Memaknai Keberkahan Ramadan (9): Semua Waktu Bernilai Ibadah

Senin, 03 April 2023 - 05:05 WIB
Imam Shamsi Ali, Dai yang juga Direktur Jamaica Muslim Center dan Presiden Nusantara Foundation. Foto/Ist
Imam Shamsi Ali

Direktur Jamaica Muslim Center,

Presiden Nusantara Foundation

"Waktu itu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya, waktulah yang memotongmu." (Ali bin Abi Thalib)

Jika dalam cara pandang kaum Barat waktu itu adalah uang (time is money). Justru dalam Islam waktu itu adalah hidup. Kehidupan manusia hanya bingkaian waktu. Setiap rentang waktu berlalu dari seseorang berlalu pula hidupnya.

Begitu berharganya waktu sehingga Allah beberapa kali dan dalam ragam format bersumpah dengan memakai waktu. "Demi masa (wal-'ashri), demi Dhuha, demi malam." Hanya sebagian dari sumpah-sumpah Allah yang tertuliskan dalam Al-Qur'an.

Jika berbicara tentang pertanggung jawaban ukhrawi sesungguhnya waktulah yang kemudian menjadi rujukannya. Karena setiap detik, menit, jam, hari dan setiap jenjang waktu itu akan dipertanggung jawabkan penggunaannya.

Positifkah atau negatifkah? Manfaatkah atau sebaliknya justru waktu telah dipergunakan untuk hal-hal yang sia-sia bahkan mudhorat.

Waktu untuk setiap orang sama. Semua manusia diberikan 24 jam sehari semalam, 7 hari sepekan. Namun nilai dari waktu yang dikaruniakan bukan pada berapa lamanya. Justru nilainya ada pada bagaimana penggunaannya. Orang lain biasa menyebutnya dengan "quality time."

Pada aspek urgensi waktu dan upaya memaksimalkan waktu yang Allah karuniakan Ramadan hadir menjadi keberkahan tersendiri. Di bulan Ramadan ini tidak satu jenjang waktu sekecil apapun, kecuali penuh dengan keberkahan (keutamaan dan kebaikan).

Sejak seorang Mukmin bangkit menjelang Subuh Allah telah nilai dengan penilaian ibadah. Seorang Ibu yang memasak dan mempersiapkan santapan sahur memiliki nilai keberkahannya. Hingga setiap orang yang makan sahur dengan niat berpuasa diberikan keberkahan yang sangat tinggi. Bahkan sahur memiliki keberkahan tersendiri sebagaimana dijanjikan Rasulullah SAW.

Suasana Ramadan juga tentunya memiliki suasana ubudiyah yang khusus. Karenanya seseorang yang bangun untuk sahur tidak melewatkan begitu saja. Sholat sunnah menjelang fajar menjadi salah satu keberkahan Ramadan yang dahsyat.

Maksimalisasi waktu terus terjadi dari sholat fajar, dzikir subuh, bahkan ketika seorang shooim (orang berpuasa) berangkat ke tempat kegiatan (kerjaan) masing-masing. Semuanya membawa keberkahan yang dilipat gandakan. Sholat-sholat sunnah, termasuk Dhuha, hajat, maupun dzikir-dzikir harian dilipatgandakan dalam pahala.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!