Khalifah yang Membawa Daulah Abbasiyah Berjaya
Jum'at, 09 Desember 2022 - 15:06 WIB
loading...
A
A
A
Dia mendapat gelar Al-Rasyid dari ayahnya (Al-Mahdi) ketika dia sukses dalam ekspedisi militer menaklukkan Romawi. Bersamaan dengan pemberian gelar tersebut, dia pun dilantik sebagai putra mahkota setelah Musa Al-Hadi.
Imam As-Suyuthi dalam bukunya berjudul "Tarikh Khulafa’; Sejarah Para Khalifah" mengabarkan betapa Harun juga mencintai para ulama, gemar bersedekah, dan taat beribadah. Dikabarkan dia sholat sunnah seratus rakaat setiap hari. Orangnya tinggi dan kulitnya putih. Rajin membaca sholawat setiap mendengar nama Rasulullah SAW disebutkan.
Sejumlah sejarawan sepakat, bahwa era keemasan Dinasti Abbasiyah dimulai pada masa Harun Al-Rasyid, dan mencapai puncaknya di era Khalifah Al-Ma’mun.
Baca juga: Konflik Politik Berdarah dan Tradisi Pembunuhan Khalifah Dinasti Abbasiyah
Beberapa faktor yang mendorong lahirnya era keemasan tersebut di antaranya adalah meningkatnya gairah intektual kaum Muslimin. Meskipun agak sulit memastikan secara rinci faktor-faktor apa saja yang memicu lahirnya gairah intelektual yang besar tersebut. Tapi beberapa sejarawan menilai adanya fenomena ini tidak lepas dari peran para khalifah Abbasiyah yang sangat menggandrungi ilmu pengetahuan.
Pada era Harun Al-Rasyid, proyek penulisan dan penerjemahan buku-buku dari seluruh dunia terus digalakkan, bahkan didukung penuh oleh negara.
Khalifah Al-Makmun
Abdullah Al-Makmun bin Harun Ar-Rasyid (813-833 M) mulai memerintah Bani Abbasiyah pada 198-218 H/813-833 M. Ia adalah khalifah ketujuh Bani Abbasiyah yang melanjutkan kepemimpinan saudaranya, Al-Amin.
Untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan saat itu, Khalifah Al-Makmun memperluas Baitul Hikmah (Darul Hikmah) yang didirikan ayahnya, Harun Ar-Rasyid, sebagai Akademi Ilmu Pengetahuan pertama di dunia. Baitul Hikmah diperluas menjadi lembaga perguruan tinggi, perpustakaan, dan tempat penelitian. Lembaga ini memiliki ribuan buku ilmu pengetahuan.
Lembaga lain yang didirikan pada masa Al-Makmun adalah Majelis Al-Munazharah sebagai lembaga pengkajian keagamaan yang diselenggarakan di rumah-rumah, masjid-masjid, dan istana khalifah. Lembaga ini menjadi tanda kekuatan penuh kebangkitan Timur, di mana Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan dan puncak keemasan Islam.
Sayangnya, pemerintahan Al-Makmun sedikit tercemar lantaran ia melibatkan diri sepenuhnya dalam pemikiran-pemikiran teologi liberal, yaitu Muktazilah. Akibatnya, paham ini mendapat tempat dan berkembang cukup pesat di kalangan masyarakat.
Imam As-Suyuthi dalam bukunya berjudul "Tarikh Khulafa’; Sejarah Para Khalifah" mengabarkan betapa Harun juga mencintai para ulama, gemar bersedekah, dan taat beribadah. Dikabarkan dia sholat sunnah seratus rakaat setiap hari. Orangnya tinggi dan kulitnya putih. Rajin membaca sholawat setiap mendengar nama Rasulullah SAW disebutkan.
Sejumlah sejarawan sepakat, bahwa era keemasan Dinasti Abbasiyah dimulai pada masa Harun Al-Rasyid, dan mencapai puncaknya di era Khalifah Al-Ma’mun.
Baca juga: Konflik Politik Berdarah dan Tradisi Pembunuhan Khalifah Dinasti Abbasiyah
Beberapa faktor yang mendorong lahirnya era keemasan tersebut di antaranya adalah meningkatnya gairah intektual kaum Muslimin. Meskipun agak sulit memastikan secara rinci faktor-faktor apa saja yang memicu lahirnya gairah intelektual yang besar tersebut. Tapi beberapa sejarawan menilai adanya fenomena ini tidak lepas dari peran para khalifah Abbasiyah yang sangat menggandrungi ilmu pengetahuan.
Pada era Harun Al-Rasyid, proyek penulisan dan penerjemahan buku-buku dari seluruh dunia terus digalakkan, bahkan didukung penuh oleh negara.
Khalifah Al-Makmun
Abdullah Al-Makmun bin Harun Ar-Rasyid (813-833 M) mulai memerintah Bani Abbasiyah pada 198-218 H/813-833 M. Ia adalah khalifah ketujuh Bani Abbasiyah yang melanjutkan kepemimpinan saudaranya, Al-Amin.
Untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan saat itu, Khalifah Al-Makmun memperluas Baitul Hikmah (Darul Hikmah) yang didirikan ayahnya, Harun Ar-Rasyid, sebagai Akademi Ilmu Pengetahuan pertama di dunia. Baitul Hikmah diperluas menjadi lembaga perguruan tinggi, perpustakaan, dan tempat penelitian. Lembaga ini memiliki ribuan buku ilmu pengetahuan.
Lembaga lain yang didirikan pada masa Al-Makmun adalah Majelis Al-Munazharah sebagai lembaga pengkajian keagamaan yang diselenggarakan di rumah-rumah, masjid-masjid, dan istana khalifah. Lembaga ini menjadi tanda kekuatan penuh kebangkitan Timur, di mana Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan dan puncak keemasan Islam.
Sayangnya, pemerintahan Al-Makmun sedikit tercemar lantaran ia melibatkan diri sepenuhnya dalam pemikiran-pemikiran teologi liberal, yaitu Muktazilah. Akibatnya, paham ini mendapat tempat dan berkembang cukup pesat di kalangan masyarakat.
Lihat Juga :