Aulia Cendekia, Pondok Pesantren Terbuka, Modern, dan Digital

loading...
Aulia Cendekia, Pondok Pesantren Terbuka, Modern, dan Digital
Pendiri yang juga pemimpin Ponpes Aulia Cendekia Hendra Zainudin bersama saudara kembarnya Hendri Zainudin mengapit Syech Fadhil Al Jailani Al Hasani Al Husaini, cicit ke-25 Syech Abdul Qadir Jailani yang berkunjung ke pondok. Foto/Koran SINDO/Berli Zulka
Pondok Pesantren (Ponpes) Aulia Cendekia adalah lembaga pendidikan yang lahir, tumbuh, dan berkembang bersama masyarakat Sumatera Selatan (Sumsel) terutama Kota Palembang. Salah satu tujuannya mencetak kader ulama yang cendekia dan sekaligus penghafal Alquran.

Ponpes yang berlokasi di Kelurahan Talang Jambe atau tidak jauh dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang ini mengusung misi menjadi pesantren yang terbuka, modern, dan digital. Pesantren yang didirikan dan dipimpin H Hendra Zainuddin pada 2007 ini dikenal luas di masyarakat.

Tidak heran, kendati ponpes mencetak hafiz Alquran, tapi sangat sering digelar kegiatan bersama sejumlah pihak lain. Seperti pada setiap musim kemarau yang biasa diiringi bencana kabut asap karena kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Di ponpes ini rutin menggelar pengajian khataman Alquran dilanjutkan doa bersama berbagai pihak berdoa meminta hujan dan kemudahan petugas memadamkan kebakaran.

“Kita bersama dengan masyarakat bersama-sama untuk kemaslahatan umat. Kita juga rutin salat minta hujan, tahun lalu sampai beberapa kali bersama TNI dan Satgas Karhutla. Ini bentuk peran kita di daerah ini, kepada bangsa ini,” ucap pimpinan Ponpes Aulia Cendekia H Hendra Zainuddin. Ustaz satu ini adalah saudara kembar salah satu toko muda Sumsel dan petinggi Sriwijaya FC, Hendri Zainudin.

Sebenarnya banyak lembaga pendidikan Islam seperti sekolah dan ponpes berdiri di Sumsel. Namun, ponpes yang terbuka dan tetap fokus terhadap tahfiz Alquran, jumlahnya masih sedikit, terutama di daerah-daerah.

Santriwan-santriwati baik yang mondok maupun reguler (yang tidak mondok) wajib menghafal Alquran sampai tamat. Tekniknya, santri yang mondok wajib hafal satu juz dalam satu bulan dan bagi yang tidak mondok mendapatkan kelonggaran target satu juz selama satu tahun. “Kewajiban menghafal Alquran ini tujuannya sederhana. Minimal mereka menjadi imam salat berjamaah di masjid daerahnya,” tuturnya.

Dengan aturan yang sangat ketat itu, kecil kemungkinan para santri yang mondok tidak menjadi hafiz dan hafizah. Ponpes ini menerapkan konsep yang sudah terbukti efektif untuk membuat santriwan-santriwati hafal alquran. Salah satunya metode fasilitator dan wali kelas yang menerapkan konsep sehingga proses menghafal Alquran para santri terpantau per individu. "Kita sebut Aulia Cendekia berbasis wali kelas. Wali kelas itu yang betul-betul memantau anak-anak itu menghafal Alquran, ada lagi namanya fasilitator," katanya.

Di bidang bela negara, ponpes ini menyiapkan waktu khusus dengan mengundang pihak TNI untuk memberikan pemahaman kepada para santrinya. Di bidang lingkungan hidup, para santri dilibatkan dalam kegiatan untuk meningkatkan kecintaan terhadap alam.

Pesantren Aulia Cendekia ini pertama didirikan pada 2007 hanya menampung 11 santri. Saat ini pesantren ini telah memiliki ribuan santri. Dibangun secara perlahan di lahan seluas 2.500 meter persegi, pesantren ini ingin santri-santrinya menjadi kekasih Allah yang pintar, saleh, dan tegar dalam menjalankan hidup sehari-hari di masyarakat.

Ustaz Hendra menuturkan, santri Aulia Cendekia diharapkan mampu menjawab tantangan masyarakat global melalui pendidikan menghafal serta mengkaji ulumul Alquran dan kitab kuning. Saat ini, pesantrennya juga menjalankan jenjang pendidikan formal, mulai madrasah ibtidaiyah (setingkat SD), madrasah tsanawiyah (SMP), dan madrasah aliyah (setingkat SMA).

Pada era teknologi ini, Ponpes Aulia Cendekia juga telah mempersiapkan diri menjadi pesantren digital. Awalnya untuk mewujudkan sebagai ponpes digital di Sumsel menjalin kerja sama dengan salah satu provider seluler.

Sistem administrasi dan kegiatan lain juga didukung teknologi komunikasi yang maju pesat. Jadi tidak heran, ketika wabah Covid-19 menjadi pandemi global yang mengharuskan lembaga pendidikan diliburkan dan santri dipulangkan, kegiatan di ponpes ini tidak berhenti. Ponpes dan para santri telah terbiasa menggunakan internet. “Pertama kita ikuti petunjuk pemerintah, stay at home. Tapi kita wajibkan santri untuk belajar secara online,” lanjut Ustaz Hendra.

Untuk menunjang kegiatan, ponpes tetap memberikan gaji dan tunjangan kepada para guru. Tidak ada yang dikurangi. Intinya berjalan seperti biasa, hanya saja secara online. Kan belajar tidak harus tatap muka. “Kepada para santri dan guru kita terus mengimbau, apalagi Palembang sudah zona merah, kalaupun keluar rumah harus pakai masker dan jarak,” katanya mengingatkan. (Berli Zulkanedi)
(ysw)
cover top ayah
وَاِذَا تُتۡلٰى عَلَيۡهِ اٰيٰتُنَا وَلّٰى مُسۡتَكۡبِرًا كَاَنۡ لَّمۡ يَسۡمَعۡهَا كَاَنَّ فِىۡۤ اُذُنَيۡهِ وَقۡرًا‌ۚ فَبَشِّرۡهُ بِعَذَابٍ اَلِيۡمٍ
Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbatan di kedua telinganya, maka gembirakanlah dia dengan azab yang pedih.

(QS. Luqman:7)
cover bottom ayah
preload video