Kisah Zatu Anwat dalam Perang Hunain, Ketika Umat Islam Meniru Umat Nabi Musa
Rabu, 15 Maret 2023 - 05:15 WIB
Maka bagaimana akan marahnya beliau terhadap orang-orang yang minta pertolongan pada penghuni kuburan atau yang membawa sebagian tanahnya supaya mendapatkan kemenangan.
Berkata Ibnul Qoyyim dalam Ighosatu lahfan: "Apabila menjadikan pohon untuk menggantungkan senjata dan berkumpul di sekitarnya adalah berarti telah menjadikan ilah selain Allah, padahal mereka tidak beribadah padanya dan tidak pula meminta padanya, maka apa kiranya dengan orang-orang yang berkumpul di sekitar kuburan, berdoa di sana dan menyeru kepadanya?"
Baca juga: Kisah Perang Hunain : Sejarah, Strategi, dan Pelajaran untuk Kaum Muslimin
Perang Hunain
Sekadar mengingatkan perang Hunain adalah pertempuran antara pasukan Islam yang dipimpin Nabi Muhammad melawan kaum Badui dari suku Hawazin dan Tsaqif pada tahun 630 M atau 8 H. Perang ini terjadi di salah satu jalan dari Mekkah ke Thaif.
Di saat Perang Hunain, kaum muslim merasa kagum dengan jumlah mereka yang banyak. Tetapi sekalipun demikian, jumlah yang banyak itu tidak memberikan manfaat apa pun bagi mereka, karena pada akhirnya mereka lari mundur, kecuali sebagian kecil dari mereka yang tetap bertahan dengan Rasulullah SAW.
Kemudian Allah menurunkan pertolongan dan bantuan-Nya kepada Rasul-Nya dan kaum mukmin yang bersamanya.
Akhirnya, Perang ini berakhir dengan kemenangan telak bagi kaum Muslimin, yang juga berhasil memperoleh rampasan perang yang banyak. Pertempuran Hunain merupakan salah satu pertempuran yang disebutkan dalam Al-Qur'an yakni Surat At-Taubah ayat 25-27.
Baca juga: Kisah Ali Bin Abu Thalib Mengislamkan Musuhnya di Tengah Perang
Pasukan muslim berhasil menangkap keluarga dan harta benda dari suku Hawazin, yang dibawa oleh Malik bin Auf ke medan pertempuran. Rampasan perang ini termasuk 6.000 tawanan, 24.000 unta, 40.000 kambing, serta 4.000 waqih perak (1 waqih = 213 gram perak).
Pertempuran ini mendemonstrasikan keahlian Ali bin Abi Thalib dalam mengorganisir pasukan dalam keadaan terjepit. Pertempuran ini juga menunjukkan kemurahan hati kaum Muslimin, yang memperlakukan tawanan dengan baik dan membebaskan 600 di antaranya secara cuma-cuma. Sisa tawanan ditahan dalam rumah-rumah khusus hingga berakhirnya Pengepungan Thaif.
Berkata Ibnul Qoyyim dalam Ighosatu lahfan: "Apabila menjadikan pohon untuk menggantungkan senjata dan berkumpul di sekitarnya adalah berarti telah menjadikan ilah selain Allah, padahal mereka tidak beribadah padanya dan tidak pula meminta padanya, maka apa kiranya dengan orang-orang yang berkumpul di sekitar kuburan, berdoa di sana dan menyeru kepadanya?"
Baca juga: Kisah Perang Hunain : Sejarah, Strategi, dan Pelajaran untuk Kaum Muslimin
Perang Hunain
Sekadar mengingatkan perang Hunain adalah pertempuran antara pasukan Islam yang dipimpin Nabi Muhammad melawan kaum Badui dari suku Hawazin dan Tsaqif pada tahun 630 M atau 8 H. Perang ini terjadi di salah satu jalan dari Mekkah ke Thaif.
Di saat Perang Hunain, kaum muslim merasa kagum dengan jumlah mereka yang banyak. Tetapi sekalipun demikian, jumlah yang banyak itu tidak memberikan manfaat apa pun bagi mereka, karena pada akhirnya mereka lari mundur, kecuali sebagian kecil dari mereka yang tetap bertahan dengan Rasulullah SAW.
Kemudian Allah menurunkan pertolongan dan bantuan-Nya kepada Rasul-Nya dan kaum mukmin yang bersamanya.
Akhirnya, Perang ini berakhir dengan kemenangan telak bagi kaum Muslimin, yang juga berhasil memperoleh rampasan perang yang banyak. Pertempuran Hunain merupakan salah satu pertempuran yang disebutkan dalam Al-Qur'an yakni Surat At-Taubah ayat 25-27.
Baca juga: Kisah Ali Bin Abu Thalib Mengislamkan Musuhnya di Tengah Perang
Pasukan muslim berhasil menangkap keluarga dan harta benda dari suku Hawazin, yang dibawa oleh Malik bin Auf ke medan pertempuran. Rampasan perang ini termasuk 6.000 tawanan, 24.000 unta, 40.000 kambing, serta 4.000 waqih perak (1 waqih = 213 gram perak).
Pertempuran ini mendemonstrasikan keahlian Ali bin Abi Thalib dalam mengorganisir pasukan dalam keadaan terjepit. Pertempuran ini juga menunjukkan kemurahan hati kaum Muslimin, yang memperlakukan tawanan dengan baik dan membebaskan 600 di antaranya secara cuma-cuma. Sisa tawanan ditahan dalam rumah-rumah khusus hingga berakhirnya Pengepungan Thaif.
(mhy)
Lihat Juga :