Wabah Corona, Konsepsi Kematian secara Medis dan Al-Qur'an

loading...
Wabah Corona, Konsepsi Kematian secara Medis dan Al-Quran
Wabah Corona, Konsepsi Kematian secara Medis dan Al-Qur'an
Mochammad Sa'dun Masyhur
Penulis adalah Holistic Healing Consulting, Expert and Inventor Medical Quran

Seiring dengan meluasnya wabah virus corona, muncul diskursus tentang kematian. Perbedaan mengemuka karena perspektif medis dihadapkan dengan konsepsi kematian dalam Islam, yang termaktub dalam kitab suci Alquran.

Secara medis, pasien yang terjangkit virus corona, sesuai imunitasnya dapat sembuh sendiri (self limited disease). Namun dapat juga berakibat sakit kronis hingga timbul kematian.

Dalam hubungannya dengan ajaran Islam, pandangan demikian dianggap mengikuti keyakinan kaum Qodariah, bahwa manusia memiliki pilihan-pilihan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Atau dalam pemikiran yang lebih liberal lagi, dianggap mengikuti kaum Mu'tazilah, yang sepenuhnya mengandalkan akal pikiran.

Sebaliknya, berkembang keyakinan secara diametral bahwa kematian itu sepenuhnya merupakan kehendak Allah. Dalam pandangan kaum Jabbariyah, kematian terjadi tanpa campur tangan apapun dan siapapun, sepenuhnya hak prerogatif Allah Subhanallahu Wata'ala.



Pertanyannya, benarkah kematian menurut medis dan berbagai pandangan dalam Islam itu berbeda dan bertentangan?
Sejauh mana kita memahami tentang kematian? Dan apakah yang dimaksud dengan kematian itu?

Sebenarnya dunia kedokteran masih kesulitan untuk memastikan perihal kematian. Hingga kini, dunia medis menerangkan kematian bukan dari sisi penyebabnya, tetapi dari perspektif akibat yang dapat dikenali. Karena itu medis menetapkan tiga fase kematian, yaitu mati klinis, mati otak, dan mati secara biologis.

Mati klinis ditandai dengan berhentinya pernapasan dan detak jantung, sehingga impuls dari otak memudar dan panca-indera tidak lagi bereaksi. Sedangkan mati otak ditandai dengan berhentinya semua fungsi otak, meskipun semua organ penting masih berfungsi, tetapi tidak lagi kendalikan otak. Adapun mati biologis diawali kondisi mati klinis dan mati otak, lalu ditandai dengan kondisi jasad menjadi kaku, diikuti kematian milyaran sel-sel tubuh, sehingga mulai terjadi proses pembusukan secara cepat.

Jadi jelas dunia kedokteran, melihat kematian itu dari perspektif akibat yang dapat dikenali. Sedangkan dalam Kaidah Medical Quran, yakni ketentuan baku sesuai kandungan ayat-ayat yang berhubungan dengan medis, menetapkan kematian itu dari perspektif penyebabnya.

Rumusan kematian dari perspektif penyebabnya itu, dinyatakan Alquran dalam beberapa ayat, berbunyi: Setiap (yang memiliki) nafs akan merasakan mati: kullu nafsin dzaaiqotul maut (QS. 3:185, QS. 21:25 dan QS. 29:57).
halaman ke-1
cover top ayah
فَقَضٰٮهُنَّ سَبۡعَ سَمٰوَاتٍ فِىۡ يَوۡمَيۡنِ وَاَوۡحٰى فِىۡ كُلِّ سَمَآءٍ اَمۡرَهَا‌ ؕ وَزَ يَّـنَّـا السَّمَآءَ الدُّنۡيَا بِمَصَابِيۡحَ ‌ۖ وَحِفۡظًا ‌ؕ ذٰ لِكَ تَقۡدِيۡرُ الۡعَزِيۡزِ الۡعَلِيۡمِ
Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing. Kemudian langit yang dekat (dengan bumi), Kami hiasi dengan bintang-bintang, dan (Kami ciptakan itu) untuk memelihara. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.

(QS. Fussilat:12)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video