Isra Mikraj dan Fondasi Kebangkitan Umat

Senin, 20 Februari 2023 - 21:45 WIB
Kebangkitan Umat

Jika kita merujuk kepada realita kebangkitan Islam dan umat, ada beberapa anak tangga yang terlalui. Dari kelahiran Rasulullah (Milad), pengangkatan Muhammad menjadi Rasul (bi'tsah), lalu diperjalankannya beliau di malam hari (Isra Mikraj), hingga migrasi Rasulullah ke Madinah (hijrah), yang berujung kepada penaklukan Kota Mekah (Fathu Mekkah).

Dari semua anak tangga itu, Isra Mikraj dan Hijrah adalah dua simbolisasi kebangkitan umat secara keseluruhan. Isra Mikraj adalah simbol kebangkitan individual. Sementara Hijrah merupakan simbol kebangkitan kolektif (keumatan).

Peristiwa Isra Mikraj sesungguhya tidak bisa dilepaskan dari konteks situasi yang mengelilinginya saat itu. Berbagai tantangan dan cobaan silih berganti menimpa baginda Rasulullah SAW. Bahkan sebagai manusia yang tentunya memiliki tendensi manusiawi beliau seolah sumpek dan sempit dengan semua itu. Di momen-momen puncak kesumpekan dan kesempitan itu Allah justeru memperjalankannya (Isra') dan menaikkannya (Mikraj) ke tingkat tertinggi (Sidratul Muntaha).

Peristiwa Isra Mikraj benar-benar menggambarkan kekuasaan dan otoritas Ilahi. Muhammad dalam semua konteks perjalanan ini adalah obyek dalam genggaman Dia Yang Maha mendengar lagi Maha melihat. Dan karenanya ayat tentang Isra dan Mikraj juga dimulai dengan pernyataan tegas: "Subhana". Sebuah penegasan akan kemaha sempurnaan Allah dalam kuasa dan otoritasnya.

Selanjutnya semua detak langkah yang terjadi dalam peristiwa itu merujuk kepada kuasa Allah. Bahwa Dia yang memperjalankan (asraa) hambaNya. Kata hamba ('abd) selain memang panggilan mulia bagi seorang Mukmin, juga menunjukkan penghambaan mutlak dari seorang hamba yang laa haula wa laa quwwata illa billah (tiada saya dan tiada kekuatan kecuali dengan Allah).

Bahkan sekeliling peristiwa Isra dan Mikraj sekalipun semuanya berada dalam genggaman karunia (keberkahan) Allah (barakna haulah). Jerusalem dengan kuasaNya menjadi identik dengan keberkahanNya. Selain memang menjadi kawasan tersubur di antara semua kawasan Timur Tengah (keberkahan bumi). Juga memang diselimuti oleh keberkahan langit dengan dijadikannya tempat bagi mayoritas Rasul dan Nabi.

Demikian seterusnya dengan jelas kita dengan gamblang dapat menyaksikan demonstrasi kekuasaan Allah dalam peristiwa ini. Bahwa Rasulullah SAW yang ketika itu terjepit oleh situasi yang sangat sulit, justru kesulitan itu menjadi awal beliau diperjalankan dan diangkat ke atas puncak ketinggian itu.

Hikmah dari semua itu adalah bahwa Allah dalam memberikan pertolongan kepada hambaNya justru dengan caraNya yang unik dan sering di luar tangkapan nalar manusia. Memperjalankan merupakan simbolisasi dari menggerakkan (tahriik) dan merubah (taghyiir) dari situasi stagnasi yang menyulitkan ke situasi pergerakan dan perubahan (dinamika) yang memudahkan dan menyenangkan.

Pergerakan dan perubahan itulah yang kemudian akhirnya membawa ke arah ketinggian (kemenangan dan kesuksesan) yang membahagiakan. Mikraj adalah gambaran pendakian menuju kepada maqaam (tempat) kesuksesan tertinggi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!