikallahuwabidzalika ummirtuwa anna minal muslimin. "
Yang artinya "Tiada syarikat bagi Engkau dan aku mengaku seorang muslimah" kalimat sumpah dan janji kepada Allah untuk menaati perintahNya dan menjauhi laranganNya senantiasa kita ucapkan di dalam sholat.
Baca juga: Keberuntungan Seorang Muslim adalah Mendapat Hidayah Allah SWT
Seseorang yang berjanji palsu di hadapan Allah, tentu berat hukumannya di dalam neraka. “ Jilbab adalah perintahNya bukan?” Kalau kita tidak jalankan artinya kita ingkar terhadap perintahnya.
Faktanya dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita mendengar teman-teman, saudara atau tetangga yang belum berhijab atau belum menutup aurat sesuai syariat, mengucapkan alasan belum datangnya hidayah dari Allah. “Aku belum berhijab karena belum dapat hidayah aja. Niat sih sudah ada!," kalimat itu paling sering kita dengar.
Benarkah menutup aurat atau berhijab harus menunggu datangnya hidayah ? Bagaimana pandangan syariat tentang hal tersebut?
Dalam Islam hidayah itu adalah rezeki, dan untuk memperolehnya harus bermodalkan usaha dan kerja keras.
Seperti diungkap Allah Subhanahu wa ta'ala dalam firman-Nya :
"Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan. (QS Adz-Dzariyat ayat 22-23 )
Begitu juga dengan hidayah. Hidayah harus dijemput dengan usaha dan kerja keras . Jika hanya diam tanpa usaha atau malah berbuat sesuatu yang dilarang Allah Ta'ala, maka hanya akan membuat diri semakin menjauh dari Allah.
"La syarikallahuwabidzalika ummirtuwa anna minal muslimin. "
Yang artinya "Tiada syarikat bagi Engkau dan aku mengaku seorang muslimah" kalimat sumpah dan janji kepada Allah untuk menaati perintahNya dan menjauhi laranganNya senantiasa kita ucapkan di dalam sholat.
Baca juga: Keberuntungan Seorang Muslim adalah Mendapat Hidayah Allah SWT
Seseorang yang berjanji palsu di hadapan Allah, tentu berat hukumannya di dalam neraka. “ Jilbab adalah perintahNya bukan?” Kalau kita tidak jalankan artinya kita ingkar terhadap perintahnya.
Faktanya dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita mendengar teman-teman, saudara atau tetangga yang belum berhijab atau belum menutup aurat sesuai syariat, mengucapkan alasan belum datangnya hidayah dari Allah. “Aku belum berhijab karena belum dapat hidayah aja. Niat sih sudah ada!," kalimat itu paling sering kita dengar.
Benarkah menutup aurat atau berhijab harus menunggu datangnya hidayah ? Bagaimana pandangan syariat tentang hal tersebut?
Dalam Islam hidayah itu adalah rezeki, dan untuk memperolehnya harus bermodalkan usaha dan kerja keras.
Seperti diungkap Allah Subhanahu wa ta'ala dalam firman-Nya :
وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ (22) فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ مِثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنْطِقُونَ
"Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan. (QS Adz-Dzariyat ayat 22-23 )
Begitu juga dengan hidayah. Hidayah harus dijemput dengan usaha dan kerja keras . Jika hanya diam tanpa usaha atau malah berbuat sesuatu yang dilarang Allah Ta'ala, maka hanya akan membuat diri semakin menjauh dari Allah.
Lihat Juga :