Keturunan Abu Bakar As-Shiddiq Ini Guru Spiritual Al-Fatih sang Penakluk Konstantinopel
Minggu, 12 Februari 2023 - 13:31 WIB
Syaikh Aaq Syamsuddin adalah satu-satunya orang yang sanggup membuat Sultan Al-Fatih menundukkan kepala. Foto/Ilustrasi: Ist
Syaikh Aaq Syamsuddin adalah salah satu tokoh di balik sukses Sultan Muhammad Al-Fatih atau Sultan Mehmed II. Keturunan Abu Bakar Ash-Shiddiq ini menjadi penasihat spiritual Sang Penakluk Konstantinopel tersebut.
"Sesungguhnya kalian melihatku sangat gembira. Kegembiraanku bukan karena penaklukan benteng ini semata. Akan tetapi, kegembiraanku muncul karena adanya seorang Syaikh yang mulia pada zamanku. Dia adalah guruku, Syaikh Aaq Syamsuddin," ujar Sultan Muhammad Al-Fatih pascapenaklukan Konstantinopel ibukota Byzantium.
Rupanya sudah menjadi sunnatullah. Di balik lahirnya seorang penakluk, ada sekelompok ulama rabbani yang ikut andil dalam mendidik, mengarahkan, dan memberi penerangan. Ada peran besar Abdullah bin Yasin di Malik Yahya bin Ibrahim di balik pemimpin Daulah Murabithin. Lalu, ada Qadhi Al-Fadhil di balik Shalahuddin Al-Ayubi dalam Daulah Ayyubiyah.
Baca juga: Sang Penakluk Konstantinopel yang Mewujudkan Janji Rasulullah
Syaikh Aaq Syamsuddin adalah satu-satunya orang yang sanggup membuat Sultan Al-Fatih menundukkan kepala. Segala nasihatnya didengar dan dilaksanakan. Sekalipun dunia mencatatnya sebagai pemimpin terbaik dari pasukan terbaik, namun ia sadar, tanpa gurunya itu, dirinya bukanlah siapa-siapa.
Suatu hari Sultan mengungkapkan perasaan segan dan sungkannya kepada Syaikh dalam pembicaraan dengan seorang menterinya, Mahmud Pasya. “Sesungguhnya rasa hormatku pada Syaikh Aaq Syamsuddin bukanlah penghormatan biasa. Jika saya berada di sampingnya, saya merasakan hal yang lain, saya begitu segan kepadanya,” ujarnya.
Pengarang buku Al-Badr Al-Thali’ menyebutkan: Sehari setelah menaklukkan Konstantinopel, Sultan datang ke kemah Syaikh Aaq Syamsuddin yang saat itu sedang berbaring. Dia tidak bangkit berdiri untuk menyambut kedatangannya. Maka Sultan pun mencium tangannya dan berkata kepadanya. “Saya datang kepadamu untuk sebuah keperluan.”
“Keperluan apa itu?” tanyanya.
“Bagaimana jika saya masuk dan kita berbicara berdua?” ujar Sultan memohon.
Namun Syaikh menolak permintaan itu. Sultan memaksa dan terus memohon, namun Syaikh selalu menjawab, “Tidak!”
Akibatnya, emosi Sultan tak bisa dibendung. Ia marah. “Sesungguhnya telah datang kepadamu salah seorang dari orang-orang Turki, dan kau masukkan dia sendirian, namun tatkala saya datang kau menolak untuk melakukan hal itu,” cecarnya.
"Sesungguhnya kalian melihatku sangat gembira. Kegembiraanku bukan karena penaklukan benteng ini semata. Akan tetapi, kegembiraanku muncul karena adanya seorang Syaikh yang mulia pada zamanku. Dia adalah guruku, Syaikh Aaq Syamsuddin," ujar Sultan Muhammad Al-Fatih pascapenaklukan Konstantinopel ibukota Byzantium.
Rupanya sudah menjadi sunnatullah. Di balik lahirnya seorang penakluk, ada sekelompok ulama rabbani yang ikut andil dalam mendidik, mengarahkan, dan memberi penerangan. Ada peran besar Abdullah bin Yasin di Malik Yahya bin Ibrahim di balik pemimpin Daulah Murabithin. Lalu, ada Qadhi Al-Fadhil di balik Shalahuddin Al-Ayubi dalam Daulah Ayyubiyah.
Baca juga: Sang Penakluk Konstantinopel yang Mewujudkan Janji Rasulullah
Syaikh Aaq Syamsuddin adalah satu-satunya orang yang sanggup membuat Sultan Al-Fatih menundukkan kepala. Segala nasihatnya didengar dan dilaksanakan. Sekalipun dunia mencatatnya sebagai pemimpin terbaik dari pasukan terbaik, namun ia sadar, tanpa gurunya itu, dirinya bukanlah siapa-siapa.
Suatu hari Sultan mengungkapkan perasaan segan dan sungkannya kepada Syaikh dalam pembicaraan dengan seorang menterinya, Mahmud Pasya. “Sesungguhnya rasa hormatku pada Syaikh Aaq Syamsuddin bukanlah penghormatan biasa. Jika saya berada di sampingnya, saya merasakan hal yang lain, saya begitu segan kepadanya,” ujarnya.
Pengarang buku Al-Badr Al-Thali’ menyebutkan: Sehari setelah menaklukkan Konstantinopel, Sultan datang ke kemah Syaikh Aaq Syamsuddin yang saat itu sedang berbaring. Dia tidak bangkit berdiri untuk menyambut kedatangannya. Maka Sultan pun mencium tangannya dan berkata kepadanya. “Saya datang kepadamu untuk sebuah keperluan.”
“Keperluan apa itu?” tanyanya.
“Bagaimana jika saya masuk dan kita berbicara berdua?” ujar Sultan memohon.
Namun Syaikh menolak permintaan itu. Sultan memaksa dan terus memohon, namun Syaikh selalu menjawab, “Tidak!”
Akibatnya, emosi Sultan tak bisa dibendung. Ia marah. “Sesungguhnya telah datang kepadamu salah seorang dari orang-orang Turki, dan kau masukkan dia sendirian, namun tatkala saya datang kau menolak untuk melakukan hal itu,” cecarnya.
Lihat Juga :