Ini Alasan Michael H Hart Tempatkan Umar bin Khattab di Urutan 51 Tokoh Paling Berpengaruh

Rabu, 18 Januari 2023 - 05:15 WIB
loading...
Ini Alasan Michael H Hart Tempatkan Umar bin Khattab di Urutan 51 Tokoh Paling Berpengaruh
Michael H Hart menempatkan Umar bin Khattab nomor urut 51 di antara 100 tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah. Foto/Ilustrasi: Ist
A A A
Michael H Hart menempatkan Umar bin Khattab nomor urut 51 di antara 100 tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah. Umar jauh di bawah Isaac Newton (2), Buddha (4), Kong Hu Cu (5), dan sejumlah nama lain non-Islam. Hanya saja, astrofisikawan Yahudi-Amerika ini menempatkan Nabi Muhammad SAW di urutan paling puncak.

Dalam buku yang diterjemahkan Mahbub Djunaidi berjudul "Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah" itu (PT Dunia Pustaka Jaya, 1978), Michael H. Hart menyebut Umar bin al-Khattab mungkin terbesar dari semua khalifah Islam.

Dia menyebut dalam masa kepemimpinan 10 tahun Umar penaklukan-penaklukan penting dilakukan orang Arab. Tak lama sesudah Umar memegang tampuk kekuasaan sebagai khalifah, pasukan Arab menduduki Suriah dan Palestina, yang kala itu menjadi bagian Kekaisaran Byzantium.

Baca juga: Pidato Pelantikan Umar bin Khattab yang Menggetarkan

Dalam pertempuran Yarmuk (636), pasukan Arab berhasil memukul habis kekuatan Byzantium. Damaskus jatuh pada tahun itu juga, dan Darussalam menyerah dua tahun kemudian.

Menjelang tahun 641, pasukan Arab telah menguasai seluruh Palestina dan Suriah, dan terus menerjang maju ke daerah yang kini bernama Turki. Tahun 639, pasukan Arab menyerbu Mesir yang juga saat itu di bawah kekuasaan Byzantium. Dalam tempo tiga tahun, penaklukan Mesir diselesaikan dengan sempurna.

Michael H Hart menyebutkan bahwa penyerangan Arab terhadap Irak yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Persia telah mulai bahkan sebelum Umar naik jadi khalifah. Kunci kemenangan Arab terletak pada pertempuran Qadisiya tahun 637, terjadi di masa kekhalifahan Umar.

Menjelang tahun 641, seluruh Irak sudah berada di bawah pengawasan Arab. Dan bukan cuma itu, pasukan Arab bahkan menyerbu langsung Persia dan dalam pertempuran Nehavend (642) mereka secara menentukan mengalahkan sisa terakhir kekuatan Persia.

Baca juga: Pesan Sholat Umar bin Khattab Menjelang Izrail Menjemputnya

Menjelang wafatnya Umar di tahun 644, sebagian besar daerah barat Iran sudah terkuasai sepenuhnya. Gerakan ini tidak berhenti tatkala Umar wafat. Di bagian timur mereka dengan cepat menaklukkan Persia dan bagian barat mereka mendesak terus dengan pasukan menyeberang Afrika Utara.

Menurut Michael H Hart, sama pentingnya dengan makna penaklukan-penaklukan yang dilakukanUmar adalah kepermanenan dan kemantapan pemerintahannya.

Iran, kendati penduduknya masuk Islam, berbarengan dengan itu mereka memperoleh kemerdekaannya dari pemerintahan Arab. Tetapi Suriah, Irak dan Mesir tidak pernah peroleh hal serupa. Negeri-negeri itu seluruhnya di-Arabkan hingga saat kini.

Menurutnya, Umar sudah barangtentu punya rencana apa yang harus dilakukannya terhadap daerah-daerah yang sudah ditaklukkan oleh pasukan Arab.

Dia memutuskan, orang Arab punya hak-hak istimewa dalam segi militer di daerah-daerah taklukan, mereka harus berdiam di kota-kota tertentu yang ditentukan untuk itu, terpisah dari penduduk setempat.

Baca juga: Kisah Umar Bin Khattab dan Unta yang Disewanya

Penduduk setempat harus bayar pajak kepada penakluk Muslimin (umumnya Arab), tetapi mereka dibiarkan hidup dengan aman dan tenteram. Khususnya, mereka tidak dipaksa memeluk Agama Islam. Dari hal itu sudahlah jelas bahwa penaklukan Arab lebih bersifat perang penaklukan nasionalis daripada suatu perang suci meskipun aspek agama bukannya tidak memainkan peranan.

Michael H Hart mengaakan keberhasilan Umar betul-betul mengesankan. Sesudah Nabi Muhammad, dia merupakan tokoh utama dalam hal penyerbuan oleh Islam. Tanpa penaklukan-penaklukannya yang secepat kilat, diragukan apakah Islam bisa tersebar luas sebagaimana dapat disaksikan sekarang ini.

Lebih-lebih, kebanyakan daerah yang ditaklukkan di bawah pemerintahannya tetap menjadi Arab hingga kini. "Jelas, tentu saja, Muhammadlah penggerak utamanya jika dia harus menerima penghargaan terhadap perkembangan ini. Tetapi, akan merupakan kekeliruan berat apabila kita mengecilkan saham peranan Umar," ujarnya.

Menurutnya, penaklukan-penaklukan yang dilakukan Umar bukanlah akibat otomatis dari inspirasi yang diberikan Muhammad. Perluasan mungkin saja bisa terjadi, tetapi tidaklah akan sampai sebesar itu kalau saja tanpa kepemimpinan Umar yang brilian.

Michael H Hart mengatakan memang akan merupakan kejutan --buat orang Barat yang tidak begitu mengenal Umar-- membaca penempatan orang ini lebih tinggi dari pada orang-orang kenamaan seperti Charlemagne atau Julius Caesar dalam urutan daftar buku ini.

"Soalnya, penaklukan oleh bangsa Arab di bawah pimpinan Umar lebih luas daerahnya dan lebih tahan lama dan lebih bermakna ketimbang apa yang diperbuat oleh Charlemagne maupun Julius Caesar," jelas Michael H Hart.

Baca juga: Kisah Syahidnya Umar bin Khattab dan Kenaikan Pajak
(mhy)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1881 seconds (11.210#12.26)