Datang ke pesantren, cari makan sampai belajar islam

loading...
Datang ke pesantren, cari makan sampai belajar islam
Datang ke pesantren, cari makan sampai belajar islam
Sindonews.com - Hampir setiap hari di bulan Ramadan lantunan ayat-ayat suci Alquran riuh terdengar di Pesantren Annihayah, Desa Sukamerta, Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang. Tapi ada yang tidak biasa dengan para santrinya pada kegiatan tersebut.

Ketika KORAN SINDO menyambangi Pesantren Annihayah, masjid di pesantren itu penuh sesak dengan orang-orang bertubuh kekar dan bertato. Siapa sangka jika mereka duduk bersila di pelataran masjid sambil melantunan ayat-ayat suci Alquran. Pesantren Annihayah ini memang mengajak dan merangkul ratusan preman untuk mengikuti pengajian yang diadakan sebulan sekali diawal bulan.

Bersama 1.200 santri yang terdiri anak yatim piatu, pesantren yang didirikan Ahmad Tatang Syihabudin ini mengajak mantan pelaku kriminal untuk kembali ke jalan Tuhan. Setiap awal bulan, preman-preman ini berkumpul dan melakukan pengajian. Terlebih di Ramadan ini kegiatan pengajian lebih diintensifkan. Nana Karnaen, putra Ahmad Tatang Syabudin mengatakan, pengajian yang dilakukannya itu lebih menekankan pada pencerahan batin dan ahlak.

Para mantan preman di berikan pelajaran Tausiah, Tawasul (baca-baca potongan ayat), tasbih, hamdalah, dan ratib. Setelah itu membaca Al Alwatos dan istigasah. ”Pengajian lebih menekankan ke sekitar akhlak sebagai amalan mereka dan proses penyadaran terhadap perbuatan mereka dulu sehingga menggugah penyesalan,” kata Nana.

Pengajian preman ini tercetus ketika Ahmad Tatang Syihabudin bertemu dengan seorang preman di sebuah persimpangan jalan. Preman tersebut meminta uang secara paksa (palak) kepada seorang pria, namun aksi tersebut dicegah Ahmad Tatang Syihabudin. Menurut dia, jika membutuhkan beras atau makanan, maka bisa diperoleh di pesantren Kiai Ahmad Tatang Syabudin, bukan dengan cara memalak orang. Preman itu pun akhirnya mengurungkan niatnya.

Singkat cerita, preman tersebut datang ke pesantren untuk menagih yang dijanjikan Ahmad Tatang Syihabudin, hingga akhirnya belajar ngaji. ”Awalnya mereka datang ke pesantren karena ekonomi (kebutuhan), tapi lambat laun mereka pun mengikuti ajaran (Islam), seperti mengikuti pengajian dan lainnya. Bahkan mereka mengaku melakukan itu (kriminal) karena terpaksa,” jelasnya.

Menurut Nana, para preman tersebut datang berdasarkan keinginannya sendiri, tanpa paksaan dari pihak manapun. Mereka datang dengan tujuan mulia, yaitu bertobat atas kesalahan yang telah dilakukan sebelumnya. Setiap manusia pasti akan jenuh dengan apa yang telah dilakukannya didunia ini dan akhirnya akan kembali kepada-Nya. Oleh karena itu Annihayah memberikan wadah bagi mantan preman untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.

”Dengan mengikuti pengajian, minimal mereka (mantan preman) tidak kembali lagi pada perbuatan yang dulu dan bisa mengajak yang lainnya untuk ikut bergabung mengaji karena latar belakang mereka ini ingin diakui secara sosial, berbaur dengan masyarakat serta belajar mengaji hanya saja meraka juga malu untuk mengaji,” katanya.
(nfl)
preload video