Kisah Tehmina Khan Muslimah India Tinggal di Amerika, Mengaku sebagai Pengembara
Minggu, 18 Desember 2022 - 12:18 WIB
loading...
A
A
A
Masyarakat Asia Selatan bercita-cita untuk bekerja dalam suatu struktur, dan ada perasaan bahwa jika kami mampu dan dapat berbicara pada yang berwenang serta memberitahukan pada mereka siapa kami sebenarnya, maka kami dapat menjadi bagian dari struktur tersebut dan kami akan membawa Islam ke dalam struktur kekuasaan.
Masyarakat kulit hitam juga berpikir demikian. Mereka lebih tahu. Saya pikir kita harus membawa kesadaran masyarakat Muslim Afro-Amerika kepada masyarakat Muslim Asia Selatan.
Saya tidak tinggal di komunitas Muslim. Saya berhubungan dengan komunitas Muslim ketika saya menginginkannya. Saya dapat menjadi diri sendiri dan menjadi seorang Muslim dalam saat yang bersamaan. Lama baru saya menyadari hal ini.
Karena semakin beranjak dewasa, orangtua saya mulai membicarakan masalah perkawinan. Mereka ingin mencarikan jodoh untuk saya.
Di Hyderabad, India, kaum wanita tidak pergi ke masjid. Saya pergi ke masjid bersama nenek saya beberapa kali, bukan pada jam-jam sholat jamaah. Saya waktu itu berusia 14 tahun. Ketika satu hari menjelang Hari Raya. Saya berkata, "Bagus, kita semua dapat melakukan sholat Ied di India; ini sangat menyenangkan."
Kemudian saya diberitahu, "Kaum wanita di sini tidak melakukan sholat Ied."
Apa! Saya sangat kecewa.
Baca juga: Kisah Mualaf Amerika Serikat Rap Brown, Masuk Islam saat di Penjara
Saya benar-benar marah. Peresmian Masjid Berkeley hari Jumat yang lalu sangat bersifat patriarkal. Sikap itu melanda sebagian besar kaum lelaki. Mereka saling berbincang dan benar-benar mengabaikan kehadiran kami.
Saya tidak suka berada di ruang yang terpisah. Saya tidak dapat mendengarkan apa yang sedang terjadi di luar sana, dan memang diasumsikan bahwa saya tidak perlu mengetahui apa yang sedang terjadi.
Ketika orang-orang berdatangan ke Amerika dari berbagai negara, sebagian besar dari mereka menjadi semakin defensif dan semakin kaku menanggapi peran dan masyarakat.
Masyarakat kulit hitam juga berpikir demikian. Mereka lebih tahu. Saya pikir kita harus membawa kesadaran masyarakat Muslim Afro-Amerika kepada masyarakat Muslim Asia Selatan.
Saya tidak tinggal di komunitas Muslim. Saya berhubungan dengan komunitas Muslim ketika saya menginginkannya. Saya dapat menjadi diri sendiri dan menjadi seorang Muslim dalam saat yang bersamaan. Lama baru saya menyadari hal ini.
Karena semakin beranjak dewasa, orangtua saya mulai membicarakan masalah perkawinan. Mereka ingin mencarikan jodoh untuk saya.
Di Hyderabad, India, kaum wanita tidak pergi ke masjid. Saya pergi ke masjid bersama nenek saya beberapa kali, bukan pada jam-jam sholat jamaah. Saya waktu itu berusia 14 tahun. Ketika satu hari menjelang Hari Raya. Saya berkata, "Bagus, kita semua dapat melakukan sholat Ied di India; ini sangat menyenangkan."
Kemudian saya diberitahu, "Kaum wanita di sini tidak melakukan sholat Ied."
Apa! Saya sangat kecewa.
Baca juga: Kisah Mualaf Amerika Serikat Rap Brown, Masuk Islam saat di Penjara
Saya benar-benar marah. Peresmian Masjid Berkeley hari Jumat yang lalu sangat bersifat patriarkal. Sikap itu melanda sebagian besar kaum lelaki. Mereka saling berbincang dan benar-benar mengabaikan kehadiran kami.
Saya tidak suka berada di ruang yang terpisah. Saya tidak dapat mendengarkan apa yang sedang terjadi di luar sana, dan memang diasumsikan bahwa saya tidak perlu mengetahui apa yang sedang terjadi.
Ketika orang-orang berdatangan ke Amerika dari berbagai negara, sebagian besar dari mereka menjadi semakin defensif dan semakin kaku menanggapi peran dan masyarakat.
Lihat Juga :