Kisah Kritikus Sastra Donald S Rockwell Mengapa Memilih Islam
Senin, 02 Januari 2023 - 05:15 WIB
loading...
Kolonel Donald S. Rockwell. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Pada awalnya, Kolonel Donald S. Rockwell tertarik dengan Islam karena kemudahan ajaran-ajarannya. Di samping juga daya tarik dan keagungan suasana mesjid-mesjid kaum Muslimin .
"Kesungguhan kaum Muslimin memegang kepercayaan, kepercayaan/iman yang mempengaruhi amal perbuatan dari miliaran kaum Muslimin yang tersebar di seluruh dunia yang memenuhi panggilan sembahyang lima kali sehari semalam, semua faktor itulah yang mula-mula menarik perhatian saya," ujarnya.
Mualaf ini kelahiran di Illinois, AS. Ia menyelesaikan studinya di Universitas Washington dan Columbia. Di sana dia memenangkan banyak penghargaan akademis.
Baca juga: Kisah Mualaf Bangsawan Inggris Lord Headly Al-Farooq
Rockwell dikenal sebagai penyair, kritikus sastra, penulis, dan pemimpin redaksi Radio Personalities. Berikut penuturan Kolonel Donald S. Rockwell sebagaimana dinukil dalam buku yang diterjemahkan Bachtiar Affandie berjudul "Mengapa Kami Memilih Islam" oleh Rabithah Alam Islamy (PT Alma'arif, 1981):
Sesudah saya memutuskan untuk menjadi pemeluk agama Islam, saya masih menemukan lagi banyak sebab-sebab lain yang lebih penting dan lebih dalam untuk memperkuat keputusan saya.
Suatu konsep hidup yang matang dari Nabi Muhammad SAW yang dipadu dengan praktik, suatu pengarahan yang bijaksana, anjuran berbuat baik dan berkasih sayang, cinta kasih kemanusiaan yang luas dan perintis deklarasi hak-hak kaum wanita, semua itu dan masih banyak lagi yang lain-lain, bagi saya merupakan saksi-saksi hidup atas kebolehan agama ini yang dibawakan oleh orang Mekkah dalam sabdanya yang singkat, bijaksana dan berpengaruh.
"Percayalah kepada Tuhan dan ikatlah untamu." Begitulah sabda Rasulullah SAW. Dengan kata-katanya ini, beliau memberikan sistem keagamaan dalam perbuatan biasa. Jadi beliau itu tidak menyuruh kita percaya kepada adanya kekuasaan gaib yang menjaga, pada hal kita sendiri bersikap lengah.
Beliau mengajarkan bahwa jika kita telah berbuat secara benar menurut kemampuan kita, kita boleh percaya atas apa yang akan terjadi sebagai Kehendak Allah SWT.
Baca juga: Kisah Mualaf Jerman Murad Wilfred Hoffman Pergi Haji
Keluasan toleransi Islam terhadap agama-agama lain, telah menyebabkan agama ini lebih dekat kepada orang-orang yang mencintai kebebasan. Muhammad SAW telah menyerukan kepada para pengikutnya supaya bergaul dengan baik dengan para penganut Perjanjian Lama (Old Testament atau Taurat) dan Perjanjian Baru (New Testament atau Injil), dan Ibrahim, Musa dan Isa (Yesus) dipercayai sebagai Nabi-nabi yang diutus oleh Tuhan Yang Satu. Ini jelas merupakan sikap Islam yang toleran, berbeda dengan agama-agama lain.
Pembebasan sepenuhnya dari penyembahan patung-patung berhala merupakan bukti atas sehat dan bersihnya pokok-pokok ajaran Islam.
Ajaran-ajaran asli yang diberikan oleh Muhammad SAW tidak bisa diubah atau ditambah oleh mereka yang menjadi sarjana hukum. Itulah Al-Qur'an yang tetap seperti keadaannya sewaktu diturunkan kepada Muhammad SAW untuk memberi petunjuk kepada kaum musyrikin waktu itu. Tidak berubah, sama seperti sucinya jiwa Islam sendiri.
"Kesungguhan kaum Muslimin memegang kepercayaan, kepercayaan/iman yang mempengaruhi amal perbuatan dari miliaran kaum Muslimin yang tersebar di seluruh dunia yang memenuhi panggilan sembahyang lima kali sehari semalam, semua faktor itulah yang mula-mula menarik perhatian saya," ujarnya.
Mualaf ini kelahiran di Illinois, AS. Ia menyelesaikan studinya di Universitas Washington dan Columbia. Di sana dia memenangkan banyak penghargaan akademis.
Baca juga: Kisah Mualaf Bangsawan Inggris Lord Headly Al-Farooq
Rockwell dikenal sebagai penyair, kritikus sastra, penulis, dan pemimpin redaksi Radio Personalities. Berikut penuturan Kolonel Donald S. Rockwell sebagaimana dinukil dalam buku yang diterjemahkan Bachtiar Affandie berjudul "Mengapa Kami Memilih Islam" oleh Rabithah Alam Islamy (PT Alma'arif, 1981):
Sesudah saya memutuskan untuk menjadi pemeluk agama Islam, saya masih menemukan lagi banyak sebab-sebab lain yang lebih penting dan lebih dalam untuk memperkuat keputusan saya.
Suatu konsep hidup yang matang dari Nabi Muhammad SAW yang dipadu dengan praktik, suatu pengarahan yang bijaksana, anjuran berbuat baik dan berkasih sayang, cinta kasih kemanusiaan yang luas dan perintis deklarasi hak-hak kaum wanita, semua itu dan masih banyak lagi yang lain-lain, bagi saya merupakan saksi-saksi hidup atas kebolehan agama ini yang dibawakan oleh orang Mekkah dalam sabdanya yang singkat, bijaksana dan berpengaruh.
"Percayalah kepada Tuhan dan ikatlah untamu." Begitulah sabda Rasulullah SAW. Dengan kata-katanya ini, beliau memberikan sistem keagamaan dalam perbuatan biasa. Jadi beliau itu tidak menyuruh kita percaya kepada adanya kekuasaan gaib yang menjaga, pada hal kita sendiri bersikap lengah.
Beliau mengajarkan bahwa jika kita telah berbuat secara benar menurut kemampuan kita, kita boleh percaya atas apa yang akan terjadi sebagai Kehendak Allah SWT.
Baca juga: Kisah Mualaf Jerman Murad Wilfred Hoffman Pergi Haji
Keluasan toleransi Islam terhadap agama-agama lain, telah menyebabkan agama ini lebih dekat kepada orang-orang yang mencintai kebebasan. Muhammad SAW telah menyerukan kepada para pengikutnya supaya bergaul dengan baik dengan para penganut Perjanjian Lama (Old Testament atau Taurat) dan Perjanjian Baru (New Testament atau Injil), dan Ibrahim, Musa dan Isa (Yesus) dipercayai sebagai Nabi-nabi yang diutus oleh Tuhan Yang Satu. Ini jelas merupakan sikap Islam yang toleran, berbeda dengan agama-agama lain.
Pembebasan sepenuhnya dari penyembahan patung-patung berhala merupakan bukti atas sehat dan bersihnya pokok-pokok ajaran Islam.
Ajaran-ajaran asli yang diberikan oleh Muhammad SAW tidak bisa diubah atau ditambah oleh mereka yang menjadi sarjana hukum. Itulah Al-Qur'an yang tetap seperti keadaannya sewaktu diturunkan kepada Muhammad SAW untuk memberi petunjuk kepada kaum musyrikin waktu itu. Tidak berubah, sama seperti sucinya jiwa Islam sendiri.
Lihat Juga :