QS. Al-Ahqaf Ayat 20

وَيَوۡمَ يُعۡرَضُ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا عَلَى النَّارِ ؕ اَذۡهَبۡتُمۡ طَيِّبٰـتِكُمۡ فِىۡ حَيَاتِكُمُ الدُّنۡيَا وَاسۡتَمۡتَعۡتُمۡ بِهَا ‌ۚ فَالۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ الۡهُوۡنِ بِمَا كُنۡـتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُوۡنَ فِى الۡاَرۡضِ بِغَيۡرِ الۡحَقِّ وَبِمَا كُنۡتُمۡ تَفۡسُقُوۡنَ
Wa Yawma yu'radul laziina kafaruu 'alan Naai azhabtum taiyibaatikum fii hayaatikumud dunyaa wastam ta'tum bihaa fal Yawma tujzawna 'azaabal huuni bimaa kuntum tastakbiruuna fil ardi bighairil haqqi wa bimaa kuntum tafsuquun
Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (seraya dikatakan kepada mereka), "Kamu telah menghabiskan (rezeki) yang baik untuk kehidupan duniamu dan kamu telah bersenang-senang (menikmati)nya; maka pada hari ini kamu dibalas dengan azab yang menghinakan karena kamu sombong di bumi tanpa mengindahkan kebenaran dan karena kamu berbuat durhaka (tidak taat kepada Allah)."
Juz ke-26
Tafsir
Dan ingatlah apa yang akan dihadapi pada hari kemudian yaitu pada hari ketika orang-orang kafir dihadapkan ke neraka sehingga mereka menyaksikan kobaran api neraka dan merasakan panasnya, ketika itu dikatakan kepada mereka “Kamu telah menghabiskan rezeki yang baik untuk kehidupan duniamu dan kamu telah bersenang-senang menikmatinya; maka pada hari ini kamu dibalas dengan azab yang menghinakan karena kamu telah berlaku sombong di muka bumi tanpa alasan yang benar, mengindahkan kebenaran, dan karena kamu terus menerus melakukan kefasikan dan berbuat durhaka kepada Allah.”
Setelah menerangkan bahwa setiap jin dan manusia akan memperoleh balasan yang adil dari-Nya, Allah menerangkan keadaan orang-orang kafir pada saat mereka dihadapkan ke neraka. Allah memerintahkan kepada Rasulullah saw agar menyampaikan kepada orang- orang kafir keadaan mereka ketika dibawa ke dalam neraka. Kepada mereka dikatakan bahwa segala macam kebahagiaan dan kenikmatan yang diperuntukkan bagi mereka telah lengkap dan sempurna mereka terima semasa hidup di dunia. Tidak ada satu pun bagian yang akan mereka nikmati lagi di akhirat. Yang tinggal hanyalah kehinaan, kerendahan, azab pedih yang akan mereka alami sebagai pembalasan atas kesombongan, kefasikan, kezaliman, kemaksiatan, dan kekafiran yang mereka lakukan selama hidup di dunia.

Ayat ini memperingatkan manusia agar meninggalkan hidup mewah yang berlebih-lebihan, meninggalkan perbuatan mubazir, maksiat, dan menganjurkan agar kaum Muslimin hidup sederhana, tidak berlebih-lebihan menggunakan sesuatu sesuai dengan keperluan dan keadaan, dan disesuaikan dengan tujuan hidup seorang muslim. Seandainya ada kelebihan harta, hendaklah diberikan kepada orang-orang miskin, orang-orang terlantar, dan anak yatim yang tidak ada yang bertanggung jawab atasnya, dan gunakanlah harta itu untuk keperluan meninggikan kalimat Allah.

Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan lain-lain dari Ibnu 'Umar bahwa 'Umar melihat uang dirham di tangan Jabir bin 'Abdullah, maka beliau berkata, "Uang dirham apakah itu?" Jabir menjawab, "Aku bermaksud membeli sepotong daging yang sudah lama diidamkan oleh keluargaku." 'Umar berkata, "Apakah setiap kamu menginginkan sesuatu, lalu kamu beli? Bagaimana pendapatmu tentang ayat ini? Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniamu saja, dan kamu telah bersenang-senang dengannya?"

Dari riwayat di atas dapat kita tarik pelajaran bahwa 'Umar bin al-Khaththab menasihati Jabir bin 'Abdullah dengan ayat ini agar tidak terlalu menuruti keinginannya dan mengingatkan bahwa kesenangan dan kebahagiaan di dunia ini hanya bersifat sementara, sedangkan kebahagiaan yang abadi ada di akhirat. Oleh karena itu, kita harus menggunakan segala rezeki yang telah dianugerahkan Allah dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan ketentuan yang digariskan agama.

Tentang hidup sederhana ini tergambar dalam kehidupan keluarga Rasulullah saw sebagaimana disebutkan dalam hadis:

Diriwayatkan dari sauban, ia berkata, "Rasulullah saw apabila akan bepergian, keluarga terakhir yang dikunjunginya adalah Fatimah. Dan keluarganya yang lebih dahulu didatanginya apabila ia kembali dari perjalanan ialah Fatimah. Beliau kembali dari Gazah (peperangan), lalu beliau datang ke rumah Fatimah, dan beliau mengusap pintu rumah dan melihat gelang perak di tangan Hasan dan Husein, beliau kembali dan tidak masuk. Tatkala Fatimah melihat yang demikian, ia berpendapat bahwa Rasulullah saw tidak masuk ke rumahnya itu karena beliau melihat barang-barang itu. Maka Fatimah menyobek-nyobek kain pintu itu dan mencabut gelang-gelang dari tangan kedua anaknya dan memotong-motongnya, lalu kedua anaknya menangis, maka ia membagi-bagikannya kepada kedua anak itu. Maka keduanya pergi menemui Rasulullah saw dalam keadaan menangis, lalu Rasulullah saw mengambil barang-barang itu dari keduanya seraya berkata, 'Hai sauban, pergilah membawa barang-barang itu kepada Bani Fulan dan belikanlah untuk Fatimah kalung dari kulit lokan dan dua gelang dari gading, maka sesungguhnya mereka adalah keluargaku, dan aku tidak ingin mereka menghabiskan rezeki mereka yang baik sewaktu hidup di dunia ini." (Riwayat Ahmad dan al-Baihaqi)

Hadis ini maksudnya bukan melarang kaum Muslimin memakai perhiasan, suka kepada keindahan, menikmati rezeki yang telah dianugerahkan Allah, melainkan untuk menganjurkan agar orang hidup sesuai dengan kemampuan diri sendiri, tidak berlebih-lebihan, selalu menenggang rasa dalam hidup bertetangga dan dalam berteman. Jangan sampai harta yang dimiliki dengan halal itu menjadi sumber iri hati dan rasa dengki tetangga dan sahabat. Jangan pula hidup boros, dan berbelanja melebihi kemampuan. Ingatlah selalu bahwa banyak orang-orang lain yang memerlukan bantuan, masih banyak biaya yang diperlukan untuk meninggikan kalimat Allah. Rasulullah saw selalu merasa cukup bila memperoleh sesuatu dan bersabar bila sedang tak punya; makan kue jika ada kesanggupan membelinya, minum madu bila kebetulan ada, makan daging bila mungkin mendapatkannya. Hal yang demikian itu menjadi pegangan dan kebiasaan hidup beliau. Beliau selalu bersyukur kepada Allah setiap menerima nikmat-Nya.

Yang dilarang ialah memakai perhiasan secara berlebih-lebihan, bersenang-senang tanpa mengingat adanya kehidupan abadi di akhirat nanti. Memakai perhiasan dengan tidak berlebih-lebihan dan tidak menimbulkan iri hati orang lain itu dibolehkan. Allah berfirman:

Katakanlah (Muhammad), "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik- baik? Katakanlah, "Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari Kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk orang-orang yang mengetahui. (al-A'raf/7: 32)
sumber: kemenag.go.id
Keterangan mengenai QS. Al-Ahqaf
Surat Al Ahqaaf terdiri dari 35 ayat termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Jaatsiyah. Dinamai Al Ahqaaf (bukit-bukit pasir) dari perkataan Al Ahqaaf yang terdapat pada ayat 21 surat ini.Dalam ayat tersebut dan ayat-ayat sesudahnya diterangkan bahwa Nabi Hud a.s. telah menyampaikan risalahnya kepada kaumnya di Al Ahqaaf yang sekarang dikenal dengan Ar Rab'ul Khaali, tetapi kaumnya tetap ingkar sekalipun mereka telah diberi peringatan pula oleh rasul-rasul yang sebelumnya. Akhirnya Allah menghancurkan mereka dengan tiupan angin kencang. Hal ini adalah sebagai isyarat dari Allah kepada kaum musyrikin Quraisy bahwa mereka akan dihancurkan bila mereka tidak mengindahkan seruan Rasul.
Sandiaga Uno Minta Para Hafidz dan Hafidzah Doakan Ekonomi Bangkit, Indonesia Kembali Pulih
Sandiaga Uno Minta Para Hafidz dan Hafidzah Doakan Ekonomi Bangkit, Indonesia Kembali Pulih

Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno meminta para hafidz dan hafidzah untuk mendoakan agar Indonesia terbebas dari pandemi Covid-19.

Nabi Muhammad Tidak Anti kepada Non-Muslim 2/Tamat
Nabi Muhammad Tidak Anti kepada Non-Muslim 2/Tamat

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam benar-benar sosok teladan dalam bergaul baik dengan tetangga maupun dengan non-muslim. Berikut lanjutan kisahnya.

Niat Puasa Senin Kamis Lengkap Bacaan Latin dan Artinya
Niat Puasa Senin Kamis Lengkap Bacaan Latin dan Artinya

Niat Puasa Senin Kamis perlu diketahui umat muslim karena merupakan salah satu dari rukun puasa. Berikut bacaan niat puasa Senin Kamis lengkap latin dan artinya.

Sekadar Bicara Tobat dengan Lidah Bukan Tobat, Lalu Bagaimana?
Sekadar Bicara Tobat dengan Lidah Bukan Tobat, Lalu Bagaimana?

Tobat adalah perkara yang lebih besar dari itu, dan juga lebih dalam dan lebih sulit. Ungkapan lisan itu dituntut setelah ia mewujudkannya dalam tindakannya.

Amalan Penghapus Dosa dan Pembuka Pintu Surga
Amalan Penghapus Dosa dan Pembuka Pintu Surga

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan satu kalimat agung yang fadhillahnya dapat menghapus dosa dan membuka pintu surga. Berikut amalannya.

15 Orang yang Selalu Didoakan Para Malaikat, Berikut Hadisnya
15 Orang yang Selalu Didoakan Para Malaikat, Berikut Hadisnya

Para Malaikat senantiasa mendoakan orang-orang yang berbuat baik dan beramal saleh ketika di dunia. Berikut 15 golongan orang yang didoakan oleh Malaikat bersumber dari Hadis Nabi.

Kisah Si Ganteng yang Hilang dan Kelambu Sutra Baitullah
Kisah Si Ganteng yang Hilang dan Kelambu Sutra Baitullah

Pada waktu Abbas masih anak-anak, ia pernah hilang. Sang ibu lalu bernazar, kalau puteranya itu ditemukan, ia akan mengenakan kelambu sutra pada Baitullah.

Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak