Kisah Khalifah Al-Manshur Meminta 3 Ulama Menilai Dirinya
Sabtu, 03 Desember 2022 - 10:03 WIB
loading...
Khalifah kedua Bani Abbasiyah, al-Manshur. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Tatkala Abu Jafar Abdullah bin Muhammad Al Mansur baru saja diangkat menjadi khalifah kedua Bani Abbasiyah , ia mengundang 3 ulama paling masyhur kala itu. Mereka adalah Malik ibn Anas , Ibn Sam'an dan Ibn Abi Dzuaib.
Pada saat memanggil ulama kharismatik tersebut khalifah dikawal para prajurit dengan pedang-pedang terhunus. Setelah berbicara panjang, Khalifah bertanya. "Bagaimana pendapat kalian tentang diriku? Apakah aku pemimpin adil atau zalim?"
Baca juga: Imam Maliki Sempat Masuk Penjara karena Melawan Pemerintah
Malik bin Anas berkata: "Ya Amiral Mu'minin, aku tawassul padamu dengan Allah SWT dan aku meminta tolong padamu dengan Muhammad SAW dan dengan kekeluargaanmu padanya, maafkanlah aku untuk tidak berbicara."
"Aku maafkan Anda," kata al-Manshur.
Kemudian ia melirik kepada Ibn Sam'an: "Bagaimana pendapat kamu?"
Kata Ibn Sam'an: "Anda, demi Allah, orang yang paling baik. Demi Allah, ya Amir al-Mu'minin, Anda berhaji ke Baitullah; Anda perangi musuh; Anda berikan keamanan di jalan; Anda lindungi orang yang lemah supaya tidak dimakan yang kuat. Andalah tonggak agama, orang terbaik, dan umat teradil."
Kemudian al-Manshur melirik Ibn Abi Dzuaib. "Atas nama Allah bagaimana pendapatmu tentang diriku?"
"Menurut pendapatku, Anda manusia terjahat, demi Allah. Anda merampas harta Allah, RasulNya, dan bagian keluarga Rasul, anak yatim, dan orang miskin. Anda hancurkan yang lemah, Anda persulit orang yang kuat. Anda tahan harta mereka. Apa alasanmu di hadapan Allah nanti?" jawab Ibn Abi Dzuaib.
"Celaka kamu, tidakkah kamu lihat apa yang ada dihadapanmu?" kata al-Manshur.
"Benar, aku lihat pedang dan itu berarti kematian. Bagiku sama saja apakah mati itu dipercepat atau diperlambat."
Peristiwa di atas, yang dikisahkan Ibn Qutaybah menunjukkan posisi Malik ibn Anas dibandingkan ulama yang sezaman dengannya.
Baca juga: Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur: Dikenal Sangat Kikir, Bergelar Abu Dawaniq
Pada saat memanggil ulama kharismatik tersebut khalifah dikawal para prajurit dengan pedang-pedang terhunus. Setelah berbicara panjang, Khalifah bertanya. "Bagaimana pendapat kalian tentang diriku? Apakah aku pemimpin adil atau zalim?"
Baca juga: Imam Maliki Sempat Masuk Penjara karena Melawan Pemerintah
Malik bin Anas berkata: "Ya Amiral Mu'minin, aku tawassul padamu dengan Allah SWT dan aku meminta tolong padamu dengan Muhammad SAW dan dengan kekeluargaanmu padanya, maafkanlah aku untuk tidak berbicara."
"Aku maafkan Anda," kata al-Manshur.
Kemudian ia melirik kepada Ibn Sam'an: "Bagaimana pendapat kamu?"
Kata Ibn Sam'an: "Anda, demi Allah, orang yang paling baik. Demi Allah, ya Amir al-Mu'minin, Anda berhaji ke Baitullah; Anda perangi musuh; Anda berikan keamanan di jalan; Anda lindungi orang yang lemah supaya tidak dimakan yang kuat. Andalah tonggak agama, orang terbaik, dan umat teradil."
Kemudian al-Manshur melirik Ibn Abi Dzuaib. "Atas nama Allah bagaimana pendapatmu tentang diriku?"
"Menurut pendapatku, Anda manusia terjahat, demi Allah. Anda merampas harta Allah, RasulNya, dan bagian keluarga Rasul, anak yatim, dan orang miskin. Anda hancurkan yang lemah, Anda persulit orang yang kuat. Anda tahan harta mereka. Apa alasanmu di hadapan Allah nanti?" jawab Ibn Abi Dzuaib.
"Celaka kamu, tidakkah kamu lihat apa yang ada dihadapanmu?" kata al-Manshur.
"Benar, aku lihat pedang dan itu berarti kematian. Bagiku sama saja apakah mati itu dipercepat atau diperlambat."
Peristiwa di atas, yang dikisahkan Ibn Qutaybah menunjukkan posisi Malik ibn Anas dibandingkan ulama yang sezaman dengannya.
Baca juga: Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur: Dikenal Sangat Kikir, Bergelar Abu Dawaniq
Lihat Juga :