Biografi Abu Hasan Al-Asy'ari, Imam Besar Ahli Sunnah Wal Jamaah
Selasa, 07 Maret 2023 - 23:52 WIB
Tak seorang pun yang luput dari gempuran mereka. Bahkan ulama ahli Hadis Imam Ahmad bin Hanbal disiksa oleh penguasa Abbasiyah yang dipengaruhi paham Muktazilah kala itu. Paham Muktazilah mencapai puncaknya pada pemerintahan Dinasti Abbasiyah selama kurun waktu 813-847 M. Setelah Al-Mutawakkil menjadi khalifah barulah aliran Muktazilah dihentikan sebagai mazhab resmi negara di Tahun 848 M.
Beliaulah khalifah yang menjauhkan pengaruh Muktazilah dari pemerintahan. Beliau membebaskan para ulama yang dipenjarakan oleh khalifah terdahulu. Pada masa itu muncul dua tokoh ulama menonjol yaitu Abul Hasan Al-Asy'ari di Bashrah dan Abu Mansur Al-Maturidi di Samarkand. Keduanya bersatu melakukan bantahan terhadap Muktazilah, kendati di antara mereka terdapat pula perbedaan. Namun, dalam perkara akidah mereka cenderung sama.
Salah satu riwayat asal mula Abul Hasan Al-Asy'ari terpanggil membela manhaj Ahlus sunnah wal Jamaah dicatat oleh Ibnu as-Sakir:
فحكي عنه أنه قال وقع في صدري بعض الليالي شيء مما كنت فيه من العقائد فقمت وصليت ركعتين وسألت الله تعالى ان يهديني الطريق المستقيم ونمت فرأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم في المنام فشكوت إليه بعض ما بي من الأمر فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم عليك بسنتي فانتبهت وعارضت مسائل الكلام بما وجدت في القرآن والأخبار فأثبته ونبذت ما سواه وراء ظهري.
"Dikisahkan darinya, bahwa ia berkata 'Terbenak di hatiku (Abu al-Hasan al-Asy'ari), beberapa permasalahan dalam ilmu aqidah. Maka, aku pun berdiri untuk menjalankan sholat dua rakaat. Dan aku meminta kepada Allah agar Dia memberikanku petunjuk menuju jalan yang lurus. Aku pun tertidur, tak lama kemudian aku bermimpi bertemu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam mimpi. Aku pun mengadukan beberapa permasalahan kepada beliau. Rasulullah mewasiatkan, "Tetapilah sunnah-ku." Aku pun terbangun dan aku membandingkan beberapa permasalahan ilmu aqidah dengan dalil yang aku temukan di dalam Al-Qur'an dan hadits. Kemudian, aku menetapkan dan aku membuang lainnya di balik punggungku." (Ibnu as-Sakir, Tabyin Kidzb al-Muftari, hal 37)
Setelah itu, Abu Hasan Al-Asy'ari pun menyibukkan diri untuk menulis pembelaan terhadap manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah di rumahnya. Lima belas hari kemudian dia keluar dari rumah dan menuju masjid dan ia menaiki mimbar seraya berkata:
معاشر الناس إني تغيبت عنكم في هذه المدة لأني نظرت فتكافأت عندي الأدلة ولم يترجح عندي حق على باطل ولا باطل على حق واستهديت الله تبارك وتعالى فهداني إلى اعتقاد ما أودعته في كتبي هذه وانخلعت من جميع ما كنت أعتقده كما انخلعت من ثوبي هذا وانخلع من ثوب كان عليه ورمى به
"Wahai segenap masyarakat, aku menjauh dari kalian semua dalam beberapa waktu ini karena aku ingin meneliti beberapa permasalahan. Maka, menjadi serupa bagiku seluruh dalil yang ada serta tak ada perkara haq yang mengungguli perkara bathil maupun sebaliknya saat itu. Kemudian, aku meminta petunjuk kepada Allah. Maka, Allah pun memberikanku petunjuk kepada keyakinan yang telah aku tuliskan di dalam kitab-kitab yang telah ku tulis ini. Dan aku melepaskan seluruh aqidah menyimpang yang aku yakini selama ini sebagaimana aku melepaskan pakaianku ini (maka Abu Hasan Al-Asy'ari pun melepaskan pakaian yang ia pakai sebagai isyarat)." (Ibnu as-Sakir, Tabyin Kidzb al-Muftari, hal 39)
Karya Beliau
Abu Hasan Al-Asy'ari terkenal dengan pemikirannya terkait aqidah dengan karya monumentalnya berjudul "Maqalat al-Islamiyyin". Kitab ini berisikan sejarah perkembangan berbagai sekte dalam Islam sejak zaman kenabian hingga di masanya.
Beliaulah khalifah yang menjauhkan pengaruh Muktazilah dari pemerintahan. Beliau membebaskan para ulama yang dipenjarakan oleh khalifah terdahulu. Pada masa itu muncul dua tokoh ulama menonjol yaitu Abul Hasan Al-Asy'ari di Bashrah dan Abu Mansur Al-Maturidi di Samarkand. Keduanya bersatu melakukan bantahan terhadap Muktazilah, kendati di antara mereka terdapat pula perbedaan. Namun, dalam perkara akidah mereka cenderung sama.
Salah satu riwayat asal mula Abul Hasan Al-Asy'ari terpanggil membela manhaj Ahlus sunnah wal Jamaah dicatat oleh Ibnu as-Sakir:
فحكي عنه أنه قال وقع في صدري بعض الليالي شيء مما كنت فيه من العقائد فقمت وصليت ركعتين وسألت الله تعالى ان يهديني الطريق المستقيم ونمت فرأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم في المنام فشكوت إليه بعض ما بي من الأمر فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم عليك بسنتي فانتبهت وعارضت مسائل الكلام بما وجدت في القرآن والأخبار فأثبته ونبذت ما سواه وراء ظهري.
"Dikisahkan darinya, bahwa ia berkata 'Terbenak di hatiku (Abu al-Hasan al-Asy'ari), beberapa permasalahan dalam ilmu aqidah. Maka, aku pun berdiri untuk menjalankan sholat dua rakaat. Dan aku meminta kepada Allah agar Dia memberikanku petunjuk menuju jalan yang lurus. Aku pun tertidur, tak lama kemudian aku bermimpi bertemu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam mimpi. Aku pun mengadukan beberapa permasalahan kepada beliau. Rasulullah mewasiatkan, "Tetapilah sunnah-ku." Aku pun terbangun dan aku membandingkan beberapa permasalahan ilmu aqidah dengan dalil yang aku temukan di dalam Al-Qur'an dan hadits. Kemudian, aku menetapkan dan aku membuang lainnya di balik punggungku." (Ibnu as-Sakir, Tabyin Kidzb al-Muftari, hal 37)
Setelah itu, Abu Hasan Al-Asy'ari pun menyibukkan diri untuk menulis pembelaan terhadap manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah di rumahnya. Lima belas hari kemudian dia keluar dari rumah dan menuju masjid dan ia menaiki mimbar seraya berkata:
معاشر الناس إني تغيبت عنكم في هذه المدة لأني نظرت فتكافأت عندي الأدلة ولم يترجح عندي حق على باطل ولا باطل على حق واستهديت الله تبارك وتعالى فهداني إلى اعتقاد ما أودعته في كتبي هذه وانخلعت من جميع ما كنت أعتقده كما انخلعت من ثوبي هذا وانخلع من ثوب كان عليه ورمى به
"Wahai segenap masyarakat, aku menjauh dari kalian semua dalam beberapa waktu ini karena aku ingin meneliti beberapa permasalahan. Maka, menjadi serupa bagiku seluruh dalil yang ada serta tak ada perkara haq yang mengungguli perkara bathil maupun sebaliknya saat itu. Kemudian, aku meminta petunjuk kepada Allah. Maka, Allah pun memberikanku petunjuk kepada keyakinan yang telah aku tuliskan di dalam kitab-kitab yang telah ku tulis ini. Dan aku melepaskan seluruh aqidah menyimpang yang aku yakini selama ini sebagaimana aku melepaskan pakaianku ini (maka Abu Hasan Al-Asy'ari pun melepaskan pakaian yang ia pakai sebagai isyarat)." (Ibnu as-Sakir, Tabyin Kidzb al-Muftari, hal 39)
Karya Beliau
Abu Hasan Al-Asy'ari terkenal dengan pemikirannya terkait aqidah dengan karya monumentalnya berjudul "Maqalat al-Islamiyyin". Kitab ini berisikan sejarah perkembangan berbagai sekte dalam Islam sejak zaman kenabian hingga di masanya.
Lihat Juga :