alexametrics

Tidak Mudik Tak Berdosa, Banyak Cara Berbakti kepada Orangtua

loading...
PEMERINTAH sedang mempertimbangkan larangan mudik pada Lebaran tahun ini. Sementara itu, dua organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, juga mengajak umat Islam di Tanah Air agar tidak mudik saat Lebaran nanti guna mencegah penyebaran virus corona atau Covid-19. Kedua ormas ini menyarankan silaturahim dan merayakan Hari Raya Idul Fitri bisa menggunakan teknologi dalam jaringan (daring).

"Silaturahim Idul Fitri tetap kita lakukan. Namun secara daring, online melalui teknologi komunikasi," kata Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah PBNU Robikin Emhas, di Jakarta, Sabtu (28/3/2020).

Sebelumnya, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, juga mengatakan hal senada. Mudik lebaran, kata dia, tidak masalah jika wabah virus corona sudah teratasi dengan baik. "Sebelum memutuskan untuk mudik, masyarakat hendaknya memantau perkembangan Covid-19 yang disampaikan resmi oleh pemerintah," ujar Mu'ti di Jakarta, Selasa (24/3/2020). (Baca juga:.Bahaya Virus Corona, Silaturahim Saat Lebaran Tak Harus Mudik)



Menurutnya, masyarakat tidak perlu memaksakan mudik jika kondisi wabah virus corona tidak menunjukkan perbaikan. Keselamatan dan kesehatan harus diutamakan.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk bersilaturahim dengan keluarga dan kolega. Bisa melalui telepon atau video. "Silaturahim memang penting dan sangat dianjurkan tetapi tidak harus dalam bentuk bertemu muka. Bisa cara lain yang lebih aman," katanya.

PBNU menilai tetap memaksakan diri untuk mudik dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain termasuk keluarga. "Kita tidak pernah tahu di tengah perjalanan menuju kampung halaman bisa saja tanpa sadar terjadi kontak fisik dengan orang yang terpapar Covid-19," katanya.

Apabila itu terjadi, mudik Lebaran tidak membawa kebahagiaan bagi keluarga dan lingkungan melainkan musibah penularan virus makin meluas. Fiqh mu'amalah mengajarkan kepada kita jalbul-mashalih wa daf’ul-mafasid. Seluruh hal untuk meraih kemaslahatan dan menolak kemafsadatan atau kerusakan sesungguhnya adalah bagian dari perintah syariat.

Berbakti Kepada Orang Tua
Sejatinya, tradisi mudik memang tidak ada kaitannya secara langsung dalam ajaran Islam, apalagi mengingat tidak ada satu pun perintah Allah dan Rasulullah SAW untuk melakukan mudik di waktu Lebaran.

Mudik adalah tradisi khas umat Islam Indonesia. Ini merupakan sebuah kearifan yang telah mendarah daging pada masyarakat kita. Masyarakat menjadikan libur Idul Fitri yang cukup panjang untuk kembali ke kampung halaman, bertemu kedua orang tua, keluarga, sanak famili, dan teman kerabat.

Budaya ini sudah menjadi bagian dari ritual berbakti kepada orang tua. Masalahnya, Lebaran bagi orang tua juga bermakna berkumpulnya anak-anak mereka yang selama setahun merantau ke berbagai kota. Orang tua akan kecewa jika anak-anak mereka tidak mudik. Lebaran adalah kesempatan anak-anak mudik untuk menunjukkan kasih sayang mereka kepada orang tuanya selagi masih ada. Selain itu, mudik juga untuk menjalin silaturahim dengan keluarga dan kerabat lainnya.

Tentang berbakti kepada orang tua jelas menjadi kewajiban setiap anak. Allah Ta'ala berfirman:

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ


"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (QS Luqman: 14).

Selain itu Allah SWT juga berfirman:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا


Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (QS. Al Isra: 23).

Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا


Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua” (QS. An Nisa: 36).

Perhatikanlah, dalam ayat ini Allah Ta’ala menggunakan bentuk kalimat perintah. Allah Ta’ala juga berfirman:

قُلْ تَعَالَوْا اَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ اَلَّا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًاۚ

Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua..” (QS. Al An’am: 151).

Di sini juga digunakan bentuk kalimat perintah. Birrul walidain juga diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau ditanya oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

أيُّ العَمَلِ أحَبُّ إلى اللَّهِ؟ قالَ: الصَّلاةُ علَى وقْتِها، قالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: ثُمَّ برُّ الوالِدَيْنِ قالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: الجِهادُ في سَبيلِ اللَّهِ قالَ: حدَّثَني بهِنَّ، ولَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزادَنِي


“Amal apa yang paling dicintai Allah ‘Azza Wa Jalla?”. Nabi bersabda: “Shalat pada waktunya”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa lagi?”.Nabi menjawab: “Lalu birrul walidain”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa lagi?”. Nabi menjawab: “Jihad fi sabilillah”. Demikian yang beliau katakan, andai aku bertanya lagi, nampaknya beliau akan menambahkan lagi (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam Islam, birrul walidain bukan sekadar anjuran, namun perintah dari Allah dan Rasul-Nya, sehingga wajib hukumnya. Sebagaimana kaidah ushul fiqh, bahwa hukum asal dari perintah adalah wajib.

Berbakti kepada orang tua dalam agama kita yang mulia ini, memiliki kedudukan yang tinggi. Sehingga berbakti kepada orang tua bukanlah sekadar balas jasa, bukan pula sekadar kepantasan dan kesopanan. Juga bukan sekadar mudik saat Lebaran.

Inti dari Islam adalah tauhid, yaitu mempersembahkan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah semata. Tauhid adalah yang pertama dan utama bagi seorang muslim. Dan dalam banyak ayat di dalam Al Qur’an, perintah untuk berbakti kepada orang tua disebutkan setelah perintah untuk bertauhid. Sebagaimana pada ayat-ayat yang telah disebutkan tadi. Ini menunjukkan bahwa masalah birrul walidain adalah masalah yang sangat urgen, mendekati pentingnya tauhid bagi seorang muslim.

Surga memiliki beberapa pintu, dan salah satunya adalah pintu birrul walidain. Rasulullah SAW bersabda:

الوالِدُ أوسطُ أبوابِ الجنَّةِ، فإنَّ شئتَ فأضِع ذلك البابَ أو احفَظْه

“Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orang tua kalian” (HR. Tirmidzi, ia berkata: “hadits ini shahih”, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.914).

Berbuat baik kepada orangtua bisa dilakukan dalam berbagai bentuk dan cara. Melakukan kunjungan kepada orang tua saat Lebaran hanya salah satu saja. Di era kini, cara ini bisa diganti dengan menggunakan video, bisa juga dengan telefon. Mudik bisa dilakukan pada kesempatan lain.

Tidak ada anjuran secara langsung dalam Islam tentang mudik ini. Mudik untuk menunjukkan bakti kepada orang tua dan silaturahim kepada keluarga tidak perlu menunggu waktu Idul Fitri. Kita harus bersikap adil dan proporsional baik dari aspek akidah, ibadah maupun muamalah.
Wajar saja jika NU dan Muhammadiyah menyerukan umat Muslim yang sebentar lagi melaksanakan ibadah puasa dan merayakan Idul Fitri, secara bersama menahan diri serta tidak mudik Lebaran hingga suasana kondusif.
(mhy)
KOMENTAR
loading gif
cover top ayah
مَنۡ كَانَ يُرِيۡدُ حَرۡثَ الۡاٰخِرَةِ نَزِدۡ لَهٗ فِىۡ حَرۡثِهٖ‌ۚ وَمَنۡ كَانَ يُرِيۡدُ حَرۡثَ الدُّنۡيَا نُؤۡتِهٖ مِنۡهَا وَمَا لَهٗ فِى الۡاٰخِرَةِ مِنۡ نَّصِيۡبٍ
Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.

(QS. Asy-Syura:20)
cover bottom ayah
preload video