Masjid Jogokariyan Yogyakarta : Mewujudkan Cita-cita Ummat, Salat Subuh Melebihi Salat Jumat

Minggu, 12 Maret 2023 - 20:12 WIB
Maka dari keresahan tersebut, pada tahun 2000 pengurus Masjid Jogokariyan membuat gerakan salat Subuh berjamaah dengan cara membuat surat undangan yang mirip seperti surat undangan pernikahan dengan tujuan agar masyarakat antusias dalam melakukan salat Subuh berjamaah. Kemudian, selain membagikan surat undangan, pengurus Masjid Jogokariyan menyediakan kopi susu setiap subuh.

Kemudian, bagi masyarakat yang kehilangan sandal atau sepatu ketika menghadiri salat berjamaah di masjid, maka akan digantikan dengan yang baru sesuai merek sandal dan sepatu yang hilang tersebut. Selain itu, pengurus masjid juga memberikan door prize seperti, kulkas, kompor gas, dan sepeda bagi jamaah yang istiqamah salat shubuh berjamaah di masjid selama 40 hari.

Alasan 40 hari tersebut adalah sebab Rasulullah bersabda bahwa ketika seorang muslim konsisten dalam menjalankan sholat berjamaah selama 40 hari, maka Allah akan menghapus sifat munafik dalam diri orang tersebut. Jika sifat munafik tersebut telah hilang, maka orang tidak akan berat lagi melaksanakan salat berjamaah di masjid.

Selain itu, Masjid Jogokariyan juga menggaungkan saldo nol rupiah. Uang yang disedekahkan masyarakat memiliki tujuan untuk segera menjadi amal. Sebab hal tersebut, jika terdapat sesuatu yang dibutuhkan oleh masyarakat terkait pelayanan masjid, maka uang sedekah masyarakat tersebut segera dibelanjakan.

Sejarah masjid itu sendiri, didirikan pada bulan Agustus 1967 yang telah diresmikan oleh ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta. Tanah seluas 600 meterpersegi dibeli oleh masyarakat atas bantuan pengusaha batik yang tergabung dalam Koperasi Batik Karang Tunggal dan Koperasi Tenun Tri Jaya.

Ide dalam pembangunan Masjid Jogokariyan berawal dari seorang pengusaha batik asal Karangkajen bernama H. Jazuli yang kebetulan memiliki rumah di kampung Jogokariyan. Kemudian, dengan niatnya yang ingin membangun masjid, disampaikanlah kepada tokoh masyarakat setempat, seperti Bapak Zarkoni, Bapak Abdul Manan, H. Amin Said (satu-satunya warga yang sudah menjalankan ibadah haji pada tahu 1957 di tempat itu), Bapak Hadits Hadi Sutarno, KRT Widyodiningrat, Ibu Margoni, dan beberapa tokoh yang lain.

Masjid ini memiliki keunikan yaitu tidak membuang unsur budaya setempat dalam pembangunan masjidnya. Hal tersebut dapat dilihat pada logo masjidnya yang menggunakan tiga bahasa, yaitu Bahasa Arab, indonesia, dan Jawa.

Pada tahun 2016, Kementrian Agama Republik Indonesia Masjid Jogokariyan ditetapkan sebagai salah satu masjid percontohan dalam bidang pengelolaan masjid (idarah). Salah satu pengurus masjid, Ustaz H. Muhammad Jazir ASP menjelaskan bahwa dalam penetapan Masjid Jogokariyan sebagai masjid percontohan telah melalui beberapa seleksi. Mulai dari tingkat kecamatan, kota, provinsi, dan tingkat nasional.

Keberhasilan masyarakat setempat dalam mengelola masjidnya tidak terlepas dari pemahaman mereka tentang fungsi dasar dari sebuah masjid. Fungsi tersebut adalah kehadiran masjid harus dirasakan oleh masyarakat. Jadi, Masjid Jogokariyan dikelola oleh masyarakat melalui kegiatan-kegiatan.

Baca juga: Masjid Jogokariyan Jogja Cari Pemilik Nama Muhammad dan Maryam untuk Salat Subuh Berjamaah
(wid)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!