Pendapat Ibnu Qayyim tentang Penetapan Takdir Sebelum Bumi Diciptakan
Selasa, 13 Desember 2022 - 16:04 WIB
loading...
Takkdir sudah ditentukan 50 ribu tahun sebelum penciptaan makhluk. Foto : ilustrasi/istimewa
A
A
A
Salah satu prinsip dasar keimanan dari agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah beriman kepada al-qadar atau mempercayai takdir Allah Subhanahu wa Ta'ala. Pengertian takdir secara syariat adalah adanya kehendak Allah Azza wa Jalla yang terdahulu terhadap semua makhluk yang ada di alam semesta ini sebelum Allah Azza wa Jalla menciptakannya.
Baca juga: Apakah Takdir Merupakan Rukun Iman? Quraish Shihab: Al-Quran dan Hadis Tidak Mengatakan Begitu
Tidak ada sesuatu pun yang terjadi di alam ini luput dari pandangan dan pengetahuan Allah. Semua yang terjadi dan menimpa makhluk Allah Azza wa Jalla pasti telah mengetahui, menghendaki dan menetapkannya, sesuai dengan kandungan hikmah-Nya yang maha sempurna yang ada dalam takdir tersebut.
Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam "Syifa'ul Alil fi Masailil Qodha' wal Qodar", dengan adanya takdir yang diturunkan kepada seorang maka hamba tampaklah ciptaan dan ketetapan-Nya. Karena di antara sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dia Maha (kuasa) berbuat apa yang dikehendaki-Nya, tidak ada sesuatu pun yang terjadi kecuali dengan kehendak-Nya dan tidak ada yang luput dari kehendak-Nya, itulah yang harus diimani oleh umat Islam.
Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :
"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan ukurun (al-qadar/takdir)".(QS. Al-Qamar : 49)
Dari Abdullah bin Amr bin Ash, ia bercerita, aku pernah mendengar Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : "Allah telah menetapkan takdir makhluk ini sebelum Dia menciptakan langit dan Bumi dalam jarak waktu limapuluh ribu tahun. Dan Arsy-Nya di atas air." (HR Muslim)
Hadis tersebut juga menunjukkan bahwa penciptaan qalam (pena) lebih awal dari penciptaan Arsy. Seorang sahabat bernama Ubadah bin Shammit (Abul Walid Ubadah bin ash-Shamit bin Qais al-Anshari al-Khazraji) mengatakan kepada anaknya, wahai putraku, sekali kali engkau tidak akan menikmati rasa iman sampai engkau mengetahui bahwa apa yang menimpamu itu tidak akan menyalahkanmu, dan apa yang menjadikan engkau salah bukan untuk menimpamu.
Ubadah seakan-akan mengatakan kepada putranya bahwa dia harus mengimani takdir Allah apapun yang menimpa dirinya. Karena seperti yang telah dikatakan Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam bersabda yang telah dicatat dalam hadis Abu Dawud bahwa barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan tidak seperti itu (tidak beriman dengan tkdir Allah), maka ia bukan termasuk umat Rasulullah.
Baca juga: Apakah Takdir Merupakan Rukun Iman? Quraish Shihab: Al-Quran dan Hadis Tidak Mengatakan Begitu
Tidak ada sesuatu pun yang terjadi di alam ini luput dari pandangan dan pengetahuan Allah. Semua yang terjadi dan menimpa makhluk Allah Azza wa Jalla pasti telah mengetahui, menghendaki dan menetapkannya, sesuai dengan kandungan hikmah-Nya yang maha sempurna yang ada dalam takdir tersebut.
Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam "Syifa'ul Alil fi Masailil Qodha' wal Qodar", dengan adanya takdir yang diturunkan kepada seorang maka hamba tampaklah ciptaan dan ketetapan-Nya. Karena di antara sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dia Maha (kuasa) berbuat apa yang dikehendaki-Nya, tidak ada sesuatu pun yang terjadi kecuali dengan kehendak-Nya dan tidak ada yang luput dari kehendak-Nya, itulah yang harus diimani oleh umat Islam.
Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan ukurun (al-qadar/takdir)".(QS. Al-Qamar : 49)
Dari Abdullah bin Amr bin Ash, ia bercerita, aku pernah mendengar Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : "Allah telah menetapkan takdir makhluk ini sebelum Dia menciptakan langit dan Bumi dalam jarak waktu limapuluh ribu tahun. Dan Arsy-Nya di atas air." (HR Muslim)
Hadis tersebut juga menunjukkan bahwa penciptaan qalam (pena) lebih awal dari penciptaan Arsy. Seorang sahabat bernama Ubadah bin Shammit (Abul Walid Ubadah bin ash-Shamit bin Qais al-Anshari al-Khazraji) mengatakan kepada anaknya, wahai putraku, sekali kali engkau tidak akan menikmati rasa iman sampai engkau mengetahui bahwa apa yang menimpamu itu tidak akan menyalahkanmu, dan apa yang menjadikan engkau salah bukan untuk menimpamu.
Ubadah seakan-akan mengatakan kepada putranya bahwa dia harus mengimani takdir Allah apapun yang menimpa dirinya. Karena seperti yang telah dikatakan Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam bersabda yang telah dicatat dalam hadis Abu Dawud bahwa barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan tidak seperti itu (tidak beriman dengan tkdir Allah), maka ia bukan termasuk umat Rasulullah.
Lihat Juga :