Kisah Mualaf Bangsawan Inggris Lord Headly Al-Farooq
Rabu, 23 November 2022 - 17:01 WIB
loading...
Lord Headly Al-Farooq, bangsawan Inggris yang memilih masuk Islam. Foto/Ilustrasi: national portrait gallery
A
A
A
Lord Headly Al-Farooq (19 January 1855 – 22 June 1935) adalah seorang bangsawan Inggris . Dia seorang insinyur yang memilih menjadi pengarang. Dia memutuskan memeluk agama Islam pada 16 Nopember 1913. Namanya pun diganti menjadi Syaikh Rahmatullah Al-Farooq.
"Saya telah menerangkan alasan-alasan saya, mengapa saya menghormati ajaran-ajaran Islam, dan saya umumkan bahwa saya sendiri telah memeluk Islam lebih baik dari pada sewaktu saya masih seorang Kristen," ujar Lord Headly Al-Farooq sebagaimana dinukil dalam buku berjudul "Mengapa Kami Memilih Islam" oleh Rabithah Alam Islamy Mekah (PT Alma'arif, Bandung, 1981).
Lulusan Universitas Cambridge ini menjadi seorang bangsawan pada tahun 1877. Ia mengabdikan diri dalam kemiliteran dengan pangkat Kapten, dan terakhir sebagai Letnan Kolonel dalam Batalion IV Infanteri di North Minister Fusilier.
Berikut penuturan Lord Headly Al-Farooq tentang dirinya dan alasan mengapa ia memilih memeluk agama Islam. Pernyataannya ini disampaikan beberapa saat setelah ia masuk Islam.
Baca juga: Kisah Perjalanan Muhammad Ali Menjadi Seorang Mualaf
Mungkin ada kawan-kawan saya yang mengira bahwa saya telah terpengaruh oleh orang-orang Islam. Dugaan itu tidak benar, sebab kepindahan saya kepada agama Islam adalah timbul dari kesadaran saya sendiri, hasil pemikiran saya sendiri.
Saya telah bertukar pikiran dengan orang-orang Islam terpelajar tentang agama hanya terjadi beberapa minggu yang lalu. Dan perlu pula saya kemukakan bahwa saya sangat bergembira setelah ternyata bahwa semua teori dan kesimpulan saya persis seluruhnya cocok dengan Islam.
Kesadaran beragama, sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Qur'an, harus timbul dari kebebasan memilih dan putusan yang spontan, dan tidak boleh ada paksaan. Mengenai hal ini, Jesus Al-Masih menyatakan kepada para pengikutnya:
"Dan orang tidak akan dapat menerima kamu atau memperhatikan kata-kata kamu, apabila kamu meninggalkan dia." -- Injil Markus, VI, 2.
Saya banyak mengetahui tentang aliran Protestan yang fanatik, yang berpendapat bahwa kewajiban mereka ialah mendatangi rumah-rumah orang Katolik Roma untuk mengusahakan supaya kawan-kawan se-"kandang"-nya itu bertaubat.
"Saya telah menerangkan alasan-alasan saya, mengapa saya menghormati ajaran-ajaran Islam, dan saya umumkan bahwa saya sendiri telah memeluk Islam lebih baik dari pada sewaktu saya masih seorang Kristen," ujar Lord Headly Al-Farooq sebagaimana dinukil dalam buku berjudul "Mengapa Kami Memilih Islam" oleh Rabithah Alam Islamy Mekah (PT Alma'arif, Bandung, 1981).
Lulusan Universitas Cambridge ini menjadi seorang bangsawan pada tahun 1877. Ia mengabdikan diri dalam kemiliteran dengan pangkat Kapten, dan terakhir sebagai Letnan Kolonel dalam Batalion IV Infanteri di North Minister Fusilier.
Berikut penuturan Lord Headly Al-Farooq tentang dirinya dan alasan mengapa ia memilih memeluk agama Islam. Pernyataannya ini disampaikan beberapa saat setelah ia masuk Islam.
Baca juga: Kisah Perjalanan Muhammad Ali Menjadi Seorang Mualaf
Mungkin ada kawan-kawan saya yang mengira bahwa saya telah terpengaruh oleh orang-orang Islam. Dugaan itu tidak benar, sebab kepindahan saya kepada agama Islam adalah timbul dari kesadaran saya sendiri, hasil pemikiran saya sendiri.
Saya telah bertukar pikiran dengan orang-orang Islam terpelajar tentang agama hanya terjadi beberapa minggu yang lalu. Dan perlu pula saya kemukakan bahwa saya sangat bergembira setelah ternyata bahwa semua teori dan kesimpulan saya persis seluruhnya cocok dengan Islam.
Kesadaran beragama, sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Qur'an, harus timbul dari kebebasan memilih dan putusan yang spontan, dan tidak boleh ada paksaan. Mengenai hal ini, Jesus Al-Masih menyatakan kepada para pengikutnya:
"Dan orang tidak akan dapat menerima kamu atau memperhatikan kata-kata kamu, apabila kamu meninggalkan dia." -- Injil Markus, VI, 2.
Saya banyak mengetahui tentang aliran Protestan yang fanatik, yang berpendapat bahwa kewajiban mereka ialah mendatangi rumah-rumah orang Katolik Roma untuk mengusahakan supaya kawan-kawan se-"kandang"-nya itu bertaubat.
Lihat Juga :