Kisah Mualaf Jerman Wilfred Hoffman Terpesona Surat Al-Anam Ayat 164
Senin, 14 November 2022 - 13:27 WIB
loading...
Murad Wilfred Hoffman, mualaf asal Jerman. Foto/Ilustrasi: saphirnews
A
A
A
Mualaf asal Jerman, Murad Wilfred Hoffman, menyampaikan pengalaman pribadinya yang ia sebut sebagai "Jalan Menuju Mekkah". Ia mengaku terpesona dengan Surat Al-Anam ayat 164.
Pengalaman pribadi itu tertuang dalam buku yang berjudul "Pergolakan Pemikiran: Catatan Harian Muslim Jerman" (Gema Insani Press, 1998). Ia membuat catatan tertanggal 5 Februari 1983. Itu adalah 2 tahun 5 bulan setelah ia memeluk Islam. Hoffman membaca dua kalimah syahadat pada 25 September 1980.
Baca juga: Mualaf Jerman Murad Hoffman Bicara tentang Pluralisme dalam Islam
Berikut penuturannya:
Ketika aku membaca Al-Qur'an pertama kali, aku langsung terpesona. Bahkan, aku mengambil pelajaran dari ayat 164 surat al-An'am, "Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain."
Aku memahami suatu kesalahan dalam ajaran Kristen tentang dosa warisan. Konsep yang benar adalah laki-laki dan perempuan berdiri di hadapan Sang Pencipta secara langsung tanpa perantara. "Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya" (bagian dari ayat kursi, surat al-Baqarah : 255). Dan, surat al-An'am ayat 164, pada gilirannya membawa makna esensial lain, yaitu pengingkaran konsep dosa pertama Adam.
Jika seorang tidak memulai dengan suatu hipotesis bahwa kita sangat membutuhkan "pemurnian", maka ia tidak akan mencari "pemurni" dan tak mungkin ia akan mendapatkannya. Karenanya, penjelasan Al-Quran ini memainkan peranan besar yang dapat menyeret Kristen menuju kesesatan.
Setelah aku memahami hal itu, sekarang aku meyakini bahwa Islam bukanlah suatu langkah mundur ke belakang, melainkan sebuah langkah yang mengantarkan manusia maju ke depan dan menuju tingkat yang lebih maju dari apa yang telah dicapai setelah al-Masih. Jika, kita boleh mengunakan istilah-istilah Hegel dan Marx, maka kita bisa mengatakan bahwa Islam telah menghentikan Kristen di atas kakinya sendiri, setelah sebelumnya Kristen berdiri di atas kepalanya sendiri.
Sementara kalangan Agnostis berasumsi bahwa kita tidak mungkin mengenal sesuatu yang tidak ditangkap oleh pancaindra secara yakin, maka mereka berpendapat kepada penegasan kemungkinan ketiadaan wujud hakikat di balik indra-indra itu.
Baca juga: Kisah Mualaf Jerman Murad Wilfred Hoffman Pergi Haji
Pengalaman pribadi itu tertuang dalam buku yang berjudul "Pergolakan Pemikiran: Catatan Harian Muslim Jerman" (Gema Insani Press, 1998). Ia membuat catatan tertanggal 5 Februari 1983. Itu adalah 2 tahun 5 bulan setelah ia memeluk Islam. Hoffman membaca dua kalimah syahadat pada 25 September 1980.
Baca juga: Mualaf Jerman Murad Hoffman Bicara tentang Pluralisme dalam Islam
Berikut penuturannya:
Ketika aku membaca Al-Qur'an pertama kali, aku langsung terpesona. Bahkan, aku mengambil pelajaran dari ayat 164 surat al-An'am, "Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain."
Aku memahami suatu kesalahan dalam ajaran Kristen tentang dosa warisan. Konsep yang benar adalah laki-laki dan perempuan berdiri di hadapan Sang Pencipta secara langsung tanpa perantara. "Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya" (bagian dari ayat kursi, surat al-Baqarah : 255). Dan, surat al-An'am ayat 164, pada gilirannya membawa makna esensial lain, yaitu pengingkaran konsep dosa pertama Adam.
Jika seorang tidak memulai dengan suatu hipotesis bahwa kita sangat membutuhkan "pemurnian", maka ia tidak akan mencari "pemurni" dan tak mungkin ia akan mendapatkannya. Karenanya, penjelasan Al-Quran ini memainkan peranan besar yang dapat menyeret Kristen menuju kesesatan.
Setelah aku memahami hal itu, sekarang aku meyakini bahwa Islam bukanlah suatu langkah mundur ke belakang, melainkan sebuah langkah yang mengantarkan manusia maju ke depan dan menuju tingkat yang lebih maju dari apa yang telah dicapai setelah al-Masih. Jika, kita boleh mengunakan istilah-istilah Hegel dan Marx, maka kita bisa mengatakan bahwa Islam telah menghentikan Kristen di atas kakinya sendiri, setelah sebelumnya Kristen berdiri di atas kepalanya sendiri.
Sementara kalangan Agnostis berasumsi bahwa kita tidak mungkin mengenal sesuatu yang tidak ditangkap oleh pancaindra secara yakin, maka mereka berpendapat kepada penegasan kemungkinan ketiadaan wujud hakikat di balik indra-indra itu.
Baca juga: Kisah Mualaf Jerman Murad Wilfred Hoffman Pergi Haji
Lihat Juga :