Kisah Fatimah, Berhenti Jadi Bidan Demi Masa Depan 50 Santri TPA

loading...
Kisah Fatimah, Berhenti Jadi Bidan Demi Masa Depan 50 Santri TPA
Kisah Fatimah, Berhenti Jadi Bidan Demi Masa Depan 50 Santri TPA
Wanita itu bernama Fatimah. Seorang bidan yang berhenti dari pekerjaannya karena memilih jalan berdakwah. Selesai berkenalan, ia terburu-buru menuju rumahnya, hanya lima meter dari masjid yang akan dikunjungi tim Mobile Qur'an (MoQu) PPPA Daarul Qur'an Yogyakarta sore itu.

"Maaf, saya maumatiinkompor dulu. Tadi saya ngrebus air sebelum ke sini,” tukasnya terburu sembarimen-startermotor bebeknya.

Kami mengikuti dari belakang. Mobil MoQu sedikit terhuyung lantaran jalanan yang tak cukup lebar. Inilah Kampung Gesikan, sebuah kampung di ujung Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Tim pun sampai di rumah Fatimah yang persis di depan masjid. Anak-anak telah berkumpul hendak mengaji dan menunggu takjilan. Seketika mereka berseru sambil bertepuk tangan melihat sebuah televisi dan tatanan buku-buku bacaan di mobil MoQu.

MoQu bertemabirrul walidainhari itu menyentuh kalbu hingga tertinggal tetes-tetes air mata sebagai saksi. tangisan mereka. Air mata mereka menetes mengingat kembali pentingnya mengaji sebagai bentuk cinta kepada orangtua, terhenti oleh segelas air teh hangat dan sebungkus camilan pembuka puasa sore itu.

Fatimah, ia rupanya menyiapkannya sendirian. Kecuali camilan yang ''urunan'' masyarakat sekitar. Sedikit aneh dari masjid-masjid lain. Di sini, tak ada remaja masjid yang sibuk menyiapkan hidangan berbuka. Hanya dua orang ibu yang sibuk wira-wiri. Fatimah dibantu teman yang baru dikenalnya mengajar Taman Pendidikan Alquran (TPA). Saat Ramadan ini pun, ia hampir mengelola seluruhnya.

Sudah 2,5 tahun sejak suaminya mengalami kanker getah bening, Fatimah mengurus TPA sendiri. Ia harus sering bolak-balik rumah sakit dan rumah terapi demi kesembuhan suaminya. Sampai suatu hari Fatimah memutuskan menutup praktik bidannya. Meski begitu, ibu tiga anak ini terus mempertahankan TPA untuk anak-anak di kampungnya.

Dakwahnya kepada para ibu dan bapak menunjukkan hasil yang signifikan, sehingga tak ada alasan untuk menghentikan TPA. Meski kerepotan mengurus suami juga ketiga anaknya, Fatimah masih memikirkan nasib anak-anak di kampung. Ia berharap melalui anak-anak itulah kelak kampungnya akan berubah lebih baik.

Bermula dari sepuluh santri, kini sudah ada 50 santri yang turut belajar Iqra'. Meski masih terbata, Fatimah punya mimpi besar, geliat Qur'an di kampungnya segera berubah menjadi bacaan-bacaan merdu Alquran. Ia juga berharap, masjid dari tanah wakaf tetangganya yang ia usahakan bisa berdiri, kelak akan menjadi pusat pendidikan Islam. Di mana setiap orang akan ringan melangkah salat berjamaah dan hadir di majelis ilmu.

"Di sini masih susah untuk salat. Bahkan ketika saya undang untuk kajian tiap bulan hanya sedikit sekali yang datang," ungkap Fatimah dengan mata berkaca.

Semoga mimpi Fatimah segera terwujud. Dakwah sederhananya menggeliatkan Alquran semoga segera terbalas dengan tumbuhnya anak-anak yang saleh dan salehah. "Hanya anak-anak ini yang sayapengenjagain banget," tutupnya penuh optimisme.

Ramadan 2017 ini, tim MoQu PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta terus bergerak ke wilayah-wilayah yang membutuhkan dukungan dalam dakwah Islam. Pejuang-pejuang di pelosok daerah mulai bermunculan, lewat Tahfizhul Qur’an tim MoQu akan terus menjaga terhubungnya ikhtiar-ikhtiar mendawamkan Islam ke depannya.Bismillah.

Sumber: www.pppa.or.id
(aww)
preload video