Siapakah Al-Ghuroba atau Orang Terasing? Ini Penjelasannya

Rabu, 01 Februari 2023 - 21:35 WIB
وَإِنَّ هَٰذِهِۦٓ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَأَنَا۠ رَبُّكُمْ فَٱتَّقُونِ ۞ فَتَقَطَّعُوٓاْ أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ زُبُرًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ ۞

Artinya: "Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)." (QS Al-Mukminun ayat 52-53)

Dalam hadits dari sahabat Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda:

إِن أمتي لن تجتمع على ضلالة، فإذا رأيتم الاختِلاف فعليكم بالسواد الأعظم

Artinya: "Sesungguhnya umatku tidak akan berkumpul pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kamu melihat terjadinya perselisihan, maka ikutilah golongan mayoritas." (HR Ibnu Majah)

Berdasarkan hadis di atas, apabila umat Islam melakukan kesepakatan, maka kesepakatan itu dijamin dan dipastikan benar. Sehingga kesepakatan itu sifatnya mengikat dan wajib diikuti oleh seluruh umat Islam.

Akan tetapi, apabila banyak terjadi perbedaan pendapat atau perselisihan, umat Islam wajib mengikuti golongan mayoritas (terbanyak). Ketika para ulama berbeda pendapat, maka mengikuti mayoritas ulama. Dan ketika umat Islam berbeda pendapat, maka mengikuti mayoritas umat Islam.

Sehingga Al-Ghuroba nantinya akan tampak asing karena mereka menegakkan kebenaran di saat banyak terjadi penyimpangan dan kebatilan.

Wallahu A'lam

Baca Juga: Memaknai Hadis Islam Kembali dalam Keadaan Asing
(rhs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!