Kisah Mualaf AS Hoda Boyer: Dari Al-Azhar ke Oak Park
Sabtu, 12 November 2022 - 12:34 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Ini Agama Suami Maudy Ayunda sebelum Mualaf
Melempar Tulang
Untuk dapat menarik masyarakat, sampai tingkat tertentu, sebuah agama haruslah dapat menyesuaikan diri dengan tradisi setempat. Jika tidak, mempengaruhi orang-orang untuk pindah agama tak akan berhasil dalam jangka panjang. Dalam hal ini, baik Kristen maupun Islam, telah mampu beradaptasi dengan tradisi animisme penduduk asli Afrika. Anda dapat menyaksikan hal ini di Sudan. Di sana masih ada tradisi melempar tulang untuk meramal masa depan.
Dan di Sudan, seorang wanita tak boleh kawin sebelum dia disunat. Ini merupakan tradisi yang mengerikan. Akibatnya mereka terserang infeksi. Bagi mereka, masa-masa menstruasi adalah penderitaan yang berkepanjangan. Tetapi, jangan salah paham, tradisi itu bukan tradisi Islam. Dan ternyata orang-orang Kristen di sana juga melakukannya.
Orang-orang Sudan merupakan Muslim yang baik. Bayangkan, mereka tetap berpuasa di bulan Ramadhan, meskipun udara panas sampai 120 derajat (Farenheit).
Ketika saya mengunjungi pelabuhan Sudan, saya pernah menyaksikan seseorang harus mengalami kematian gara-gara ngotot berpuasa di bulan Ramadhan. Dan seorang Imam kemudian berkata, 'Tidak, bukan itu yang dimaksud. Demi Tuhan, jika engkau merasa letih, minumlah. Maksud puasa di bulan Ramadhan sama sekali bukan untuk mencari mati." Memang orang-orang di sana benar-benar rela mengorbankan hidupnya untuk berpuasa di bulan Ramadhan.
Di negara-negara dunia ketiga, banyak sekali orang dan juga binatang berkeliaran di jalanan. Sedangkan hidup orang Amerika telah diatur seperti dalam sebuah mesin besar, sehingga susah untuk menyesuaikan dengan hal-hal yang baru. Di sana tak ada tiang-tiang ataupun dekorasi bernafaskan Islam, seperti di masjid-masjid yang menakjubkan. Keindahan sebuah masjid rasanya dapat membuka hati Anda dan mengkhusyukkan sholat Anda.
Saya percaya betul bahwa bentuk fisik benda-benda di sekitar kita akan mempengaruhi sikap dan perilaku kita. Dan ada bentuk sakral dari arsitektur.
Setiap masjid terdiri dari ruang-ruang kosong. Tak ada patung-patung yang diletakkan di hadapan orang-orang sholat. Tak ada altar, seperti pada gereja-gereja. Anda menghadapkan sholat Anda secara horisontal ke Kiblat di Mekkah, dan secara vertikal kepada Allah. Dan juga ke dalam hati Anda sendiri. Adalah menarik untuk memahami bahwa ruang-ruang kosong masjid itu, agar dipenuhi dengan rahmat Tuhan.
Baca juga: Mualaf, Begini Respon Marcell Siahaan Dipanggil Antum
Rindu Masjid
Ada perasaan keislaman manakala Anda masuk ke dalam masjid, entah itu Taj Mahal atau Masjid Sultan Hasan, dan masjid-masjid itu memang ekspresi dari perasaan ini.
Karena saya tinggal jauh dari masjid, saya sholat di rumah. Saya rindu suasana sholat dalam masjid. Ada masjid dekat rumah tetapi masih baru. Kita tahu bahwa masjid Al-Azhar adalah sebuah masjid tua yang dibangun oleh Dinasti Fathimiyyah. Di dalamnya terdapat mihrab. Mereka "memperindah" mihrab itu dengan plastik berlapis batu pualam, yang sepintas tampak seperti ruangan kamar mandi murahan.
Hiasan yang mudah dicopot dan dibersihkan itu merupakan pengganti dari ornamen tua yang sudah hancur. Lapisan batu pualamnya imitasi dan kelihatan seperti linoleum. Sungguh sangat memprihatinkan.
Tetapi saya merindukan keindahan semacam itu. Dan tentu, saya merindukan ucapan selamat dari orang-orang, yang sambil menepuk-nepuk punggung saya berucap betapa indahnya menjadi seorang Muslim. Saya pikir akan selalu ada penguatan kembali.
Kembali ke kehidupan Amerika mirip dengan apa yang dikatakan Rasul ketika kembali dari sebuah peperangan --bahwa dia baru kembali dari jihad kecil dan menuju ke jihad yang lebih besar. Jihad yang lebih besar adalah melawan ego dan hawa nafsu kita.
Saya percaya bahwa Tuhan ada di mana-mana dan Anda tak dapat hidup tanpa bimbingan Tuhan. Saya masih merasakan keberadaan Tuhan di Amerika, sama kuatnya ketika saya berada di Kairo, Damaskus, Delhi, dan di mana pun juga.
Masalah yang saya hadapi adalah berkaitan dengan gaya hidup seorang Muslim, terutama tata cara berpakaian, di tengah-tengah masyarakat perkotaan Amerika. Saya pikir para imigran Muslim akan lebih mudah berbusana Muslimah ketimbang saya yang jelas-jelas orang Amerika.
Bagi seorang Amerika seperti saya sulit rasanya untuk berbusana sebagaimana para imigran Muslim mengenakannya, karena masyarakat Amerika akan menganggap pakaian mereka sebagai bagian dari kebudayaan. Karena itu wajar saja mereka berpakaian demikian. Padahal sebenarnya mereka itu berpakaian secara Muslim.
Saat ini media massa dan pers tak berpihak kepada Muslim. Banyak pemberitaan tentang Muslim yang meledakkan pesawat. Islam selalu dikait-kaitkan dengan hal-hal yang negatif seperti terorisme dan semacamnya.
Seperti telah dikemukakan berulang-ulang, adalah lebih mudah untuk menjadi pemeluk Budha atau Hindu dan berpenampilan seperti halnya orang-orang Amerika kebanyakan. Tetapi tak demikian halnya untuk menjadi seorang Muslim. Karena sejarah Perang Salib dan pertentangan bangsa-bangsa Eropa dan Timur Tengah, maka sikap antipati terhadap Muslim begitu besar.
Meskipun sarat dengan kesan-kesan negatif, Islam toh tetap merupakan agama yang paling cepat perkembangannya di Eropa maupun di Amerika. Karena itu saya merasakannya sebagai sebuah gelombang masa depan. Dan saya bangga menjadi bagian dari gelombang itu.
Syeikh saya menekankan pentingnya selalu menjalankan syariat Islam, karena dengan cara itulah kita menghambakan diri kepada Tuhan. Percampuran antara pria dan wanita seperti kaum Yahudi, jelas sudah tak perlu lagi dipertanyakan hukumnya. Tetapi saya kira keluwesan masih dimungkinkan. Nah, saya lebih sering menutup rambut dengan topi daripada dengan kerudung. Dengan begitu saya tak terlalu menarik perhatian secara berlebihan.
Kemarin saya bertemu dengan seorang wanita di Dunkin' Donuts, yang sedang bersama-sama dengan suaminya. Wanita itu mengenakan baju panjang dan kerudung, menutup seluruh tubuhnya. Saya lihat dia tidak diganggu. Orang-orang tak lagi melotot kepadanya. Sama saja dengan seseorang yang mengenakan bikini dan masuk ke toko ini untuk beli donat.
Baca juga: Cerita Paul Pogba Dapat Hidayah hingga Jadi Mualaf
Saya kagum dengan saudara-saudara wanita yang sanggup berbusana Muslimah, mereka sungguh hebat. Saya rasa, kalau Anda berpakaian dengan maksud untuk menarik perhatian banyak orang, maka Anda telah mengabaikan fungsi hijab. Karena itu saya berpakaian seperti ini, yang saya pikir merupakan sunnah bagi orang Amerika. Inilah yang saya sebut dress for success bagi Muslimah: karena saya mengenakan jas longgar, celana panjang, topi, dan scarf.
Saya biasa pergi berbelanja ke toko, dan pelayannya selalu bersikap ramah. Saya juga sering membawa serta anak-anak untuk ikut berbelanja. Pada suatu hari si pelayan tampak seperti terharu hendak menangis. Saya tak mengerti kenapa ia bersikap demikian. Kemudian kami ngobrol tentang kehidupan masing-masing.
Saya ceritakan padanya bahwa saya sudah bercerai dengan suami. "Aduh, sedih sekali," katanya. "Ah, tapi 'kan banyak ya pasangan yang cerai." Akhirnya ia bertanya, "Sudahkah kau memikirkan bekal bagi anak-anakmu. Sekadar berjaga-jaga."
"Berjaga-jaga karena apa?" tanya saya keheranan.
Ia tak mau menjawab. Setelah yakin tak ada seorang pun di sekitar kami, ia bertanya lagi, "Apakah kau terkena kanker?".
"Tidak," jawab saya. Akhirnya saya mengerti.
Saya jelaskan kepada pemilik toko itu bahwa saya menutup kepala karena saya seorang Muslim, dan itu merupakan ajaran agama, bukan karena kanker.
Itu mirip cerita komik yang sedih. Saya tetap mengenakan tutup kepala, tetapi menampakkan sedikit rambut saya. Sekadar menunjukkan bahwa saya masih punya rambut.
Baca juga: Viral! Kisah Bule Jadi Mualaf Usai Temukan Alquran
Melempar Tulang
Untuk dapat menarik masyarakat, sampai tingkat tertentu, sebuah agama haruslah dapat menyesuaikan diri dengan tradisi setempat. Jika tidak, mempengaruhi orang-orang untuk pindah agama tak akan berhasil dalam jangka panjang. Dalam hal ini, baik Kristen maupun Islam, telah mampu beradaptasi dengan tradisi animisme penduduk asli Afrika. Anda dapat menyaksikan hal ini di Sudan. Di sana masih ada tradisi melempar tulang untuk meramal masa depan.
Dan di Sudan, seorang wanita tak boleh kawin sebelum dia disunat. Ini merupakan tradisi yang mengerikan. Akibatnya mereka terserang infeksi. Bagi mereka, masa-masa menstruasi adalah penderitaan yang berkepanjangan. Tetapi, jangan salah paham, tradisi itu bukan tradisi Islam. Dan ternyata orang-orang Kristen di sana juga melakukannya.
Orang-orang Sudan merupakan Muslim yang baik. Bayangkan, mereka tetap berpuasa di bulan Ramadhan, meskipun udara panas sampai 120 derajat (Farenheit).
Ketika saya mengunjungi pelabuhan Sudan, saya pernah menyaksikan seseorang harus mengalami kematian gara-gara ngotot berpuasa di bulan Ramadhan. Dan seorang Imam kemudian berkata, 'Tidak, bukan itu yang dimaksud. Demi Tuhan, jika engkau merasa letih, minumlah. Maksud puasa di bulan Ramadhan sama sekali bukan untuk mencari mati." Memang orang-orang di sana benar-benar rela mengorbankan hidupnya untuk berpuasa di bulan Ramadhan.
Di negara-negara dunia ketiga, banyak sekali orang dan juga binatang berkeliaran di jalanan. Sedangkan hidup orang Amerika telah diatur seperti dalam sebuah mesin besar, sehingga susah untuk menyesuaikan dengan hal-hal yang baru. Di sana tak ada tiang-tiang ataupun dekorasi bernafaskan Islam, seperti di masjid-masjid yang menakjubkan. Keindahan sebuah masjid rasanya dapat membuka hati Anda dan mengkhusyukkan sholat Anda.
Saya percaya betul bahwa bentuk fisik benda-benda di sekitar kita akan mempengaruhi sikap dan perilaku kita. Dan ada bentuk sakral dari arsitektur.
Setiap masjid terdiri dari ruang-ruang kosong. Tak ada patung-patung yang diletakkan di hadapan orang-orang sholat. Tak ada altar, seperti pada gereja-gereja. Anda menghadapkan sholat Anda secara horisontal ke Kiblat di Mekkah, dan secara vertikal kepada Allah. Dan juga ke dalam hati Anda sendiri. Adalah menarik untuk memahami bahwa ruang-ruang kosong masjid itu, agar dipenuhi dengan rahmat Tuhan.
Baca juga: Mualaf, Begini Respon Marcell Siahaan Dipanggil Antum
Rindu Masjid
Ada perasaan keislaman manakala Anda masuk ke dalam masjid, entah itu Taj Mahal atau Masjid Sultan Hasan, dan masjid-masjid itu memang ekspresi dari perasaan ini.
Karena saya tinggal jauh dari masjid, saya sholat di rumah. Saya rindu suasana sholat dalam masjid. Ada masjid dekat rumah tetapi masih baru. Kita tahu bahwa masjid Al-Azhar adalah sebuah masjid tua yang dibangun oleh Dinasti Fathimiyyah. Di dalamnya terdapat mihrab. Mereka "memperindah" mihrab itu dengan plastik berlapis batu pualam, yang sepintas tampak seperti ruangan kamar mandi murahan.
Hiasan yang mudah dicopot dan dibersihkan itu merupakan pengganti dari ornamen tua yang sudah hancur. Lapisan batu pualamnya imitasi dan kelihatan seperti linoleum. Sungguh sangat memprihatinkan.
Tetapi saya merindukan keindahan semacam itu. Dan tentu, saya merindukan ucapan selamat dari orang-orang, yang sambil menepuk-nepuk punggung saya berucap betapa indahnya menjadi seorang Muslim. Saya pikir akan selalu ada penguatan kembali.
Kembali ke kehidupan Amerika mirip dengan apa yang dikatakan Rasul ketika kembali dari sebuah peperangan --bahwa dia baru kembali dari jihad kecil dan menuju ke jihad yang lebih besar. Jihad yang lebih besar adalah melawan ego dan hawa nafsu kita.
Saya percaya bahwa Tuhan ada di mana-mana dan Anda tak dapat hidup tanpa bimbingan Tuhan. Saya masih merasakan keberadaan Tuhan di Amerika, sama kuatnya ketika saya berada di Kairo, Damaskus, Delhi, dan di mana pun juga.
Masalah yang saya hadapi adalah berkaitan dengan gaya hidup seorang Muslim, terutama tata cara berpakaian, di tengah-tengah masyarakat perkotaan Amerika. Saya pikir para imigran Muslim akan lebih mudah berbusana Muslimah ketimbang saya yang jelas-jelas orang Amerika.
Bagi seorang Amerika seperti saya sulit rasanya untuk berbusana sebagaimana para imigran Muslim mengenakannya, karena masyarakat Amerika akan menganggap pakaian mereka sebagai bagian dari kebudayaan. Karena itu wajar saja mereka berpakaian demikian. Padahal sebenarnya mereka itu berpakaian secara Muslim.
Saat ini media massa dan pers tak berpihak kepada Muslim. Banyak pemberitaan tentang Muslim yang meledakkan pesawat. Islam selalu dikait-kaitkan dengan hal-hal yang negatif seperti terorisme dan semacamnya.
Seperti telah dikemukakan berulang-ulang, adalah lebih mudah untuk menjadi pemeluk Budha atau Hindu dan berpenampilan seperti halnya orang-orang Amerika kebanyakan. Tetapi tak demikian halnya untuk menjadi seorang Muslim. Karena sejarah Perang Salib dan pertentangan bangsa-bangsa Eropa dan Timur Tengah, maka sikap antipati terhadap Muslim begitu besar.
Meskipun sarat dengan kesan-kesan negatif, Islam toh tetap merupakan agama yang paling cepat perkembangannya di Eropa maupun di Amerika. Karena itu saya merasakannya sebagai sebuah gelombang masa depan. Dan saya bangga menjadi bagian dari gelombang itu.
Syeikh saya menekankan pentingnya selalu menjalankan syariat Islam, karena dengan cara itulah kita menghambakan diri kepada Tuhan. Percampuran antara pria dan wanita seperti kaum Yahudi, jelas sudah tak perlu lagi dipertanyakan hukumnya. Tetapi saya kira keluwesan masih dimungkinkan. Nah, saya lebih sering menutup rambut dengan topi daripada dengan kerudung. Dengan begitu saya tak terlalu menarik perhatian secara berlebihan.
Kemarin saya bertemu dengan seorang wanita di Dunkin' Donuts, yang sedang bersama-sama dengan suaminya. Wanita itu mengenakan baju panjang dan kerudung, menutup seluruh tubuhnya. Saya lihat dia tidak diganggu. Orang-orang tak lagi melotot kepadanya. Sama saja dengan seseorang yang mengenakan bikini dan masuk ke toko ini untuk beli donat.
Baca juga: Cerita Paul Pogba Dapat Hidayah hingga Jadi Mualaf
Saya kagum dengan saudara-saudara wanita yang sanggup berbusana Muslimah, mereka sungguh hebat. Saya rasa, kalau Anda berpakaian dengan maksud untuk menarik perhatian banyak orang, maka Anda telah mengabaikan fungsi hijab. Karena itu saya berpakaian seperti ini, yang saya pikir merupakan sunnah bagi orang Amerika. Inilah yang saya sebut dress for success bagi Muslimah: karena saya mengenakan jas longgar, celana panjang, topi, dan scarf.
Saya biasa pergi berbelanja ke toko, dan pelayannya selalu bersikap ramah. Saya juga sering membawa serta anak-anak untuk ikut berbelanja. Pada suatu hari si pelayan tampak seperti terharu hendak menangis. Saya tak mengerti kenapa ia bersikap demikian. Kemudian kami ngobrol tentang kehidupan masing-masing.
Saya ceritakan padanya bahwa saya sudah bercerai dengan suami. "Aduh, sedih sekali," katanya. "Ah, tapi 'kan banyak ya pasangan yang cerai." Akhirnya ia bertanya, "Sudahkah kau memikirkan bekal bagi anak-anakmu. Sekadar berjaga-jaga."
"Berjaga-jaga karena apa?" tanya saya keheranan.
Ia tak mau menjawab. Setelah yakin tak ada seorang pun di sekitar kami, ia bertanya lagi, "Apakah kau terkena kanker?".
"Tidak," jawab saya. Akhirnya saya mengerti.
Saya jelaskan kepada pemilik toko itu bahwa saya menutup kepala karena saya seorang Muslim, dan itu merupakan ajaran agama, bukan karena kanker.
Itu mirip cerita komik yang sedih. Saya tetap mengenakan tutup kepala, tetapi menampakkan sedikit rambut saya. Sekadar menunjukkan bahwa saya masih punya rambut.
Baca juga: Viral! Kisah Bule Jadi Mualaf Usai Temukan Alquran
(mhy)
Lihat Juga :