Menyikapi Hagia Sofia dengan Bijak (2)

Rabu, 15 Juli 2020 - 19:30 WIB
Selain itu tentunya juga karena gedung itu memang telah menjadi bagian dari negara Turki, yang secara hukum apapun, memiliki hak penuh untuk menggunakannya sesuai keinginan dan kepentingannya. Masalahnya kemudian apakah bijak bersikap acuh dengan kekhawatiran-kekhawatiran orang lain? Apalagi dalam konteks dunia global di mana semua manusia seolah menyatu dalam segala permasalahan yang dihadapinya.

Dan yang terpenting harus disadari bahwa sebuah aksi atau kebijakan di sebuah tempat (negara) dalam dunia yang hampir tiada batas-batas lagi, pastinya akan berdampak di tempat (negara) lain. Itulah realita dunia kita yang interconnected (saling bergantung).

Karenanya kebijakan Konversi museum itu menjadi masjid akan berdampak pula kepada kerja-kerja dakwah dan eksistensi umat di negara lain, khususnya di negara-negara mayoritas non Muslim.

Sekiranya saya punya hak suara, saya justeru lebih cenderung melihat gedung itu tetap sebagai musium, tetapi menjadi bagian dari pengelolaan Masjid Biru (Blue Mosque). Selain tetap menjaga persepsi kelapangan dada umat ini, sekaligus secara cerdas telah mengambil alih kembali kepemilikannya sebagai bagian dari masjid.

Saya ingin akhiri dengan argumentasi sebagian umat Islam yang mengatakan bahwa umat punya hak merubah gedung itu menjadi masjid karena umat Kristiani merubah semua masjid-masjid megah di Spanyol menjadi gereja.

Kepada mereka saya katakan, Islam tidakmengajarkan membalas keburukan atau kesalahan dengan keburukan dan kesalahan. "Iffa’ billati hiya ahsan" (responslah dengan cara terbaik) tetap menjadi dasar moral umat dalam menyikapi sebuah itu.

Atau benar apa yang pernah Michelle Obama katakan: "When they go low, we go high". Semoga! [ ]

New York, 14 Juli 2020
(rhs)
Halaman :
Lihat Juga :
Follow
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
cover top ayah
اِنَّمَا الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الَّذِيۡنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتۡ قُلُوۡبُهُمۡ وَاِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ اٰيٰتُهٗ زَادَتۡهُمۡ اِيۡمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُوۡنَ (٢) الَّذِيۡنَ يُقِيۡمُوۡنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقۡنٰهُمۡ يُنۡفِقُوۡنَؕ (٣) اُولٰۤٮِٕكَ هُمُ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ حَقًّا ‌ؕ لَهُمۡ دَرَجٰتٌ عِنۡدَ رَبِّهِمۡ وَمَغۡفِرَةٌ وَّرِزۡقٌ كَرِيۡمٌ‌ۚ (٤)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah kuat imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, Yaitu orang-orang yang melaksanakan shalat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat tinggi di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.

(QS. Al-Anfal Ayat 2-4)
cover bottom ayah
Artikel Terkait
Al-Qur'an, Bacalah!
Rekomendasi
Terpopuler
Artikel Terkini More