Penjelasan Ustaz Abdul Somad Terkait Hilal Bulan Ramadan
Senin, 13 Maret 2023 - 07:30 WIB
Kementerian Agama akan menggelar Sidang Isbat awal Ramadan 1444 H/2023 M pada Rabu, 22 Maret 2023. Rukyatul hilal akan dilaksanakan di 123 lokasi di seluruh wilayah Indonesia. Foto ilustrasi/SINDO
Penjelasan Ustaz Abdul Somad (UAS) terkait Hilal Ramadan menarik untuk disimak. UAS menjelaskan tema ini dalam buku populernya "30 Fatwa Seputar Ramadhan" yang merujuk fatwa tiga ulama besar Al-Azhar; Syaikh 'Athiyyah Shaqar, Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi dan Syaik Ali Jum'ah.
Di Indonesia, pemerintah biasanya menjadikan Ru'yatul Hilal (pengamatan) sebagai dasar penetapan awal bulan Hijriyah (Qamariyah) seperti Ramadan, Syawal, Dzulhijjah dan bulan lainnya. Metode lain menggunakan Hisab (perhitungan astronomi).
Hilal adalah bulan sabit muda pertama. Biasanya hilal ini diamati pada hari ke-29 dari bulan Hijriyah ketika matahari terbenam. Pengamatan hilal ini untuk menentukan pergantian bulan atau belum.
Dalam Hadis dinyatakan, "Berpuasalah kamu ketika melihat bulan dan berhari rayalah kamu ketika melihat bulan..." Berikut sabda Nabi shollallahu 'alaihi wasallam:
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ قَالَ قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ
Artinya: "Berpuasalah kalian pada saat kalian telah melihatnya (bulan), dan berbukalah kalian juga di saat telah melihatnya (hilal bulan Syawal) Dan apabila tertutup mendung bagi kalian maka genapkanlah bulan Sya'ban menjadi 30 hari." (HR Al-Bukhari 1776 dan Imam Muslim 5/354)
Apakah kata "melihat" di sini boleh diinterpretasikan sebagai melihat secara ilmiah, bukan melihat dengan mata kepala, untuk menyatukan awal bulan Ramadan?
Penjelasan UAS
Terkait hilal Ramadan ini, UAS mengatakan tidak ada kontradiksi antara agama Islam dan ilmu pengetahuan karena Islam sendiri menyerukan ilmu pengetahuan. Dalam masalah ini, Hadis mengaitkan puasa dan hari raya dengan melihat Hilal.
Jika tidak terlihat dengan mata kepala, maka kita menggunakan ilmu pengetahuan. Bimbingan agar menyempurnakan jumlah hari bulan Syaban menjadi 30 hari adalah arahan untuk menghormati Hisab yang merupakan salah satu bentuk ilmu pengetahuan.
Mereka yang mengamati Hilal menggunakan teropong yang merupakan peralatan dari ilmu pengetahuan, juga menggunakan alat-alat pengintai Hilal dan peralatan lainnya. Tema ini membutuhkan pembahasan yang panjang lebar, pembahasan ilmu pengetahuan dan agama, dibahas dalam juz kedua kitab Bayan li an-Nas min al-Azhar asy-Syarif (penjelasan untuk umat manusia dari Al-Azhar yang mulia).
UAS mengemukakan hasil Konferensi Riset Islam ke-III yang dilaksanakan pada 1966:
1. Ru'yah adalah dasar untuk mengetahui masuknya bulan Qamariyyah, sebagaimana yang dinyatakan oleh hadits. Ru'yah adalah dasar, akan tetapi tidak berpedoman kepada Ru'yah jika tidak ada kepercayaan yang sangat kuat.
Di Indonesia, pemerintah biasanya menjadikan Ru'yatul Hilal (pengamatan) sebagai dasar penetapan awal bulan Hijriyah (Qamariyah) seperti Ramadan, Syawal, Dzulhijjah dan bulan lainnya. Metode lain menggunakan Hisab (perhitungan astronomi).
Hilal adalah bulan sabit muda pertama. Biasanya hilal ini diamati pada hari ke-29 dari bulan Hijriyah ketika matahari terbenam. Pengamatan hilal ini untuk menentukan pergantian bulan atau belum.
Dalam Hadis dinyatakan, "Berpuasalah kamu ketika melihat bulan dan berhari rayalah kamu ketika melihat bulan..." Berikut sabda Nabi shollallahu 'alaihi wasallam:
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ قَالَ قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ
Artinya: "Berpuasalah kalian pada saat kalian telah melihatnya (bulan), dan berbukalah kalian juga di saat telah melihatnya (hilal bulan Syawal) Dan apabila tertutup mendung bagi kalian maka genapkanlah bulan Sya'ban menjadi 30 hari." (HR Al-Bukhari 1776 dan Imam Muslim 5/354)
Apakah kata "melihat" di sini boleh diinterpretasikan sebagai melihat secara ilmiah, bukan melihat dengan mata kepala, untuk menyatukan awal bulan Ramadan?
Penjelasan UAS
Terkait hilal Ramadan ini, UAS mengatakan tidak ada kontradiksi antara agama Islam dan ilmu pengetahuan karena Islam sendiri menyerukan ilmu pengetahuan. Dalam masalah ini, Hadis mengaitkan puasa dan hari raya dengan melihat Hilal.
Jika tidak terlihat dengan mata kepala, maka kita menggunakan ilmu pengetahuan. Bimbingan agar menyempurnakan jumlah hari bulan Syaban menjadi 30 hari adalah arahan untuk menghormati Hisab yang merupakan salah satu bentuk ilmu pengetahuan.
Mereka yang mengamati Hilal menggunakan teropong yang merupakan peralatan dari ilmu pengetahuan, juga menggunakan alat-alat pengintai Hilal dan peralatan lainnya. Tema ini membutuhkan pembahasan yang panjang lebar, pembahasan ilmu pengetahuan dan agama, dibahas dalam juz kedua kitab Bayan li an-Nas min al-Azhar asy-Syarif (penjelasan untuk umat manusia dari Al-Azhar yang mulia).
UAS mengemukakan hasil Konferensi Riset Islam ke-III yang dilaksanakan pada 1966:
1. Ru'yah adalah dasar untuk mengetahui masuknya bulan Qamariyyah, sebagaimana yang dinyatakan oleh hadits. Ru'yah adalah dasar, akan tetapi tidak berpedoman kepada Ru'yah jika tidak ada kepercayaan yang sangat kuat.
Lihat Juga :