Tradisi Meugang di Aceh, Menyembelih Ayam Juga Sah
Kamis, 16 Maret 2023 - 11:08 WIB
Baca juga: Melihat Tradisi Nyadran Sambut Ramadhan di Desa Bener Semarang
Setelah mendapatkan daging untuk tradisi meugang, pelaksanaan memasak biasanya dimulai dua hari sebelum bulan puasa. Adapun jenis masakan yang akan dimasak tergantung pada kebiasaan daerahnya masing-masing. Di kabupaten Aceh Besar, misalnya, terkenal dengan masakannya Sie Ruboh dan Asam Keueng.
Adapula di Kabupaten Bireun, Aceh Utara, dan Lheoksumawe yang akan memasak kari pada hari meugang. Sementara di Kabupaten Aceh Barat akan memasak daging menjadi gulai merah.
Selain dilaksanakan guna menyambut bulan Ramadan, tradisi ini juga berfungsi sebagai acara untuk rekreasi ke laut ataupun ke sungai bersama warga dengan membawa makanan yang telah dimasak. Fungsi lainnya dari tradisi meugang adalah sebagai ajang kumpul keluarga.
Tradisi Meugang bukanlah tradisi murni yang berasal dari Islam. Kamaruzzaman dalam bukunya berjudul "Syariat Islam sebagai Living Tradition" menyebut tradisi ini lahir disebabkan oleh munculnya agama Islam di Aceh.
Terdapat dua penyebab tradisi ini termasuk ke dalam tafsir agama yakni meugang dilaksanakan sebelum bulan puasa, saat Idul Fitri dan Idul Adha serta meugang dijadikan sebagai ajang untuk bersedekah.
Baca juga: 4 Tradisi Warga Betawi Sambut Ramadhan, Nomor Terakhir Punah Tergilas Modernisasi
Tradisi meugang dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur dan senang orang-orang Aceh atas datangnya bulan Ramadan dengan memakan makanan yang enak yakni daging, serta sebagai ajang untuk berbagi makanan khususnya daging kepada mereka yang mungkin jarang atau hanya memakan daging saat hari meugang saja.
Biasanya acara berbagi makanan dalam tradisi meugang ini dilangsungkan dengan mengundang anak-anak yatim, fakir miskin, para janda, dan orangtua jompo yang berasal dari kampung masing-masing. Daging yang sudah dimasak dihidangkan dengan menu masakan lainnya. Adapun waktu pelaksanaan undangan makan bersama biasanya dilakukan pada waktu makan siang ataupun makan malam.
Setelah mendapatkan daging untuk tradisi meugang, pelaksanaan memasak biasanya dimulai dua hari sebelum bulan puasa. Adapun jenis masakan yang akan dimasak tergantung pada kebiasaan daerahnya masing-masing. Di kabupaten Aceh Besar, misalnya, terkenal dengan masakannya Sie Ruboh dan Asam Keueng.
Adapula di Kabupaten Bireun, Aceh Utara, dan Lheoksumawe yang akan memasak kari pada hari meugang. Sementara di Kabupaten Aceh Barat akan memasak daging menjadi gulai merah.
Selain dilaksanakan guna menyambut bulan Ramadan, tradisi ini juga berfungsi sebagai acara untuk rekreasi ke laut ataupun ke sungai bersama warga dengan membawa makanan yang telah dimasak. Fungsi lainnya dari tradisi meugang adalah sebagai ajang kumpul keluarga.
Tradisi Meugang bukanlah tradisi murni yang berasal dari Islam. Kamaruzzaman dalam bukunya berjudul "Syariat Islam sebagai Living Tradition" menyebut tradisi ini lahir disebabkan oleh munculnya agama Islam di Aceh.
Terdapat dua penyebab tradisi ini termasuk ke dalam tafsir agama yakni meugang dilaksanakan sebelum bulan puasa, saat Idul Fitri dan Idul Adha serta meugang dijadikan sebagai ajang untuk bersedekah.
Baca juga: 4 Tradisi Warga Betawi Sambut Ramadhan, Nomor Terakhir Punah Tergilas Modernisasi
Tradisi meugang dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur dan senang orang-orang Aceh atas datangnya bulan Ramadan dengan memakan makanan yang enak yakni daging, serta sebagai ajang untuk berbagi makanan khususnya daging kepada mereka yang mungkin jarang atau hanya memakan daging saat hari meugang saja.
Biasanya acara berbagi makanan dalam tradisi meugang ini dilangsungkan dengan mengundang anak-anak yatim, fakir miskin, para janda, dan orangtua jompo yang berasal dari kampung masing-masing. Daging yang sudah dimasak dihidangkan dengan menu masakan lainnya. Adapun waktu pelaksanaan undangan makan bersama biasanya dilakukan pada waktu makan siang ataupun makan malam.
(mhy)
Lihat Juga :