Tak ada pilihan, mudik naik rakit
Rabu, 15 Agustus 2012 - 19:32 WIB
Tak ada pilihan, mudik naik rakit
A
A
A
MUDIK lebaran sudah menjadi tradisi bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Berbagai cara dilakukan untuk menempuh kampung halaman, agar bisa berkumpul bersama sanak keluarga saat hari raya tiba.
Tidak terkecuali, bagi sebagian masyarakat Kabupaten Ciamis yang terpaksa mudik ke kampung halaman harus menyeberangi Sungai Citanduy menggunakan perahu rakit. Sekalipun di antara mereka sudah memiliki kendaraan roda empat dan tinggal mewah di kota besar, sesampai di kampung halaman mereka terpaksa harus menaiki perahu rakit karena minimnya sarana prasarana di pelosok pedesaan.
Kondisi itu terjadi di Desa Maruyungsari, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Ciamis. Setiap menjelang Lebaran, banyak warga setempat yang pulang kampung terpaksa mengunakan perahu rakit. Pemandangan itu terlihat berbeda dari hari biasanya.
“Jika hari biasa orang yang menyeberang pakai perahu rakit kebanyakan berpakaian biasa bahkan terlihat sudah lusuh. Tapi, saat musim mudik Lebaran banyak orang dari kota yang naik rakit bahkan di antara mereka membawa barang bawaan yang banyak,” kata Rahman (36), warga Padaherang ditemui, Rabu (15/8/2012).
Warga sekitar terpaksa mengunakan jasa perahu rakit, karena tidak ada jembatan yang menghubungkan antara perkampungan di Desa Maruyungsari yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah itu.
“Kalau ada jembatan, kami tidak akan naik rakit seperti ini,” kata Fitri (28) salah seorang pemudik dari Kota Bandung.
Fitri menyebutkan, saat pulang kampung dia lebih memilih mengunakan jasa rakit karena jarah tempuh dari jalan raya menuju rumah jauh lebih dekat.
“Kalau mengunakan rakit, kami bisa melintasi sungai hanya dalam waktu kurang dari 20 menit. Sementara kalau mencari jalan pintas melalui darat jaraknya sangat jauh mencapai 80 kilometer, belum lagi kondisi jalan yang rusak,” tandasnya.
Sekalipun harus naik rakit, kata Fitri, dia tidak merasa risih. Selama ini memang Fitri terbiasa dengan suasana kota yang sudah serba modern di Kota Bandung.
“Itukan di Bandung, kalau balik ke kampung halaman mau tidak mau harus menyesuaikan kembali,” katanya.
Menurut Fitri, kalau ajak teman mudik bareng justru menjadi pengalaman berarti bagi teman. Baginya, pulang kampung naik rakit tidak masalah karena tidak ada pilihan lain. Hanya saja, kata dia, kalau sudah lama tidak naik rakit harus lebih berhati-hati.
“Nyawa bisa jadi taruhanya. Kalau sudah lama tidak biasa, naik rakit kan tidak ada pegangan sama sekali. Jadi, harus waspada,” tandasnya.
Apalagi, tambah dia, saat musim mudik Lebaran seperti saat ini. Untuk satu kali pemberangkatan naik rakit, jumlah penumpangnya berdesakan. Kurang hati-hati sedikit bisa terjatuh ke sungai Citanduy yang kedalamannya mencapai puluhan meter.
“Banyak juga pemudik lain yang bawa barang bawaan besar-besar. Kalau saya pilih mudah, hanya bawa satu tas,” katanya.
Sementara Nono (42), seorang ojek rakit menyebutkan, jumlah penumpang jasa rakit menjelang lebaran mengalami peningkatan hingga 100 persen setiap harinya. Karena jumlahnya yang cukup banyak, Nono juga mengakui, tarif antar jasa rakit berbeda dari tarif biasanya.
“Kalau biasanya untuk satu kali menyeberang setiap orang hanya membayar Rp1.000 sekarang menjelang lebaran naik jadi Rp2.000 per orang,” kata Nono.
Kenaikan tarif jasa rakit itu, terang Nono, tidak membebani warga. Apalagi, mereka jarang pulang. Buktinya, ada di antara mereka yang pulang kampung justru memberi uang lebih. Misalnya tarif sudah dinaikan Rp2.000 per orang, malah ada yang kasih Rp5.000 satu kali berangkat,” ucapnya.
Nono menjelaskan, menjadi tukang ojek rakit sudah berlangusng sekitar 22 tahun. Setiap menjelang Lebaran, memang selalu ramai. Banyak orang-orang yang sudah lama tidak dijumpai menjelang Lebaran ketemu saat naik rakit.
“Saya sangat senang. Bahkan, untuk mengantisipasi pemudik yang datang kemalaman. Saya juga menambah jam angkut rakit dari mulai pagi, sampai jam delapan malam. Padahal biasanya hanya sampai sore,” pungkas Nono.
Tidak terkecuali, bagi sebagian masyarakat Kabupaten Ciamis yang terpaksa mudik ke kampung halaman harus menyeberangi Sungai Citanduy menggunakan perahu rakit. Sekalipun di antara mereka sudah memiliki kendaraan roda empat dan tinggal mewah di kota besar, sesampai di kampung halaman mereka terpaksa harus menaiki perahu rakit karena minimnya sarana prasarana di pelosok pedesaan.
Kondisi itu terjadi di Desa Maruyungsari, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Ciamis. Setiap menjelang Lebaran, banyak warga setempat yang pulang kampung terpaksa mengunakan perahu rakit. Pemandangan itu terlihat berbeda dari hari biasanya.
“Jika hari biasa orang yang menyeberang pakai perahu rakit kebanyakan berpakaian biasa bahkan terlihat sudah lusuh. Tapi, saat musim mudik Lebaran banyak orang dari kota yang naik rakit bahkan di antara mereka membawa barang bawaan yang banyak,” kata Rahman (36), warga Padaherang ditemui, Rabu (15/8/2012).
Warga sekitar terpaksa mengunakan jasa perahu rakit, karena tidak ada jembatan yang menghubungkan antara perkampungan di Desa Maruyungsari yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah itu.
“Kalau ada jembatan, kami tidak akan naik rakit seperti ini,” kata Fitri (28) salah seorang pemudik dari Kota Bandung.
Fitri menyebutkan, saat pulang kampung dia lebih memilih mengunakan jasa rakit karena jarah tempuh dari jalan raya menuju rumah jauh lebih dekat.
“Kalau mengunakan rakit, kami bisa melintasi sungai hanya dalam waktu kurang dari 20 menit. Sementara kalau mencari jalan pintas melalui darat jaraknya sangat jauh mencapai 80 kilometer, belum lagi kondisi jalan yang rusak,” tandasnya.
Sekalipun harus naik rakit, kata Fitri, dia tidak merasa risih. Selama ini memang Fitri terbiasa dengan suasana kota yang sudah serba modern di Kota Bandung.
“Itukan di Bandung, kalau balik ke kampung halaman mau tidak mau harus menyesuaikan kembali,” katanya.
Menurut Fitri, kalau ajak teman mudik bareng justru menjadi pengalaman berarti bagi teman. Baginya, pulang kampung naik rakit tidak masalah karena tidak ada pilihan lain. Hanya saja, kata dia, kalau sudah lama tidak naik rakit harus lebih berhati-hati.
“Nyawa bisa jadi taruhanya. Kalau sudah lama tidak biasa, naik rakit kan tidak ada pegangan sama sekali. Jadi, harus waspada,” tandasnya.
Apalagi, tambah dia, saat musim mudik Lebaran seperti saat ini. Untuk satu kali pemberangkatan naik rakit, jumlah penumpangnya berdesakan. Kurang hati-hati sedikit bisa terjatuh ke sungai Citanduy yang kedalamannya mencapai puluhan meter.
“Banyak juga pemudik lain yang bawa barang bawaan besar-besar. Kalau saya pilih mudah, hanya bawa satu tas,” katanya.
Sementara Nono (42), seorang ojek rakit menyebutkan, jumlah penumpang jasa rakit menjelang lebaran mengalami peningkatan hingga 100 persen setiap harinya. Karena jumlahnya yang cukup banyak, Nono juga mengakui, tarif antar jasa rakit berbeda dari tarif biasanya.
“Kalau biasanya untuk satu kali menyeberang setiap orang hanya membayar Rp1.000 sekarang menjelang lebaran naik jadi Rp2.000 per orang,” kata Nono.
Kenaikan tarif jasa rakit itu, terang Nono, tidak membebani warga. Apalagi, mereka jarang pulang. Buktinya, ada di antara mereka yang pulang kampung justru memberi uang lebih. Misalnya tarif sudah dinaikan Rp2.000 per orang, malah ada yang kasih Rp5.000 satu kali berangkat,” ucapnya.
Nono menjelaskan, menjadi tukang ojek rakit sudah berlangusng sekitar 22 tahun. Setiap menjelang Lebaran, memang selalu ramai. Banyak orang-orang yang sudah lama tidak dijumpai menjelang Lebaran ketemu saat naik rakit.
“Saya sangat senang. Bahkan, untuk mengantisipasi pemudik yang datang kemalaman. Saya juga menambah jam angkut rakit dari mulai pagi, sampai jam delapan malam. Padahal biasanya hanya sampai sore,” pungkas Nono.
(azh)