Kisah Mualaf Jerman Wilfred Hoffman Terpesona Surat Al-Anam Ayat 164
Senin, 14 November 2022 - 13:27 WIB
loading...
A
A
A
Ini bukanlah sikap yang membutuhkan kecerdasan, melainkan lebih kepada alasan atau justifikasi, dan bercirikan pemihakan. Mungkin lebih dekat kepada kejujuran dengan dasar kemampuan pemikiran manusia terhadap investigasi --suatu pengakuan bahwa kita tidak mampu sekalipun memberikan kemungkinan-kemungkinan terhadap sesuatu yang gaib.
Ketika aku memegang pendapat ini, selama beberapa waktu, aku bisa mengira bahwa suatu hari batas-batas sesuatu yang dapat kita ketahui bukanlah batas-batas hakikat. Hal itu adalah keputusanku disertai keimanan. Dan, karena menyadari keterbatasan kita dalam mengetahui segala sesuatu dengan yakin, karenanya aku memilih sikap jiwa yang rendah hati daripada sikap sombong dan bodoh yang dilakoni oleh penganut Agnotisisme, yang mementingkan keberanian dan kepuasan diri, dan orang-orang yang biasanya hidup dalam keterasingan diri yang kaku dan picik.
Dengan penuh kesadaran, aku menyerahkan diriku dan pikiranku kepada hakikat yang lebih agung, yang aku rasakan bahwa aku tiada lain hanyalah bagian kecil darinya. Aku serahkan diriku kepada Zat yang lebih besar dari para pembesar dunia; Allah Yang Mahabesar dari segala apa yang mungkin kita bayangkan."
Ketika aku mengatakan hal ini, sungguh aku tidak ingin menggiring seorang pun ke dataran licin dengan berusaha mengenalkan Allah dengan sifat-sifat manusia. Jumlah bilangan al-Asmaul Husna, yaitu 99 itu adalah satu persoalan.
Baca juga: Mualaf Jerman Wilfred Hoffman Bicara tentang Bagaimana Menghadapi Maut
Sedangkan, terperosok dalam dataran waham (asumsi) bahwa nama-nama metaforis (majaz) yang dibentuk dalam bahasa manusia yang bisa menyifati atau meringkas karakter dan Zat-Nya adalah persoalan lain.
Dengan kadar bahwa kita adalah tawanan dari kamus yang kita buat sendiri, dengan kadar yang jelas dari kemampuan kita --sekalipun dibantu wahyu-- nama-nama itu tidak mampu diketahui kecuali beberapa percik dari hakikat Allah yang menyeluruh.
Apa pun yang kukatakan, sesungguhnya hanyalah sedikit dari yang banyak.
Masuk Islam
Nama sebelum ia masuk Islam adalah Wilfred Hoffman. Begitu memeluk Islam, namanya ditambah menjadi Murad Wilfred Hoffman atau lebih populer dengan Murad Hoffman.
Dia terlahir pada 6 Juli 1931, dari sebuah keluarga Katholik, di Jerman. Pendidikan Universitasnya dilalui di Union College, New York. Dia Doktor dalam bidang Undang-Undang Jerman, juga magister dari Universitas Harvard dalam bidang Undang-Undang Amerika.
Ketika aku memegang pendapat ini, selama beberapa waktu, aku bisa mengira bahwa suatu hari batas-batas sesuatu yang dapat kita ketahui bukanlah batas-batas hakikat. Hal itu adalah keputusanku disertai keimanan. Dan, karena menyadari keterbatasan kita dalam mengetahui segala sesuatu dengan yakin, karenanya aku memilih sikap jiwa yang rendah hati daripada sikap sombong dan bodoh yang dilakoni oleh penganut Agnotisisme, yang mementingkan keberanian dan kepuasan diri, dan orang-orang yang biasanya hidup dalam keterasingan diri yang kaku dan picik.
Dengan penuh kesadaran, aku menyerahkan diriku dan pikiranku kepada hakikat yang lebih agung, yang aku rasakan bahwa aku tiada lain hanyalah bagian kecil darinya. Aku serahkan diriku kepada Zat yang lebih besar dari para pembesar dunia; Allah Yang Mahabesar dari segala apa yang mungkin kita bayangkan."
Ketika aku mengatakan hal ini, sungguh aku tidak ingin menggiring seorang pun ke dataran licin dengan berusaha mengenalkan Allah dengan sifat-sifat manusia. Jumlah bilangan al-Asmaul Husna, yaitu 99 itu adalah satu persoalan.
Baca juga: Mualaf Jerman Wilfred Hoffman Bicara tentang Bagaimana Menghadapi Maut
Sedangkan, terperosok dalam dataran waham (asumsi) bahwa nama-nama metaforis (majaz) yang dibentuk dalam bahasa manusia yang bisa menyifati atau meringkas karakter dan Zat-Nya adalah persoalan lain.
Dengan kadar bahwa kita adalah tawanan dari kamus yang kita buat sendiri, dengan kadar yang jelas dari kemampuan kita --sekalipun dibantu wahyu-- nama-nama itu tidak mampu diketahui kecuali beberapa percik dari hakikat Allah yang menyeluruh.
Apa pun yang kukatakan, sesungguhnya hanyalah sedikit dari yang banyak.
Masuk Islam
Nama sebelum ia masuk Islam adalah Wilfred Hoffman. Begitu memeluk Islam, namanya ditambah menjadi Murad Wilfred Hoffman atau lebih populer dengan Murad Hoffman.
Dia terlahir pada 6 Juli 1931, dari sebuah keluarga Katholik, di Jerman. Pendidikan Universitasnya dilalui di Union College, New York. Dia Doktor dalam bidang Undang-Undang Jerman, juga magister dari Universitas Harvard dalam bidang Undang-Undang Amerika.
Lihat Juga :