Catatan Mualaf Jerman Wilfred Hoffman tentang Injil dan Israel
Kamis, 01 Desember 2022 - 18:22 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Mualaf Jerman Murad Wilfred Hoffman Pergi Haji
Berikut catatan tersebut selengkapnya:
Dalam perjalanan untuk menyampaikan presentasi di Akademi Pertahanan Angkatan Bersenjata Jerman di Hamburg Blanknitz, aku membaca buku karya Kamal Shalibi yaitu, "Dari Jazirah Arabia, Injil Datang" (London;1985). Ia menggunakan pendekatan analisis bahasa terhadap nama-nama daerah. Buku yang ditulis oleh Profesor Protestan asal Libanon ini menyodorkan konsep menarik tentang sejarah timbulnya Israel.
Berbeda dengan para pakar Injil konvensional, ia mengakui keabsahan riwayat-riwayat historis yang terdapat pada kitab suci (Injil). Hanya saja, ia berbeda dengan mereka dalam hal daerah geografis tempat kejadian berlangsung.
Metode baru ini membawakannya pada kesimpulan bahwa lokasi sejarah klan-klan Yahudi --awal sebelum tahun 500 SM-- berada di daerah antara Thaif dan Yaman Utara (di Provinsi Asir, sekarang Arab Saudi).
Ia berhasil membuktikan bahwa rangkaian huruf-huruf sukun (mati) ratusan nama-nama daerah pemukiman, sungai, dan gunung di Asir, bersesuaian dengan padanannya yang terdapat dalam Injil.
Baca juga: Catatan Mualaf Jerman Wilfred Hoffman tentang Sejarah Organisasi Islam di Amerika
Begitu juga, panjang jarak yang memisahkan antara satu tempat dan yang lain cocok, seperti yang dilukiskan dalam Perjanjian Lama. Sebaliknya, Shalibi tidak menemukan bukti kuat yang sebanding dengan Palestina.
Jika benar pernyataan bahwa materi-materi berbahasa Ibrani dalam Injil diambil dari barat Jazirah Arabia, dalam hal-hal yang berkaitan dengan akidah tauhid dan bahwa Nabi Ibrahim dulu hidup di sana. Maka, riwayat-riwayat yang dibawa Islam sekitar perintisan kota Mekkah oleh Siti Hajar dan pembangunan dinding Kakbah pertama oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mendapat justifikasi (pembenaran) yang mencengangkan.
Wajar jika para pakar Israel berusaha keras membantah pendapat Shalibi ini. Mereka khawatir dasar perundangan berdirinya negara Israel akan terusik. Penting pula bagi suatu bangsa yang telah hidup di suatu daerah, lebih dari 2500 tahun, sampai ia mampu mendirikan suatu negeri yang layak dihormati.
Berikut catatan tersebut selengkapnya:
Dalam perjalanan untuk menyampaikan presentasi di Akademi Pertahanan Angkatan Bersenjata Jerman di Hamburg Blanknitz, aku membaca buku karya Kamal Shalibi yaitu, "Dari Jazirah Arabia, Injil Datang" (London;1985). Ia menggunakan pendekatan analisis bahasa terhadap nama-nama daerah. Buku yang ditulis oleh Profesor Protestan asal Libanon ini menyodorkan konsep menarik tentang sejarah timbulnya Israel.
Berbeda dengan para pakar Injil konvensional, ia mengakui keabsahan riwayat-riwayat historis yang terdapat pada kitab suci (Injil). Hanya saja, ia berbeda dengan mereka dalam hal daerah geografis tempat kejadian berlangsung.
Metode baru ini membawakannya pada kesimpulan bahwa lokasi sejarah klan-klan Yahudi --awal sebelum tahun 500 SM-- berada di daerah antara Thaif dan Yaman Utara (di Provinsi Asir, sekarang Arab Saudi).
Ia berhasil membuktikan bahwa rangkaian huruf-huruf sukun (mati) ratusan nama-nama daerah pemukiman, sungai, dan gunung di Asir, bersesuaian dengan padanannya yang terdapat dalam Injil.
Baca juga: Catatan Mualaf Jerman Wilfred Hoffman tentang Sejarah Organisasi Islam di Amerika
Begitu juga, panjang jarak yang memisahkan antara satu tempat dan yang lain cocok, seperti yang dilukiskan dalam Perjanjian Lama. Sebaliknya, Shalibi tidak menemukan bukti kuat yang sebanding dengan Palestina.
Jika benar pernyataan bahwa materi-materi berbahasa Ibrani dalam Injil diambil dari barat Jazirah Arabia, dalam hal-hal yang berkaitan dengan akidah tauhid dan bahwa Nabi Ibrahim dulu hidup di sana. Maka, riwayat-riwayat yang dibawa Islam sekitar perintisan kota Mekkah oleh Siti Hajar dan pembangunan dinding Kakbah pertama oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mendapat justifikasi (pembenaran) yang mencengangkan.
Wajar jika para pakar Israel berusaha keras membantah pendapat Shalibi ini. Mereka khawatir dasar perundangan berdirinya negara Israel akan terusik. Penting pula bagi suatu bangsa yang telah hidup di suatu daerah, lebih dari 2500 tahun, sampai ia mampu mendirikan suatu negeri yang layak dihormati.
Lihat Juga :