Kisah Mualaf Bangsawan Inggris Lord Headly Al-Farooq

loading...
Kisah Mualaf Bangsawan Inggris Lord Headly Al-Farooq
Lord Headly Al-Farooq, bangsawan Inggris yang memilih masuk Islam. Foto/Ilustrasi: national portrait gallery
Lord Headly Al-Farooq (19 January 1855 – 22 June 1935) adalah seorang bangsawan Inggris . Dia seorang insinyur yang memilih menjadi pengarang. Dia memutuskan memeluk agama Islam pada 16 Nopember 1913. Namanya pun diganti menjadi Syaikh Rahmatullah Al-Farooq.

"Saya telah menerangkan alasan-alasan saya, mengapa saya menghormati ajaran-ajaran Islam, dan saya umumkan bahwa saya sendiri telah memeluk Islam lebih baik dari pada sewaktu saya masih seorang Kristen," ujar Lord Headly Al-Farooq sebagaimana dinukil dalam buku berjudul "Mengapa Kami Memilih Islam" oleh Rabithah Alam Islamy Mekah (PT Alma'arif, Bandung, 1981).

Lulusan Universitas Cambridge ini menjadi seorang bangsawan pada tahun 1877. Ia mengabdikan diri dalam kemiliteran dengan pangkat Kapten, dan terakhir sebagai Letnan Kolonel dalam Batalion IV Infanteri di North Minister Fusilier.

Berikut penuturan Lord Headly Al-Farooq tentang dirinya dan alasan mengapa ia memilih memeluk agama Islam. Pernyataannya ini disampaikan beberapa saat setelah ia masuk Islam.

Baca juga: Kisah Perjalanan Muhammad Ali Menjadi Seorang Mualaf

Mungkin ada kawan-kawan saya yang mengira bahwa saya telah terpengaruh oleh orang-orang Islam. Dugaan itu tidak benar, sebab kepindahan saya kepada agama Islam adalah timbul dari kesadaran saya sendiri, hasil pemikiran saya sendiri.

Saya telah bertukar pikiran dengan orang-orang Islam terpelajar tentang agama hanya terjadi beberapa minggu yang lalu. Dan perlu pula saya kemukakan bahwa saya sangat bergembira setelah ternyata bahwa semua teori dan kesimpulan saya persis seluruhnya cocok dengan Islam.

Kesadaran beragama, sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Qur'an, harus timbul dari kebebasan memilih dan putusan yang spontan, dan tidak boleh ada paksaan. Mengenai hal ini, Jesus Al-Masih menyatakan kepada para pengikutnya:

"Dan orang tidak akan dapat menerima kamu atau memperhatikan kata-kata kamu, apabila kamu meninggalkan dia." -- Injil Markus, VI, 2.

Saya banyak mengetahui tentang aliran Protestan yang fanatik, yang berpendapat bahwa kewajiban mereka ialah mendatangi rumah-rumah orang Katolik Roma untuk mengusahakan supaya kawan-kawan se-"kandang"-nya itu bertaubat.

Tidak bisa diragukan lagi bahwa tindakan yang mencolok ini, adalah suatu tindakan yang tidak jujur, bahkan setiap jiwa yang murni akan mengutuknya, karena hal itu dapat membangkitkan pertentangan-pertentangan yang menodai keluhuran agama.

Maaf saya katakan, bahwa kebanyakan misi Nasrani juga telah mengambil langkah-langkah yang sama terhadap saudara-saudaranya yang memeluk agama Islam.

Baca juga: Ini Agama Suami Maudy Ayunda sebelum Mualaf

Saya tidak habis pikir, mengapa mereka selalu berusaha memurtadkan orang-orang yang pada hakikatnya lebih dekat kepada ajaran Jesus yang sebenarnya dari pada mereka sendiri?!

Saya katakan demikian, sebab dalam hal kebaikan, toleransi dan keluasan berpikir dalam akidah Islam lebih dekat kepada ajaran Kristus, dari pada ajaran-ajaran sempit dari Gereja-gereja Kristen sendiri.

Sebagai contoh ialah Kredo Athanasia yang mengecam akidah Trinitas dengan keterangannya yang sangat membingungkan. Aliran ini yang sangat penting dan berperanan menentukan dalam salah satu ajaran pokok dari Gereja, menyatakan dengan tegas bahwa dia mewakili ajaran Katolik, dan kalau kita tidak percaya kepadanya, kita akan celaka selama-lamanya.

Tapi kita diharuskan olehnya supaya percaya kepada akidah Trinitas. Dengan kata lain, kita diwajibkan beriman kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Agung, kemudian pada waktu yang sama kita diharuskan menutupinya dengan kezaliman dan kekejaman, seolah-olah kita menutupi manusia paling jahat.

Sedangkan Allah SWT amat jauh dari kemungkinan bisa dibatasi oleh rencana manusia lemah yang mempercayai akidah Trinitas atau Tatslits.

Masih ada satu contoh lagi tentang kemauan berbuat baik. Saya pernah menerima surat --tentang kecenderungan saya kepada Islam-- dimana penulisnya menyatakan bahwa apabila saya tidak percaya kepada ke-Tuhan-an Yesus Kristus, saya tidak akan mendapat keselamatan.

Padahal soal ke-Tuhan-an Yesus itu menurut pendapat saya tidak sepenting soal: "Apakah Yesus Kristus telah menyampaikan Risalah Tuhan kepada manusia atau tidak?"
halaman ke-1
preload video