Ngabuburit dengan Bermain Ular

loading...
Ngabuburit dengan Bermain Ular
Ngabuburit dengan Bermain Ular
BANTUL - Jeritan tiba-tiba membahana di kawasan perbukitan Watu Lumbung, Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Bantul. Sesekali di gelak tawa juga menyeruak di sela jeritan yang mengisi sore itu.

Bukan karena takut atau apa, ternyata jeritan tersebut hanyalah bukti keterkejutan mereka ketika memegang dan menyentuh kulit ular.

Sore itu (7/7/2015), warga di sekitar Bukit Watu Lumbung, Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek. mereka justru memanggil Yayasan Ular Indonesia atau Sioux untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa.

Sembari menunggu buka puasa, warga juga bermain ular bersama komunitas pecinta ular di indonesia tersebut. Mereka ingin melewatkan tradisi ngabuburit dengan cara yang berbeda.

Memang, beragam cara dilakukan oleh masyarakat untuk menghabiskan waktu sembari menunggu buka puasa. Hal yang sering disebut dengan ngabuburit ini sudah sudah tidak asing lagi.

Tak hanya sekadar mengaji ataupun jalan-jalan mencari jajanan buka puasa, tetapi sebagian masyarakat justru melewatkannya dengan kegiatan-kegiatan yang aneh. “Kami juga ingin belajar mengenal ular,” tutur Sugiyanto, salah seorang warga.

Sugiyanto menuturkan, ngabuburit atau menunggu waktu berbuka puasa tidak terkesan hura- hura atau tidak mendidik/ para pemuda yang tergabung dalam Yayasan Ular Indonesia atau Sioux sengaja datang ke Watu Lumbung Kretek.

Di kawasan perbukitan ini yang merupakan ekosistem ular, mereka sengaja mengumpulkan warga dan diajak untuk belajar tentang ular.

Mereka sengaja mengundang komunitas ular, karena di kawasan tersebut merupakan tempat atau habitat kehidupan berbagai jenis ular mulai yang biasa hingga berbisa. Oleh karena itu, warga diminta waspada sewaktu-waktu berhadapan dengan ular.

“Di sini sering ditemui ular, makanya harus selalu siap jika sewaktu-waktu ketemu dengan ular,” tuturnya.

Koordinator Komunitas Pecinta Ular, Aji Rahman mengaku, selama ini ada pemahaman masyarakat tentang ular banyak yang salah. Di benak masyarakat, masih tertanam doktrin jika ular sebenarnya merupakan binatang yang berbahaya.

“Padahal beberapa jenis ular seperti ular sawah sangat membantu manusia yaitu sebagai predator alami pembasmi hama tikus,”paparnya.

Dengan mengenal ular dan berani menyentuhnya, maka ia berharap warga tak apatis lagi dengan kehadiran ular. Diharapkan warga bisa semakin menyayangi ular-ular yang ada di sekitar mereka.

Ia mengakui jika saat ini populasi ular sudah banyak berkurang. Ini karena perburuan yang merajalela dengan alasan untuk obat.

Selain itu, dalam kegiatan ini pihaknya juga memberi pemahaman langkah apa yang diambil ketika digigit ular, terutama ular berbisa. Karena ada jenis ular tertentu yang gigitannya bisa berakibat fatal.

Sebab, dalam menit-menit pertama setelah gigitan maka jaringan akan membengkak dan sebagian akan berwarna merah gelap.

“Kalau sudah bengkak biasanya rasa kaku dan nyeri akan meluas perlahan-lahan ke seluruh bagian yang tergigit. Apabila tidak ditangani dengan baik, perdarahan internal dapat menyusul terjadi dalam beberapa jam sampai beberapa hari kemudian, dan bahkan dapat membawa kematian,” tuturnya.
(lis)
preload video